13
Sun, Jun

Top Stories

Grid List

TIBYAN.ID – Ketua DPRD Kota Bekasi Chairoman J. Putro menyambut baik rencana walikota Bekasi yang bertekad akan membiayai penyelesaian pembangunan Masjid Nurul Islam KH Noer Alie, Islamic Centre Bekasi.

Dalam dua tahun mengakhiri masa kepemimpinannya sebagai walikota Bekasi, Rachmat Efendi bertekad akan menyelesaikan pembangunan masjid Islamic Centre. “Tentunya kami akan mendukung rencana itu,” kata Chairoman saat menerima kunjungan pengurus Islamic Centre.

Pengurus Islamic Centre dipimpin ketuanya, Drs. H. Paray Said bersilaturrahmi ke kantor ketua DPRD Kota didampingi ketua pembangunan masjid dan beberapa pengurus. Kunjungan kali ini adalah memberitahukan rencara walikota tersebut yang pernah disampaikan langsung kepada Paray Said.

Dalam perbincangan dengan pengurus Islamic, Chairoman kembali menyampaikan keprihatinannya tentang masjid Islamic yang semestinya bisa menjadi iconic Kota Bekasi. Adanya dijantung kota Bekasi semestinya memang Islamic Centre sudah menjadi bagian terindah dari kota ini.

Karena itu tekad untuk menyelesaikan pembangunan masjid ini akan didukung dan tentunya ini menjadi tanggungjawab semua pihak. Tidak hanya Islamic, Pemkota dan DPRD, tapi seluruh masyarakat muslim kota Bekasi bisa berkontribusi sesuai kapasitas masing-masing.

Kepada Media, Drs. Paray Said mengaku bergembira dengan sikap walikota ini. Bahkan sejauh ini, Islamic Centre memang sudah berbenah, diantaranya telah selesainya sertifikasi tanah Islamic dan beberapa rencara besar yang akan dijadikan pedoman pengembangan Islamic.

Misalnya dalam master plan yang sudah dibuat, selain masjid yang akan diselesaikan, pihak Islamic juga telah disepakati oleh walikota untuk bisa membuka kerjasama dengan pihak ketiga. Dengan bekal itu memungkinkan di Islamic Centre KH Noer Alie ini akan dibangun beberpa gedung komersial.

Di dalam master plannya ada rencana dibangun Hotel Syar’ie, pusat perkantoran, sekolah, taman rekreasi keluarga, pusat perbelanjaan dan sejenisnya. Bersama pihak ketiga semua itu memungkinkan untuk diwujudkan. Era baru Islamic Centre akan dimulai dan kelak akan menjadi ikonnya kota Bekasi. Insya Alloh. (*)

TIBYAN.ID - Forum Ummat Islam Bekasi, menuntut dibebaskannya Habib Rizieq Syihab, beserta seluruh tahanan politik.

Tuntutan itu disampaikan kepada Ketua DPRD yang didampingi Fraksi PKS dan PAN di ruang rapat DPRD kota Bekasi, jl. Chairil Anwar, kota Bekasi Kamis ( 25/3).

Para Ulama asatidz yang ikut hadir dalam penyampaian tuntutan FUIM agar pimpinan dan anggota dewan berani menyampaikan tuntutan umat ke pihak yang berwenang. " Kami menghargai anggota dewan yang dipilih rakyat. Itu sebabnya kami datang ke DPRD ini. Karena kami diajari akhlak. Bisa saja tuntutan ini kami sampaikan lewat orasi dan demo. Tapi kami memilih datang kesini karena disini ada wakil rakyat" Papar ustadz Veri Sutanto, pada pengantar dialog tersebut.

Para ulama dan asatidz di Bekasi mengecam penahanan Habib Rizieq Syihab ulama dan tokoh yg kritis.

Paling tidak ada dua tuntutan penting yang disampaikan yaitu pertama; hentikan kriminalisasi terhadap orang orang yang mengkritik dan berbeda pendapat dengan pemerintah. Kedua , Bebaskan para tokoh agama dan tokoh nasional yang saat ini ditahan serta menghentikan proses hukum tanpa syarat terhadap tokoh-tokoh diantaranya:

1. Habib Riziq Syihab
2. KH. Ahmad Shabri Lubis
3. Habib Hanif Al Attas
4. Ust. H. Haris Ubaidillah
5. Habib Idrus Al Habsy
6. Habib Ali bin Alwi Al Attas
7. Ust. Maman Suryadi
8. DR. Syahganda Nainggolan
9. Jumhur Hidayat
19. KH. Sugih Nur Raharja (Gus Nur)
11. Anton Permana
12. Ustadzah Kingkin Anida.

Mereka itu hingga kini masih mendekam dalam tahanan.

Penyampaian tuntutan tersebut berbeda dari yang lazim terjadi di DPRD, kalau ini semua ulama asatidz tidak diperkenan masuk ke dalam ruang rapat sebelum menjalani swab. Dan setiap orang hrs menuliskan nama serta no hp dibawah pengawasan petugas polisi. Setidaknya ada 50 ulama, asatidz, asatidzah, yg diswab untuk ikut menyampaikan tuntutan.

Usai menyampaikan tuntutan, ketua DPRD Chairoman J Putro, memberikan waktu kepada anggota DPRD yang hadir untuk menyampaikan pendapatnya. dan acara ditutup dengan pembacaan pernyataan tuntutan yang diikuti oleh ketua DPRD dan anggota dewan. ### Imran

TIBYAN.id - Ketua DPD PKS Kota Bekasi Heri Koswara dan rombongan, Selasa (16/3), bersilaturrahmi ke pengurus pengurus MUI Kota Bekasi yang dipimpin KH Mir’an Syamsuri. Suasana pertemuan berlangsung akrab dan penuh persaudaraan.
 
“Ini luar biasa,  kita kedatangan petinggi PKS Kota Bekasi yang diketuai Bapak Herry Koswara,” ujar Mir’an Syamsuri.
 
Dalam beberapa pekan terakhir ini, DPD PKS Kota Bekasi dibawah kepemimpinan Heri Koswara terus menjalin silaturrahmi ke berbagai elemen masyarakat. Misalnya bersilaturrahmi ke pengurus ICMI Kota Bekasi, ke Pengurus Islamic Centre, pengurus BKMT dan sebagainya.
Sebagai partai yang mengusung banyak program dakwah, PKS memang mengagendakan kegiatan silaturrahmi khususnya menjelang Ramadhan. 
 
Semakin Akrab
 
Dalam sambutan awalnya Sekum MUI Kota Bekasi Hasnul Kholid Pasaribu mengatakan,  antara MUI dan parpol, khususnya PKS, membuat kita semua semakin akrab.
 
“Kami pengurus ada dewan pengurus dan ada juga dewan pertimbangan untuk pengurus lima tahun ke depan. Kami memang masih dapat anggaran dari APBD. MUI berkantor di islamic center yang bentar lagi pindah ke kantor Kemenag Kota Bekasi,” kata Hasnul.
 
Dijelaskannya, brand program MUI Kota Bekasi ada 12, salah satunya PKU (Pendidikan Kader Umat) yang biayanya sangat besar dan akhirnya bisa mencari dana dari luar. “Selain program itu ada juga kristologi,  mualaf dan lainnya,” tegasnya.
 
Sedangkan Herry Koswara mengaku sangat bersyukur bisa berkunjung ke MUI Kota Bekasi.  Dia pun menyampaikan tujuan kedatangan kali ini.
“Pertama,  silaturahim.Ya, PKS Kota Bekasi baru dilantik dua bulan lalu dan kami terus ingin silaturahim dan berusaha berkolaborasi membangun Kota Bekasi. Kemudian,  yang kedua kami ingin bersama-sama diajak membangun Kota Bekasi yang lebih baik ke depan, misal bagaimana pendidikan PKU di mana kami belum dilibatkan,” urainya.
 
Ketiga, sebagai anggota DPRD Jabar bisa membawa sesuatu ke Jabar dari MUI Kota Bekasi,  misal: kewajiban membantu kelembagaan di Kota Bekasi. Dan terakhir, dalam rangka menghilangkan stigmatisasi partai PKS sebagai partai keagamaan.  (zas)
 

TIBYAN.ID - Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas memastikan bahwa pemerintah tidak memberangkatkan jamaah haji Indonesia 1442 H/2021 M. Menurutnya, di tengah pandemi Corona Virus Disease-19 (Covid-19) yang malanda dunia, kesehatan, dan keselamatan jiwa jemaah lebih utama dan harus dikedepankan.

“Karena masih pandemi dan demi keselamatan jamaah, Pemerintah memutuskan bahwa tahun ini tidak memberangkatkan kembali jemaah haji Indonesia,” tegas Menag dalam telekonferensi dengan media di Jakarta, Kamis (3/6).

Hadir juga, Ketua Komisi VIII DPR Yandri Susanto, serta sejumlah perwakilan dari Kemenkes, Kemenlu, Kemenhub, BPKH, Asosiasi Penyelenggara Haji dan Umrah, Forum Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah, serta perwakilan dari MUI dan Ormas Islam lainnya.

 

Sumber: Republika

 

TIBYAN.ID -- KH. Salimin Dani, ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), Kota Bekasi,  mengatakan jika Heri Koswara, ketua DPD PKS Kota Bekasi, mengunjunginya sama artinya Heri sedang pulang ke rumahnya sendiri. 
 
Artinya Salimin yang pernah jadi politikus PBB dengan teman-teman PKS adalah berasal dari ruh politik yang sama.
 
"bukan hanya PBB, tapi PAN dan PKS lahir dari tempat yang sama," begitu kata Salimin.
 
Selasa, 25 Mei 2021 kemaren Bang Heri didampingi timnya bersilaturrahmi ke kediaman Salimin. Pertemuan berjalan begitu cair. KH. Salimin pun menunjukkan kematangannya sebagai ulama yang pernah jadi politikus. 
 
Masukan dan saran-sarannya untuk Heri Koswara terasa seperti oase yang bisa menyejukkan, beberapa saran dari beliau :
1. Perkuat jaringan di tingkat RT/RW, dan jangan segan untuk ikut terlibat dalam pemilihan ketua RT atau RW
2. Perkuat silaturahim keseluruhan elemen masyarakat
3. Pemetaan organisasi/lembaga yang mendukung
4. Pertemuan lanjutan dengan seluruh pengurus Dewan Dakwah untuk diskusi
 
Heri salah satu kader PKS yang diminta Presiden PKS untuk bersosialisasi untuk kandidat bakal calon walikota Bekasi. Dan Salimin pun mendukung sekaligus memanjatkan doa untuk cita cita itu.(imran)

TIBYAN.ID - Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat,  H Heri Koswara,  MA mengatakan para pelaku industri kecil dan menengah hendaknya bisa terus meningkatkan wawasan dan pengetahuan tentang registrasi pangan olah dan mendaftarkannya ke BPOM. 
 
Dengan begitu selain akan ada peningkatan kualitas produk,  dalam persaingan market tantangan pangan olahan yang sudah baik akan lebih mudah lagi diterima masyarakat. 
 
Dalam kesempatan sama, Heri Koswara mendampingi Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan Anggota Komisi IX DPR-RI F.PKS Netty Heryawan melaksanakan kegiatan Pemberdayaan Masyarakat melalui Komunikasi, Informasi dan Edukasi bersama Tokoh Masyarat di Kota Bekasi, Rabu 8 April 2021 di Aula KH. Noer Alie Islamic Centre Bekasi. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan kepada pelaku usaha tentang registrasi pangan olahan. 
 
Melalui kegiatan ini pelaku usaha didorong untuk memenuhi persyaratan registrasi Pangan olahan sehingga meningkatkan kesehatan masyarakat dan daya saing Usaha bidang pangan di Provinsi Jawa Barat. Dengan standar prokes kegiatan ini dihadiri oleh 40 orang peserta terdiri dari pelaku usaha industri Pangan Olahan dan anggota DPRD Provinsi Jawa Barat dari Fraksi PKS, Heri Koswara. 
 
Heri Koswara berharap dengan adanya sosialisasi ini, pelaku usaha yang ada di Kota Bekasi dapat meningkatkan pengetahuan tentang registrasi pangan olahan sehingga dapat mendaftarkan pangan olahannya untuk mendapatkan nomor izin Edar Badan POM RI. 
 
"Mandiri secara ekonomi dan tetap prima ditengah badai covid-19, saya mendukung dan semoga kegiatan ini dapat menjadi solusi kebangkitan UMKM ditengah pandemi" ungkap Heri Koswara yang juga merupakan Ketua DPD Partai Keadilan Sejahtera Kota Bekasi.

Foto : DR KH Aiz Muhajirin(TIBYAN/Yazid)

Wawancara

TIBYAN.ID - DR KH Aiz Muhajirin, putra bungsu KH Muhajirin, kini menjadi pemegang tampuk masa depan pesantren An Nida Al Islamiy yang dibangun KH Muhajirin ayahnya. Bersama Uminya yang sudah sepuh, Aiz kini menjadi orangtua ratusan santri yang mukim. Kepada tibyan.id Aiz hanya berujar singkat; “saya mendapat amanat meneruskan tanggungjawab dari orangtua dan keluarga,” begitu katanya.

tibyan.id : Sebagai pesantren yang ada di tengah kota, An Nida Al Islamiy tampaknya menjadi semakin terhimput oleh pertumbuhan kota. Baik dari sisi bangunan fisik maupun dari sisi kehidupan. Bagaimana An Nida akan bisa terus bertahan di masa yang akan datang?

Aiz Muhajirin: Tidak mudah memang mengelola dan mengurusi santri di tengah tengah kota. Selalu ada saja gemerlap kota yang terdengar dan terlihat sampai ke dalam pondok. Karena itu secara opersonal Pondok menertibkan struktur pengelolaannya. Ada lurah pondok. Dia yang sehari hari berinteraksi dan mengurusi persoalan santri pondok. Dibawah lurah ada ketua ketua asrama. Mereka saling berkordinasi mengenai keberadaan siswa satu persatu. Detail dan harus tegas.

Lalu lalang siswa, keluar masuk asrama, bagaimana bisa diawasinya?

Ya. Perizinan santri itu diberikan oleh pengurus asrama. Security mengizinkan keluar atau tidak tergantung perizinannya itu. Security kita siap siaga selama 24 jam. Namun, baik security maupun petugas asrama, semua memakai pendekatan kependidikan.

Ada istilah lama, pondok itu ibaratnya penjara suci

Saya dan pengurus terus mengevaluasi pendekatan yang kita pakai. Kita gak bisa lagi menerapkan aturan secara kaku. Kita pertinggi pendekatan kemanusiaannya. Ini seninya. Bagaimana disiplin tetap berjalan tapi pendekatannya tetap humanis. Ini tantangannya.

Pesantren di tengah kota seringkali terancam oleh godaan mall yang menjamur disekitarnya. Bioskop. Atau aneka gemerlap kota. Sulit juga mengendalikan santri yang umumnya anak anak remaja yang sedang seneng senengnya bermain.

Mall dan bioskop sudah bukan lagi tantangan apalagi ancaman. Anak anak sudah tidak lagi seneng bermain di mall. Tapi gadget, permainan games atau warnet. Ini justru yang menjadi ancaman. Kalau kurang hati hati kita bisa ditinggal anak anak. Tapi terlalu keras melarangnya anak anak juga bisa kabur. Jadi itu, bagaimana pengelola asrama menjadi petugas yang memang mereka butuhkan. Ini gak gampang memang.

Di Annida, pondokan santri dengan sekolah formalnya agak jauh. Dari Jalan Juanda ke Kampung Mede. Dalam perjalanan apa tidak terjadi distorsi?

Ini memang unik. Kalau pagi, siswa fokus ke sekolah. Dari Asrama biasanya terus segera ke sekolahnya. Karena mereka takut terlambat. Jadi perginya aman aman saja. Pulangnya ini ada juga terjadi gangguan. Ya gangguan kecil. Kadang mampir dulu, ada saja kebutuhan. Entah beli makanan untuk kebutuhan buka puasa. Ada beli kebutuhan harian di asrama. Namun tetap pihak asrama dan security memonitornya. Karena menjelang ashar mereka sudah diabsen lagi. Saat itu semua harus sudah siap sholat ashar di masjid.

Annida itu dulu dikenal sebagai pesantren salaf. Bisa jadi itu karena kiyainya yang banyak menulis hadits bahkan buku tasawuf. Sekarang apa masih di jalur itu kiyai?

Kami mengembangkan pendidikan sesuai dengan perkembangan jaman. Ada sekolah umum, yakni Tsanawiyah dan Aliyah. Itu di kampus 2 yang di Kampung Mede. Di kampus 3 insya Alloh akan difokuskan pada sekolah kejuruan. Ini adalah sekolah sekolah yang didirikan seiring dengan kebutuhan masyarakat. Lalu bagaimana dengan ciri khasnya sebagai pesantren, mereka yang sekolah bisa mondok di sini, yakni di kampus I di Jl Juanda. Mereka mondok disini dengan mengikuti program pesantren khusus. Berbagai kitab agama dibahas di sini.

Perimbangannya lebih banyak yang mana antara siswa yang mondok dengan yang tidak?

Ya, jelas yang mondok lebih sedikit. Tapi mereka disini mengikuti program pondok dengan membaca kitab kitab kuning, termasuk kitab kitab yang ditulis Syeikh Muhajirin.

Kalau dominan pada sekolah sekolah umum dan kejuruan, bisa jadi lama lama Annida akan meninggalkan tradisi pesantren?

Bukan begitu. Sebuah sekolah membina sesuai dengan bakat dan minat santrinya. Tidak semua siswa bisa dekati sebagai calon kiyai yang belajar kitab kuning dan ilmu ilmu agama. Karena tidak semua punya kapasitas menjadi kiyai. Tapi tentunya ada yang mampu, punya kapasitas dan memang berminat jadi kiyai. Dan mereka inilah yang diberikan haknya, tinggal di pondok, usai melakukan kegiatan sekolah mereka mendalami kitab kitab khusus. Untuk siswa yang jenjang Tsanawiyah dan Aliyah, kitab kitab mereka fokus pada satu mazhab fiqh, yakni Syafiiyah.

Saat ini lebih dari 300 siswa yang mengikuti program pondok ini. Untuk yang lanjutan, yakni yang sudah tingkat sekolah tinggi, mereka mendalami 4 mazhab fikh. Ini kajian yang lebih mendalam. Mereka inilah yang akan menjadi ulama dan kiyai. Mengapa Annida juga lebih banyak pada sekolah umum seperti Tsanawiyah dan Aliyah dan akan dibangun kejuruan, karena kebutuhan real. Mereka butuh lanjutan untuk kuliah dibidang yang sesuai kebutuhan jaman. Atau mereka butuh segera bisa akses ke lapangan kerja.

Program khusus Marhalah Al Ulya sudat jadi Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah ?

Betul. Inilah yang saya maksud penyesuaian dengan tuntutan zaman. Ketika kita harus menyesuaikan diri dengan perkembangan, maka kita perlu berkorban. Kita mengikuti ketentuan legal untuk sebuah sekolah tinggi. Namun, sebagai program takhassus kajian empat mazhab dan kitab kuningnya terus. Yakni buat mereka yang mondok dan tidak pada mahasiswa yang tidak mondok. (abubagus)

TIBYAN. ID – Satu dari sedikit orang yang pertama mendampingi Arifin Ilham mengadakan zikir jama,ie adalah H Khotib Kholil, ketua ikatan warga Mampang Indah 2. Saat itu tahun 1997 dari beberapa lokasi terbatas, mereka berzikir berpindah pindah sesuai jadwal. Selain Khotib ada juga nama Aminulloh Thoyyib Nafis ketua Masjid Amru Bittaqwa dan ada juga Ust Abdul Syukur. Bahkan ustad Abdul Syukurlah yang mensosialisasikan jadwal zikir itu ke republika dengan mengantarnya sendiri. 
 
Khotib Kholil memang telah dipersiapkan matang oleh Arifin Ilham. Sejak sebelum “kepergiannya”, Khotib telah diangkat menjadi Ketua Yayasan Azzikra. Seakan melakukan kaderisasi, Arifin Ilham terus menuangkan ide, gagasan, rencana dan bahkan mimpi mimpinya tentang Azzikra kepada Khotib. Dan Khotib pun menjadi tak banyak kesulitan dalam menjalani tugasnya sebagai ketua Yayasan. 
 
Kini sepeninggal Murobbi (panggilan buat Almarhum Arifin Ilham), Khotib merasa terguncang. Tugas ini terlalu besar, bebannya pun teramat berat. Kalau kemarin bisa berbagi, misalnya yang mikir adalah Arifin Ilham yang mengeksekusi Khotib. Kini Khotib mengaku harus kerja ekstra. 
 
Pekan silam, Amin Idris dari Tibyan.id sempat bersilaturrahmi ke Azzikra, diterima ketua Yayasan Azzikro, H Khotib Kholil yang didampingi HM Jais S.Sy,M.E Kabag Marketing Yayasan. Berikut petikan perbincangan;
 
Delapan bulan sudah kepergian KH Arifin Ilham. Suasana duka dan luka hati karena kehilangan sudah mulai terobati tampaknya?
 
H Khotib Kholil: Meski besar cinta kami kepada Murobbi, ya kami harus bisa merelakannya. Namun yang terasa sebagai amanat, sebagai wasiat, sebagai tugas adalah meneruskan peninggalan yang telah dirintisnya. Azzikra adalah warisan yang tak bisa diabaikan begitu saja. Azzikra harus berkembang meski telah ditinggal pendirinya. 
 
Ukuran paling sederhana adalah jamaah. Bagaimana dengan jamaah Zikir Akbar, ritual bulanan yang biasanya dihadiri ribuan jamaah dan sampai menutup parkiran ke depan Bellanova? Apa yang kami lihat saat ini sih tak sebanyak dulu lagi?
 
Sejujurnya, Zikir Akbar memang berkurang jamaahnya. Penurunannya hamper sekitar 30 atau 40 persen. Itu hal yang wajar karena selama ini mereka datang dan berzikir bersama sang Murobbi. Dari berbagai penjuru negeri, dari kota kota yang jauh mereka mencari berkah zikir bersama Arifin Ilham. Kini ketika beliau telah tiada, maka jamaah dari luar kota memang yang paling banyak mengalami penurunan.
 
Tapi, Zikir Akbar itu tetap dilaksanakan rutin setiap bulan ?
 
Oh ya tentunya. Jadwal rutin tidak berubah, terus dilakukan tidak terputus. 
 
Adakah perbedaan pelaksanaannya setelah Murobbi tiada?
 
Zikir Akbar saat ini dipimpin duet Ustad Abdul Syukur dengan putra beliau, yakni Ustad Alfin dan Ustad Amer kakak beradik putra Arifin Ilham. Seringkali mereka bertiga yang menggelar zikir. 
 
Kharismanya tentu tidak sama dengan saat dibimbing Murobbi?
 
Ya pastinya begitu. Bagi Azzikra ini adalah tadribat untuk Alfin dan Amer. Namun dengan pendampingan Ustad Abdul Syukur, insya Alloh kharisma zikirnya masih dapat. Karena Ustad Abdul Syukur memang orang yang dikader sejak pertama. Beliau mendapingi sejak hari pertama zikir jama’ie KH Arifin Ilham.
 
Untuk penyesuaian, Azzikra pun mengubah formasi Zikir itu. Yakni setiap bulan kami mendatangkan tokoh tokoh besar. Misalnya Aa Gym, KH Didin Hafiduddin, Ustad Adhi Hidayat, KH Abdul Shomad dan berbagai tokoh besar lainnya. Mereka kami undang, tentunya bersama pencinta beliau yang akan ikut hadir. Jadi, kalau selama ini Zikir Akbar itu mengandalkan kharisma Murobbi, kini kita membawa kharisma ulama, kiyai atau tokoh yang kami undang sambil membangun dan melatih kharisma kader yang sedang dipersiapkan.
 
Di sisi lain, perubahan tampak juga di segmentasi jamaah. Kalau sebelumnya, bersama Murobbi jamaahnya serentak, seusia, dengan seragam putih putih semerbak, kebanyakan adalah orang tua, kini kebanyakan generasi millennial, anak anak muda, dengan penampilan yang sedikit berbeda dengan generasi awal jamaah Zikir Akbar. Itualh sebuah proses perubahan yang sedang terjadi.
 
Selain Zikir Akbar peninggalan Murobbi yang masih dilestarikan ?
 
Kultur yang dibangun di Sentul ini adalah peradaban. Lihat saja, tradisi itu masih terus pertahankan bahkan dikembangkan. Misalnya Kampung Sunnah, tradisi memanah, berkuda, cara berpakaian dan sebagainya.  Itu Alhamdulillah masih tetap lestari. Bahkan sedikit banyak terus ditingkatkan. Misalnya, ada mobil yang terus berkeliling di kawasan Kampung Sunnah untuk antar jemput penghuninya yang akan bolak balik ke masjid. Ada berbagai tradisi lain yang unik bila dipilah satu persatu. Misalnya, tradisi buka puasa sunnah bersama setiap Senin Kamis di masjid. Ada juga Halaqoh Subuh yang diadakan setiap pagi. Ada sarapan pagi setiap Rabu. Kalau hari Jumat ada istilahnya jumat berkah, yakni ada makan siang gratis. Dan setiap Malam menjelang Zikir Akbar, semua kamar penginapan masih tetap full book. Bahkan lihatlah, beberapa masih ada yang terus membangun penambahan kamar sewaan mereka. Itu pertanda optimis, Azzikra masih akan terus berkembang.
 
Lalu apa yang paling urgen bagi pengurus dalam mengemban amanah ini?
 
Ini amanah yang tidak ringan. Tanggungjawab ini baru bisa ringan jika dipikul bersama. Karena itu, prioritas bagi strategi pengembangan adalah merajut kembali networking yang selama ini telah dibangun. Baik di dalam negeri maupun di luar. Kata Murabbi, mari kita rajut terus benang tasbih yang sudah terbentuk. Networking yang harus diperkuat.
 
Saya melihat dinding depan masjid sudah diperindah, di sudut sudut tertentu ada beberapa perubahan dan perbaikan. Terasa ada progress positif?
 
Tahapan shock karena ditinggal sudah harus kami lewati. Kemudian bersama keluarga, kami juga telah menyelesaikan fase posisioning. Alhamdulillah, itu berjalan dengan sangat baik. Kini kami sedang merampungkan system yang sesuai dengan ide ide besar Murobbi. Karena itu, beberapa bagian yang kecil kecil, seperti keindahan masjid, transportasi internal, jalan jalan terus mengalami perbaikan kecil kecilan.
 
Adakah perubahan yang ekstrem ?
 
Tidak perlu lah. Kita sudah terbekali dengan visi dan misi yang jelas. Perubahan yang dilakukan agar visi dan misi itu bisa terwujud lebih sempurna dan daya jangkau lebih optimal agar dakwah bisa lebih syiar lagi. Di bidang media, kami sudah punya tv kerjasama dengan tv Al Bahjah. Bahkan kami juga sedang membangun mini studio yang menampilkan semua kenangan tentang Murobbi, termasuk catatan dan rekaman beliau. Kelak ini akan menjadi media centre tempat memancarkan dakwah secara lebih luas lagi. Intinya, kami sedang menuju ke sebuah cita cita menjadikan Azzikra sebagai destinasi wisata religi yang tidak layak untuk dilewatkan. (aminidris)
 
 

Ade Ardiansyah (kanan) bersama Walikota Bekasi Rahmat Effendi(kiri)

Wawancara

TIBYAN.ID - Ade Ardiansyah, notaris yang dikenal public sebagai pihak yang memberi perhatian serius pada koperasi, khususnya di Kota Bekasi. Menurutnya di era sekarang, saatnya kita membangun perekonomian berbasis koperasi. Dan yang paling kongkret, membangun koperasi berbasis masjid. Kepada Gubernur Jawa Barat dan kepada Jusuf Kalla saat masih menjabat Wakil Presiden, Ade banyak mendiskusikan upaya membangun perekonomian umat berbasis koperasi masjid.

Berikut perbincangan Tibyan.id kepada Ade Ardiansyah sebagai ketua Pembangunan Masjid Nurul Islam Islamic Centre Bekasi dan juga ketua Ikatan Pejabat Pembuat Akte Tanah (IPPAT) Kota Bekasi.

SatuUmat : Anda dikenal sebagai notaris yang specialized pada persoalan koperasi?

Ade Ardiansyah : Notaris itu tidak spesialis. Kalau kemudian orang menganggap saya ekspert dalam hal legalitas koperasi dan sejenisnya bisa jadi karena memang saya memberi perhatian khusus pada masalah koperasi.

Apa yang paling menarik dari koperasi?

Koperasi itu karakter eknonomi bangsa kita. Bung Hatta telah menanamkan ini dan bahkan mencantumkan legalitas di dalam UUD45. Seharusnya, koperasi lah yang menjadi panglima pembangunan perekonomian bangsa Indonesia. Koperasi seharusnya menjadi lembaga ekonomi yang membanggakan. Selain punya landasan hukum yang kuat, koperasi sangat cocok dengan kehendak dan upaya mensejahterakan masyarakat.

Apa yang paling membanggakan itu? Bukankah selama ini koperasi masih ditempatkan sebagai lembaga perekononian kelas rendahan. Sulit untuk membawa kemajuan yang bisa menggerakkan capital besar.

Koperasi lembaga ekonomi yang bisa mensejahterakan orang banyak. Kapitalisasi koperasi ada di tangan anggotanya. Kalau koperasi maju berarti yang kaya dan sejahtera adalah anggotanya. Ini beda dengan badan hukum lain, misalnya Perseroan Terbatas (PT), itu adalah lembaga dengan kepemilikan personal. Sehingga kalau PT itu tumbuh besar maka yang kaya ya pemilik modalnya saja. Itulah saya katakan koperasi adalah model pererkonomian yang membanggakan.

Kalau saya mau sebutkan sudah begitu banyak model bisnis sejenis koperasi yang maju dan besar di berbagai dunia. Tapi di Indonesia, koperasi memang masih diletakkan di level rendah, masih dianggap hanya bisnis kecil kecilan.

Dimana sih kendalanya sampai saat ini Koperasi masih menjadi lembaga bisnis yang ada di lini belakang?

Image masa silam masih terbawa bawa. Namun saya yakin, dalam kurun beberapa tahun kedepan koperasi akan menjadi soko guru perekonomian bangsa kita yang paling realistis. Lihat saja, semangat pemerintah untuk memajukan ini tidak setengah - setengah. Berbagai regulasi terus dibangun untuk menjadikan koperasi digjaya. Permodalan juga diberi berbagai saluran yang memihak pada koperasi. Di Kota Bekasi saja, dana bantuan modal dari BPR Patriot hanya dibebani margin 4 persen. Ini artinya, kalau mau maju saat inilah eranya koperasi.

Terus kalau masih dianggap sebagai pemain lini belakang, silahkan saja orang menganggap itu. Karena mungkin saja para kapitalis tidak akan suka dengan gerakan ini. Biarin. Itu hak mereka. Tapi orang orang koperasi jangan terpengaruh dengan image itu. Memajukan koperasi hanya ada ditangan para pelaku koperasi.

Kendala permodalan tampaknya masih belum ada solusi nyata. Gembar gembor permodalan berbunga rendah yang digelontorkan pemerintah seringkali tersalurkan secara tidak proporsional. Istilahnya hanya proyek pencitraan saja. Bagaimana menurut Anda?

Ada arus teknologi yang sedang terjadi dalam mendorong persoalan permodalan ini. Kalau dari sumber dana bantuan pemerintah itu sulit diakses, tidak masalah. Banyak jalur lain yang tersedia. Misalnya, saat ini banyak sekali perusahaan start-up yang tampil untuk menjadi “pahlawan” permodalan untuk koperasi. Sebuah koperasi bisa listing proposal programnya di perusahaan digital seperti ini dan menyerap dana dari para investor. Dengan modal proposal yang rasional dan akuntabel sebuah projek koperasi bisa dicariin permodalan di sini. Inilah yang disebut sebagai pasar dana koperasi. So, tidak masalah. Saya yakin, pasar dana untuk koperasi termasuk yang berbasis syariah akan semakin banyak muncul. Ini kan peluang bagus sekali buat koperasi.

Bagiamana dengan pengetahuan masyarakat soal ini?

Ini memang yang perlu disosislisasikan. Tidak semua orang harus pinter tentang koperasi. Tidak semua orang harus paham regulasi koperasi. Setidaknya kalau kita ingin membangun koperasi syariah yang berbasis masjid, setidak pengurus pengurus masjidnya yang perlu ditatar dan dikenalkan lebih dalam tentang regulasi koperasi, tentang peluang bisnis melalui koperasi, tentang menghidupkan ekonomi masjid, tentang pentingnya memakmurkanmasjid dan mensejahterakan jamaah. Ketika ini telah menjadi gerakan maka tidak ada lagi kekuatan yang bisa menghalanginya. (abubagus)

TIBYAN.ID  - Konsul Haji KJRI Jeddah, Endang Jumali mengatakan belum ada informasi resmi dari Kerajaan Arab Saudi perihal kuota haji reguler dan khusus untuk Indonesia pada penyelenggaraan haji tahun 1442H/2021 tahun ini.

Pernyataan Endang sekaligus meluruskan informasi tidak resmi yang menyatakan Indonesia mendapat 64 ribu dengan rincian 60 ribu untuk kuota haji reguler dan empat ribu haji khusus.

"Sampai saat ini Saudi belum mengumumkan kebijakannya terkait haji 2021. Semua negara masih menunggu, termasuk soal kuota. Sampai saat ini, belum ada info resmi terkait kuota, reguler maupun khusus," kata Endang dalam keterangan resminya , Senin (29/3).

Ia menerangkan hingga saat ini belum ada informasi resmi dari penyelenggaraan haji yang berkaitan dengan penyelenggaraan haji 1442H / 2021M.

Endang menduga kabar tak resmi tersebut diambil dari rumusan pertemuan antara KJRI Jeddah dengan kurang lebih 50 calon penyedia layanan akomodasi di Mekkah yang berlangsung 24-27 Maret 2021 lalu. Jika demikian, Endang memastikan itu bukan informasi resmi atau bersifat kebijakan melainkan baru sebatas rencana mitigasi.

Sebagai wakil pemerintah, KJRI Jeddah juga mempersiapkan terkait operasional haji tahun ini. Salah satunya, dengan melakukan komunikasi dan koordinasi dengan para calon penyedia layanan baik di Mekkah dan Madinah.

"Kegiatan tersebut tidak mengambil kebijakan. Melainkan bagian dari mitigasi terhadap berbagai kemungkinan yang harus dipersiapkan ketika ada kepastian penyelenggaraan haji dari Saudi, "kata Endang.

Lebih lanjut, Endang mengatakan pertemuan saat itu, hanya memastikan dan menginventarisir sejauh mana kesiapan para calon penyedia layanan. Baik dari segi administrasi dokumen, SDM dan kemungkinan jika ada kebijakan yang sifatnya lebih pada protokol kesehatan pencegahan penularan Covid-19.

Melihat hal itu, pihaknya menyusun skenario penyelenggaraan dengan pengandaian peraturan kuota dan penerapan protokol kesehatan.

"Skenario dibahas bersama sebagai gambaran awal untuk menyusun langkah-langkah yang harus dipersiapkan. Jadi, rumusan yang dihasilkan bersifat sementara, hanya sebagai rencana mitigasi," kata dia.

Endang menambahkan, para calon penyedia akomodasi yang hadir dalam pertemuan tersebut sudah sepakat dalam proses negosiasi yang berlangsung pada 2020. Sesuai Keputusan Menteri Agama No 494/2020 bahwa semua layanan di Arab Saudi yang sudah sepakat Negosiasi di tahun 2020, akan digunakan pada tahun 2021.

"Dari pertemuan ini, seluruh calon penyedia akomodasi kesiapannya jika ada kepastian haji. Dari calon penyedia yang hadir, hampir 80% sudah memperbarui Tasreh (Dokumen resmi) untuk Penggunaan Hotel tahun 2021 ini," kata dia.

 

Sumber: CNN Indonesia

Drs. H Paray Said membuka acara pelatihan broadcasting remaja Masjid Se Kota Bekasi

Rihlah

TIBYAN.ID - Baznas Kota Bekasi kerjasama dengan MJATV menggelar Pelatihan Broadcasting bagi remaja masjid se Kota Bekasi pada Jum'at 27 November sampai Sabtu 28 November di Jatiluhur, Purwakarta.

Muhamad Yazid melaporkan dari ruang pelatihan, bahwa semua peserta tampak antusias mengikuti pelatihan ini. Hampir semua tema yang disodorkan panitia terasa sebagai sesuatu yang sangat mereka butuhkan.

Kegiatan ini dibuka langsung oleh Ketua Baznas Kota Bekasi Drs. H Paray Said, MM, MBA sekaligus sebagai Keynote Speaker.

Peserta sebanyak 40 orang, terdiri dari 18 mahasiswa binaan Baznas Kota Bekasi, 12 remaja masjid raya se Kecamatan Kota Bekasi, 10 Unsur Masjid Besar dan ormas Islam yang ada di Kota Bekasi.

Dalam sambutannya, H. Ismail selaku ketua panitia penyelenggara mengatakan kegiatan ini sebagai langkah awal remaja masjid untuk mandiri, kreatif, dan inisiatif dalam menggunakan media sosial sebagai sarana dakwah.

Sementara H Paray Said dalam arahannya menekankan agar aktivis islam jangan menjadi sekadar penikmat informasi. "Jadilah pembuat konten yang kreatif dan sadar diri, menjadikan media sosial sebagai sarana untuk aktivitas yang positif, " katanya.

Banyak hal positif bisa dibangun dari media sosial. Bisa juga dikembangkan berbagai kreatifitas dari media sosial.

H.Paray Said mengucapkan selamat berlatih, semoga remaja Islam selangkah memiliki kemajuan dalam pengembangan informasi melalui media sosial. (yazid)

Monument Adipura

Rihlah

TIBYAN.ID - Kapan terakhir Anda ke Sukabumi? Pasti kenangan manis tentang keindahan kotanya, kulinernya yang aneka ragam dan enak-enak, udaranya yang sejuk serta alamnya yang mempesona tak mudah untuk dilupakan. Tapi kemarin, saya menyaksikan kenangan indah itu koyak.

Lihatlah Monument Adipura yang berada ditengah--tengah bundaran kota yang tampak begitu megah, kokoh dan jadi kebanggaan masyarakat serta Pemerintah Kota Sukabumi, kini kemegahan dan kekokohannya itu ternyata masalah yang perlu diseĺesaikan.

Monumen itu kini menyisakan kesemrautan, kumuh dan tidak terawat. Hmmm

Siang itu, saya coba menelusuri sudut sudut kota. Kota yang semakin padat memberi kesan semraut. Di kawasan komersil misalnya, tampaknya setiap sudut telah dikuasai oleh petugas keamanan tidak resmi. Bisa juga disebut sebagai preman kota.

Akibatnya Retribusi yang dikenakan kepada para pedagang memberatkan. Dan lebih celaka lagi situasi demikian dimamfaatkan oleh oknum-oknum tertentu untuk ikut menarik retribusi liar.

Mereka mengaku-ngaku sebagai penjaga keamanan diwilayah tersebut bahkan preman-preman juga saling menguasainya. Setiap pagi dan sore melakukan pungutan liar. Para pedagang tidak bisa berbuat banyak. Mereka pasrah saja meskipun setiap hari dikenakan pungutan lebih dari 10 ribu.

Kojang (35) salah seorang pedagang sayuran mengeluh; "saya mengharap agar ada penertiban terhadap oknum- oknum pemungut liar itu, setiap hari saya harus bayar lapak ini 15 Ribu kalau ga bayar diusir, mau dagang dimana lagi, di tempat lain juga sama harus bayar kepada mereka." ucapnya memelas.

Sementara petugas dari UPTD Pasar sendiri terutama petugas penarik retribusi hanya jadi penonton saja. Mereka juga mengharap adanya perubahan dan ketegasan dari Walikota.

Sementara itu Kadis Koperasi Perdagangan dan Industri Kota Sukabumi, Ai Jumiat yang paling berkompeten dalam persoalan ini sulit dihubungi wartawan selalu tidak ada ditempat. Sementara Sekdis Asep Saefullah walau agak terbatas memberikan keterangan kepada wartawan ia menjelaskan bahwa para petugas UPTD Pasar khususnya yang ditugaskan melakukan pungutan uang retribusi sebetulnya tetap melaksanakan tugasnya berkeliling melakukan pungutan namun tidak ke semua pedagang diareal 2 Km persegi itu.

Pihaknya hanya memungut kepada para pedagang yang berada disekitar Pasar Gudang (Ramayana), Pasar Gledog dan Pasar Degung. Jumlahnya hanya beberapa ratus pedagang saja, tidak mencapai 1000, sedangkan kepada pedagang kaki lima (PKL) memang tidak dikenakan retribusi pasar, apa lagi para PKL yang berdagang diatas Trotoar demikian pula kepada para pedagang yang berada di areal penampungan Ex Pasar Pelita dan yang membaur di jalan-jalan raya dengan para PKL, semuanya tidak ditarik uang retribusi.

Walikota Sukabumi, Fahmi, sebagai pemimpin kota Sukabumi diharapkan bisa menjadi solusi atas ketidaknyamanan ini. Jangan berpangku tangan atau melaksanakan rutinitas, sementara di lapangan tidak tertib padahal dia tahu bahwa warga Sukabumi pernah berhasil beberapa kali meraih tanda penghargaan ADIPURA salah satunya tertib lingkungan. Apakah ini yang menjadi alasan, monument Adipura menjadi tidak terurus dengan baik. (ismail/amh)

Follow Us

Advertisement

Top Stories

Grid List

TIBYAN.ID - Kerajaan Arab Saudi menyatakan bakal menggelar ibadah haji 1442 H atau 2021. Saudi menyebut para jemaah haji bisa mengunjungi Masjidil Haram dan Masjid Nabawi untuk melakukan ibadah dengan sejumlah aturan ketat di tengah pandemi virus Corona (COVID-19).

Dilansir dari Saudi Press Agency (SPA) dan Reuters, Senin (10/5/2021), Kementerian Haji dan Umrah Saudi telah mengumumkan niat Kerajaan Arab Saudi untuk mengadakan ibadah haji untuk tahun 1442 H tersebut dengan tata cara yang tetap menjamin kesehatan dan keselamatan jemaah.

Pelaksanaan ibadah haji bakal digelar sesuai dengan aturan pengendalian dan standar kesehatan, keamanan dan regulasi, sehingga para jemaah dapat menjalankan ibadah dengan mudah dan dalam lingkungan yang aman.

Kementerian menegaskan otoritas kesehatan di Arab Saudi terus menilai kondisi dan mengambil semua langkah untuk memastikan kesehatan warga dan jemaah. Informasi detail soal kondisi khusus untuk pelaksanaan ibadah haji tahun ini akan diumumkan kemudian.

"Mekanisme dan ketentuan penyelenggaraan haji tahun ini akan diumumkan nanti," demikian pengumuman dari kementerian haji yang disiarkan TV pemerintah Saudi dan dilansir dari Reuters.

Tahun lalu, Arab Saudi mengizinkan sejumlah kecil jemaah domestik untuk menunaikan haji. Hal tersebut dilakukan demi mencegah penyebaran Corona semakin meluas.

 

Sumber: Detik.com

TIBYAN.ID - Duta Besar Pelayan Dua Kota Suci untuk Indonesia, Essam Bin Ahmed Abid Althaqafi, membantah informasi yang menyebut Indonesia tidak mendapatkan kuota untuk pelaksanaan haji tahun ini. Informasi ini sebelumnya disampaikan oleh Wakil Ketua DPR RI, Dr. Sufmi Dasco Ahmad.

"Merujuk pada pemberitaan yang beredar yang telah disampaikan oleh sejumlah media massa serta media sosial, berita-berita tersebut tidaklah benar dan tidak dikeluarkan oleh otoritas resmi Kerajaan Arab Saudi," ujarnya dalam surat keterangan yang diterima Republika, Jumat (4/6).

Tak hanya itu, ia juga membantah pernyataan yang disampaikan oleh Wakil Ketua Komisi VIII DPR, Ace Hasan Syadzily, yang menyebut 11 negara telah memperoleh kuota haji dari Kerajaan Arab Saudi, sementara Indonesia tidak termasuk dari negara tersebut.

Essam Bin Ahmed Abid Althaqafi menyebut hingga saat ini Kerajaan Saudi belum mengeluarkan instruksi apapun yang berkaitan dengan pelaksanaan haji 2021. Hal ini berlaku tidak hanya bagi Indonesia tapi juga jamaah lain di seluruh dunia.

Bersama dengan keterangan tersebut, ia menyebut berupaya untuk menjelaskan kondisi dan fakta yang sebenarnya ada di lapangan. Ia juga berharap agar pihak-pihak terkait dapat melakukan komunikasi terlebih dahulu dengan pihak Kedutaan atau otoritas resmi lainnya.

"Saya berharap agar kiranya dapat melakukan komunikasi terlebih dahulu, baik di Kerajaan Arab Saudi maupun di Indonesia, guna memperoleh informasi dari sumber-sumber yang benar dan dapat dipercaya," kata dia.  

 

Sumber: Ihram

Foto: ANTARA/Zabur Karuru

Health

TIBYAN.ID - Gejala virus Corona COVID-19 biasanya berbeda pada setiap orang. Beberapa orang menjadi terinfeksi tetapi hanya memiliki gejala ringan.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), gejala COVID-19 yang dialami biasanya bersifat ringan dan muncul secara bertahap. Pada umumnya, gejala COVID-19 mulai muncul sekitar lima hingga enam hari setelah terjadi pajanan.

"Tetapi, waktu kemunculan gejala ini dapat berkisar 1 hingga 14 hari," ungkap WHO.

Menurut WHO, sekitar 80 persen, orang yang terinfeksi Corona berhasil pulih tanpa perlu perawatan yang khusus. Sekitar 1 dari 5 orang yang terinfeksi menderita sakit parah dan kesulitan bernapas.

Orang-orang yang berusia di atas 60 tahun dan memiliki penyakit bawaan seperti diabetes, penyakit pernapasan, penyakit jantung, atau hipertensi kemungkinan lebih besar mengalami sakit lebih serius.

"Berisiko lebih besar terkena penyakit parah atau kritis jika terinfeksi virus," kata WHO.

Dikutip dari laman resmi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), berikut gejala Corona menurut WHO. Apa saja?

Gejala COVID-19 paling umum

  • Demam
  • Batuk kering
  • Kelelahan

Gejala COVID-19 yang jarang dialami pasien lain

  • Rasa sakit dan nyeri
  • Hidung tersumbat
  • Sakit kepala
  • Konjunktivitis
  • Sakit tenggorokan
  • Diare
  • Kehilangan indera rasa dan penciuman
  • Muncul ruam pada kulit
  • Perubahan warna jari tangan atau kaki

Gejala berat COVID-19

  • Kesulitan bernapas dan sesak napas
  • Nyeri dan tekanan dada
  • Kehilangan kemampuan bergerak dan berbicara

 

Sumber: Detik

Kepala Dinas Pendidikan Kota Bekasi, Dr. H. Inayatulloh dalam peluncuran buku Pelangi Guru Literasi di Literacy Coffee.

Wawasan

TIBYAN.ID - Sebuah buku diluncurkan. Penulisnya guru SD, judulnya Pelangi Guru Literasi. Meriah acara peluncurannya karena dihadiri Bapak Kepala Dinas Pendidikan Kota Bekasi, Dr. H. Inayatulloh beserta beberapa kepala SD dan guru-guru.

Sebagai penerbit, Yayasan Mitra Insani sengaja memberi perhatian pada penerbitan buku-buku yang ditulis oleh guru, siswa atau para kepala sekolah. Selain sebagai rangsangan, kegiatan literasi ini memiliki peran strategis untuk menumbuhkan minat baca dan belajar siswa.

Karena itu pula, Dr. Inayatulloh menyatakan akan mendukung, mensupport dan memberi perhatian penuh kepada para guru yang memiliki kapasitas untuk menulis.

WhatsApp Image 2021-03-25 at 09.09.12.jpeg

Suasana pada peluncuran buku di Literacy Coffee

Usai serimonial, beberapa wartawan senior yang hadir sempat mendiskusikan beberapa gagasan dan pemikiran Kadisdik. Bang Zul, wartawan senior pendiri sekaligus owner Koran Bekasi dan Majalah Harapan Indah merasa perlu menindaklanjuti gagasan Kadisdik dengan memberikan pelatihan dan bimbingan penulisan.

Bang Zul sepakat, kegiatan literasi perlu terus dihidupkan dan digalakkan. Tapi tentunya ini tidak bisa optimal berjalannya tanpa dukungan nyata dari pemerintah.

Guru mikir dua kali mengeluarkan uang Rp 10 jt untuk keperluan menerbitkan bukunya kalau bukunya itu hanya numlul di rak buku. Di sini peran pemerintah diperlukan. Misalnya membeli buku itu untuk mengisi perpustaan sekolah.

Sebagai penulis, Nurmani mengaku bangga bisa melahirkan sebuah karya tulis dalam bentuk buku. Ini buku solo pertama, dan beberapa buku lainnya sudah diterbitkan dalam bentuk ontologi.

Dalam peluncuran bukunya ini Nurmani mendapat suport dari penerbit yang memberikan buku gratis dari sponsor. Ada 40 buku yang diinfakkan dari donatur. Namun Nurmani mengakui kalau masih banyak lagi buku yang dicetaknya tapi belum tahu akan disalurkan ke mana.

Karena itu ia berharap pemerintah bisa mengambil peran di sini. Agar teman-teman guru pegiat literasi tidak ragu menerbitkan karyanya.

Buku Pelangi Guru Literasi memang baru sedikit buku karya guru. Menurut Kadisdik ini baru buku keempat se kota Bekasi yang terbit dari karya guru. Tentunya penerbitan yang baik adalah yang sesuai standar diknas, misalnya ada ISBN nya dan sebagainya.

Buku buku seperti itulah yang bisa diusulkan sebagai buku yang bisa mengisi perpustakaan sekolah.

 

 

Advertisement

Upcoming Events