20
Wed, Nov

Top Stories

Grid List

Ilustrasi Teror Bom

Hot Issue

TIBYAN.ID - Saat ini isu radikalisme, khususnya radikalisme agama, khususnya lagi Islam terasa meresahkan masyarakat kita. Spanduk spanduk bertebar di mana-mana; menolak radikalisme dan terorisme. Bahkan pernyataan pernyataan para petinggi negeri ini dzauq nya tak bisa lepas dari semacam memberi irisan kepada umat Islam. Saya cuma bisa merinding doang, merasakan sesuatu yang sulit saya jelaskan. Seperti kentut, tidak tampak tapi terasa baunya.

Saya ingin mulai dari suasana malam itu yang seperti malam biasanya di Kuta Bali. Waktu sudah menjelang fajar. Bukan hening, tapi di lantai discotik Paddy's Pub dan Sari Club (SC) di Jalan Legian semakin panas. Pantai pasir putih justeru juga semakin bergemuruh. Pasangan muda mudi, turis turis asing, penjaja seks dan pemburu kepuasan nafsu birahi mengisi malamnya dengan jingkrak jingkrak, teriak teriak, ada juga yang “mojok” dengan pasangannya, atau sekadar kongkow kongkow, menikmati Balihai atau sejenis minuman bermerk lainnya.

Malam itu seperti malam - malam yang lain. Kawasan Pantai Kuta Bali memang tak pernah sepi dari kesenangan syahwat para wisatawan.  Bedanya dengan malam itu, ada rasa hening yang mencekam dalam hingar bingarnya malam menjelang pagi. Angin seperti malas berhembus, ombak pun hambar gemuruhnya.

Dalam rasa yang hening itu tiba tiba terdengan suara dentuman keras. “Booom”. Kesenangan pecah seketika, tawa berubah menjadi tangis. Semua berantakan, kocar kacir, porak poranda. Peristiwa itu kemudian menghebohkan jagat raya. Semua mata dunia melotot terarah ke Bali. Tangis, ucapan duka, karangan bunga dan sebagainya mengalir deras ke pulau dewata.

Polisi pun sibuk mencari jejak sang pelaku. Tak butuh waktu lama. Djoko Pitono atau Dulmatin, lahir di Desa Petarukan, Kecamatan Petarukan, Pemalang, 6 Juni 1970 ditetapkan sebagai otak pelakunya. Ia menjadi gembong terorisme karena aksinya pada Bom Bali I pada tahun 2002 ini. Aksi ini menewaskan lebih dari 200 orang. Keterlibatan Dulmatin merembet ke tokoh tokoh lain. Banyak nama disasar, antara lain Ustad Abu Bakar Baasyir, Imam Samudra serta tokoh-tokoh Jamaah Islamiyah lainnya. Dari sinilah kisah pembunuhan karakter itu dimulai.

Berbagai kekuatan besar ikut turun lacak ke Bali. Alasan mereka karena banyak warga Negara mereka dalam peristiwa itu yang jadi korban. Dan, seperti penjahit yang menemukan bahan bagus, mereka pun merajutnya sesuai kehendak. Tudingan terorisme kepada umat Islam makin njarem erat. Bom Bali banyak disebut sebagai kerja intelejen untuk mendukung grand scenario menyudutkan Islam. Pembunuhan karakter terhadap umat Islam.

Mereka yang berpeci putih khas, berbaju panjang atau gamis, berjenggot, bercelana cingkrang atau wanitanya bercadar atau berhijab besar diidentikkan dengan jamaah garis keras dan menjurut pada tuduhan teroris. Abu Bakar Baasyir pun menjadi bulan bulanan. Orang tua ini menjadi sasaran kepentingan. Amerika ngotot agar Baasyir jangan pernah dilepaskan.

Dulmatin mengakui merencanakan pengeboman dua diskotik di Kuta Bali pada tahun 2002 itu. Setelah itu ia menjadi incaran polisi. Reputasinya dengan permainan bom memang pernah diakuinya dalam kegiatan terorisme di Pulau Mindanao, Filipina.

Dalam sebuah penggerebekan di Warnet Multiplus di Ruko Pamulang, Tangerang, Selasa 9 Maret 2010 Delmatin tewas di usia 39 tahun. Ia terpaksa ditembak dengan senjata revolver karena melawan. Kematian Dulmati menancapkan stigma semakin keras bagi tuduhan umat Islam sebagai teroris. Tidak terucap, tapi gerak buruan terhadap teroris memang menyasar ke aktivis jaringannya Baasyir, pondok pondok pesantren tertentu, kiyai kiyai tertentu dan para muballigh yang dianggap garis keras. Saat itu, Baasyir memang sedang mendapatkan banyak applause atas ide idenya terhadap perda perda Syariah di berbagai pemerintah daerah. Baasyir masuk bui.

Memang cerita tak sampai di sini, ada episode kedua di Bali, yakni Bom Bali II dengan pelaku Amrozi bin Nurhasyim biasa dipanggil Amrozi. Amrozi, pemuda yang selalu tampil dengan peci putih, serban putih, berjanggut panjang tanpa kumis. Wajah bening bersih. Pria kelahiran Lamongan 5 Juli 1962 inilah yang dinyatakan sebagai pelaku utama dan berhak atas hukuman mati sebagai balasan dari aksinya dalam Peristiwa Bom Bali 2002.

Amrozi disebut-sebut termotivasi ideologi Islam radikal dan anti-Barat yang didukung oleh organisasi Jemaah Islamiyah besutan Baasyir. Ini hasil sidikan Polri tentunya. Pada 7 Agustus 2003, ia dinyatakan oleh pengadilan Indonesia bersalah atas tuduhan keterlibatan dalam peristiwa pengeboman tersebut dan divonis hukuman mati. Namun undang-undang yang digunakan untuk memvonisnya ternyata kemudian dinyatakan tidak berlaku oleh Mahkamah Agung pada Juli 2004.

Awalnya dipenjara di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Kerobokan di Denpasar, ia lalu dipindahkan ke LP Nusakambangan pada 11 Oktober 2005 bersama dengan Imam Samudra dan Mukhlas, dua pelaku Bom Bali lainnya. Akhirnya Amrozi dihukum mati pada hari Minggu, 9 November 2008 dini hari WIB.

Sampai disini cukup sudah alasan untuk menjadikan umat Islam sebagai pelaku teror. Karena beberapa teror yang terjadi dilakukan oleh mereka yang beratribut Islam. Mereka memperkuat tudingan itu ke berbagai konflik di timur tengah. Ada Alqaida, ada ikhwanul muslimin, Osama bin Laden dan sekarang ada ISIS. Pelaku teror adalah alumni dari aksi aksi kekerasan internasional, khususnya dari kawasan timur tengah.

Maka mulai saat itu, kiyai, pondok pesantren, ulama, muballigh, aktivis Islam berada dalam sorotan.  Sesekali muncul aksi sejenis dan heboh pemberitaan dengan dukungan media mainstream yang bahkan menyajikan secara life aksi penangkapan pelaku terror di desa desa. Densus 88 pun dibentuk antara lain untuk pekerjaan ini, memburu teroris, kaum radikalis agama. Imej yang terbentuk, Islam terorisme.

Saya pernah tanyakan kepada KH M Amin Noer, Pimpinan Yayasan Attaqwa yang juga ketua Pembina Yayasan Nurul Islam KH Noer Alie, Menurutnya tuduhan itu hanya tendensi politik saja. Ajaran Islam jelas, membunuh satu orang sama dengan membunuh seluruh umat manusia. Menghidupi satu orang sama dengan menghidupi seluruh umat manusia. Betapa ajaran Islam sangat tidak mengenal perbuatan terror apalagi sampai membunuh banyak manusia.

“Itu pesan Alquran. Itu pegangan kita. Jadi gak usah terpancing dengan tuduhan para politikus dan pengamat atau polisi dan penguasa sekalipun, karena mereka tidak paham dan tidak meyakini Alquran. Kalau kita berpijak pada nilai nilai Alquran, pasti Alloh akan membela kita dan Islam sebagai ideology kita,” kata KH M Amin Noer jelas. So, apapun yang mereka tuduhkan terhadap Islam, kebenaran yang pasti akan dijamin sebagai pemenangnya.

Apa yang terjadi dengan rangkaian pemboman yang dimulai dari Bom Bali I dan II serta beberapa peristiwa lainnya adalah peristiwa keji yang menginjak injak kemanusiaan. Tapi ada juga yang menyebut bahwa ini bagian dari grand design dunia internasional untuk mencoreng citra umat Islam, alias pembunuhan karakter terhadap umat Islam. Wallohu a’lam. (abubagus)

TIBYAN.ID - Pernyataan putri pendiri bangsa Soekarno, Sukmawati Soekarnoputri terus menuai kontroversi di publik. Sebab, adik Ketua Umum DPP PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri itu disebut telah membandingkan Nabi Muhammad dan Bung Karno.

Bagi Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Dadang Kahmad, membandingkan Nabi Muhammad dengan Soekarno merupakan hal yang tidak berimbang. Sebab Nabi Muhammad merupakan seorang utusan Allah, sedang Soekarno seorang pejuang. “Dan Pak Soekarno terinspirasi oleh Nabi Muhammad,” katanya kepada wartawan, Minggu (17/11).

Bung Karno, sambung Dadang, merupakan seorang muslim yang baik. Banyak di antara tulisan Soekarno yang menyebut Nabi Muhammad sebagai referensi.

Terlebih lagi, kata Dadang, Soekarno merupakan kader Muhammadiyah. Sehingga tidak pantas dibandingkan dengan sosok yang diinspirasikannya.

“Soekarno itu kan orang Muhammadiyah. Jadi beliau pasti terinspirasi oleh Nabi Muhammad SAW. Jadi tidak enak didengar (kalau dibandingkan) ya,” ujarnya.

Namun demikian, dia meminta semua pihak untuk tidak terpicu atas pernyataan Sukmawati dan menyerahkan sepenuhnya pada proses hukum yang berjalan. Ini mengingat sudah ada laporan terhadap Sukmawati atas kasus tersebut. “Saya kira kita setel kendor saja, semuanya cooling down lah,” tegasnya.

Soekarno pernah belajar langsung ilmu agama dari KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah. Tepatnya saat Soekarno tinggal di kost milik HOS Tjokroaminoto. Saat itu, Dahlan bolak balik ke Surabaya untuk mengajar Soekarno, bersama Agus Salim dan Semaun.

Soekarno secara resmi masuk Muhammadiyah pada tahun 1930 dan menjadi pengurus majelis pendidikan dasar dan menengah milik Muhammadiyah di Bengkulu.

Istri Soekarno, Fatmawati juga merupakan kader Aisyiah, organisasi otonom Muhammadiyah. Fatmawati sendiri merupakan ibu dari Megawati Soekarnoputri dan Sukmawati Soekarnoputri.

 

Sumber : Eramuslim

Foto: Republika/Tahta Aidilla

Hot Issue

TIBYAN.ID - Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Prof Din Syamsuddin berpesan kepada para elite politik agar tidak alergi dan sinis terhadap agama.

Karena, jelas mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah ini, sebuah negara-bangsa dengan ideologinya masing-masing, akan semakin kuat dengan etika dan moralitas keagamaan.

Hal itu disampaikan Din dalam pidatonya pada The 2nd Baku Summit of World Religious Leaders (Pertemuan Puncak Para Tokoh Agama Dunia Baku Kedua) di Baku, Azerbaijan yang digelar pekan kemarin, Kamis-Sabtu (14-16/11/2019).

Dalam pidatonya, Din yang juga Guru Besar Politik Islam Global FISIP UIN Jakarta, memesankan kepada para tokoh agama-agama dunia untuk mengawal negara-bangsa di mana mereka berada.

“Agama harus menjadi pemecah masalah kebangsaan (problem solver), bukan menjadi bagian dari masalah (part of the problem), apalagi menjadi pencipta masalah (problem maker),” ujarnya sebagaimana keterangan tertulisnya diterima hidayatullah.com semalam, Ahad (17/11/2019).

Oleh karena itu, lanjut Din, agama-agama harus mampu menampilkan paradigma etik bagi pembangunan nasional agar pembangunan tidak salah arah dan hilang mutiara moral. Sebab, menurutnya, jika salah arah dan kehilangan moral itu terjadi, maka peradaban akan berubah menjadi kebiadaban.

Pada bagian lain presentasinya, Din menegaskan bahwa radikalisme dan ekstremisme, apalagi dalam bentuk kekerasan (violent extreemism)) adalah berbahaya dan bersifat anti kemanusiaan.

Namun, Din Syamsuddin mengingatkan bahwa radikalisme dan ekstremisme tidak hanya bersifat keagamaan (religious radicalism), tapi juga bersifat non keagamaan seperti radikalisme sekuler (secular radicalism).

“Bahkan yang terakhir jika bercampur dengan kebebasan sehingga menjadi radikalisme sekuler-liberal menjadi lebih berbahaya karena sering merasuk ke dalam sistem kehidupan nasional seperti politik dan ekonomi,” ujarnya.

Radikalisme sekuler-liberal yang merasuki sistem politik dan ekonomi sesuatu negara, jelasnya, akan membuat negara itu rusak bahkan runtuh, serta akan meninggalkan ideologi negara yang ada.

Menurut Din, itulah yang dewasa ini menjadi fenomena di beberapa negara. Radikalisme sekuler-liberal masuk perlahan-lahan ke dalam sistem nasional suatu negara dan bahkan diadopsi sebagai sistem aktual dan operasional.

“Celakanya, banyak elite politik tidak menyadari, bahkan terbawa arus mengembangkan isu ancaman radikalisme agama, sementara mereka tengah mengancam eksistensi negara mereka sendiri,” ungkap mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah ini.*

 

Sumber : Hidayatullah

KH Abid Marzuki (kiri)

Aktual

TIBYAN. ID, Bekasi - Di usianya yang ke 25 tahun Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Attaqwa yang berlokasi di Jalan KH Noer Ali Ujung Harapan Bahagia Kabupaten Bekasi masih terus membangun mimpi, sebuah mimpi besar STAI Attaqwa yang setara dengan kampus Universitas Al-Azhar di Kairo Mesir.

Mimpi disini tentu bukan sekedar berharap, tetapi mimpi itu terus dikembangkan terkait empat komponen penilaian, yaitu kualitas Sumber Daya Manusia (SDM), kualitas kelembagaan, kualitas kegiatan kemahasiswaan serta kualitas penelitian dan publikasi ilmiah.

Menurut Ketua STAI Attaqwa Dr KH M Abid Marzuki, M. Ed, usia 25 tahun ini merupakan perjalanan panjang bagi sebuah lembaga pendidikan tinggi. Momen 25 tahun inilah yang harus dijadikan tonggak untuk mengevaluasi hasil capaian.

“Kalau alat ukur evaluasinya adalah awal berdirinya STAI Attaqwa pada 1994, yang tujuannya hanya untuk memenuhi kebutuhan guru sekolah-sekolah di lingkungan Yayasan Attaqwa, maka capaian yang ada saat ini boleh dibilang berhasil,” tegas Abid Marzuki dalam percakapan dengan possore.commenjelang malam doa bersama peringatan 25 tahun di Kampus Pahlawan Nasional KH Noer Alie, Sabtu (16/11) lalu.

Menurut alumnus Pondok Pesantren Gontor Ponorogo Jawa timur itu, tujuan awal pendirian STAI Attaqwa adalah untuk memenuhi kebutuhan SDM karena berdasarkan penelitian, mayoritas guru di lingkungan Attaqwa awalnya hanya berpendidikan aliyah.

Para senior Attaqwa yang merasa prihatin dengan kondisi saat itu, lalu mendorong berdirinya STAI Attaqwa dengan program studi D2 dan D3 Pendidikan. Belum ada Prodi Pendidikan Agama Islam (PAI) maupun Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) seperti hari ini.

“Sekarang Alhamdulillah sudah 100 persen guru-guru yang mengajar di madrasah tsanawiyah dan aliyah serta unit lain di lingkungan Attaqwa yang jumlahnya ada 171 unit ini sudah berpendidikan S1, dan umumnya mereka adalah alumni STAI Attaqwa,” tegas Abid Marzuki.

Kedepan tutur Abid Marzuki, sekolah tinggi ini harus terus melakukan reorientasi atau tepatnya menyegarkan visi kedepan, yang semula hanya untuk memenuhi kebuhan guru ke peningkatan kualitas SDM. Hal ini tentu dimaksudkan agar SDM yang dimiliki Attaqwa benar-benar teruji.

Gedung baru Kampus Pahlawan Nasional KH Noer Alie akan menambah 28 lokal ruang belajar

Setelah pemenuhan kebutuhan guru dianggap cukup, Abid Marzuki sebagai Ketua STAI Attaqwa harus kembali masuk ke tahapan Rencana Induk Pengembangan (RIP) kampus yang sudah disusun sebelumnya. Target 5 tahun kedepan ini adalah STAI menjadi Institut Agama Islam Attaqwa dan 10 tahun kedepannya lagi STAI sudah harus menjadi Universitas Attaqwa.

“Pada momentum 25 tahun ini sebetulnya kita ingin mendekleir satu pernyataan bahwa lembaga ini saatnya menjadi milik bersama. Kalau lembaga ini hanya ada di atas kertas maka teman-teman termasuk komunitas pendidikan Attaqwa kurang ikut merasa memiliki. Selama ini yang merasa memiliki lembaga pendidikan ini baru kalangan internal saja karena itu di usia 25 tahun ini kita nyatakan bahwa STAI Attaqwa menjadi milik bersama,” tutur Abid Marzuki.

Dikatakan, kalau melihat rangkaian acara milad yang diawali dari 14 November kemarin, kemudian diteruskan dengan acara-acara lomba yang pesertanya adalah anak-anak SMA seperti marawis, akuistik, baca puisi dan lain sebagainya, tujuannya tak lain adalah untuk menyosialisasikan perguruan tinggi ini ke sekolah-sekolah SMA di wilayah Kota dan Kabupaten Bekasi.

Tapi yang tak kalah penting dari itu adalah bagaimana STAI Attaqwa yang dia pimpin juga mampu menumbuhkembangkan potensi-potensi yang ada dari internal kampus hingga mampu bersaing keluar.

“Rencanyanya akhir November ini kita juga menggelar seminar nasional terkait pendidikan. Beberapa pembicara yang dihubungi panitia sudah menyatakan kesiapannya untuk datang. Kita harapkan dari rangkaian kegiatan Milad 25 Tahun STAI Attaqwa, komunitas Attaqwa ini bukan saja mahasiswa, dosen dan pimpinan STAI, tetapi komunitas lain juga diharapkan keterlibatannya.

Abid Marzuki sendiri mengaku bersyukur kepada Allah SWT karena Ketua Umum Yayasan Attaqwa, KH Amien Noer sudah secara terbuka menyatakan, termasuk di acara Maulid Nabi pekan lalu yang dihadiri Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan bahwa pendiri Attaqwa KH Noer Alie ingin agar STAI Attaqwa menjadi seperti Al-Azhar Kairo, hingga pihak yayasan sudah siap memberikan dukungan.

“Kalau di cermati pernyataan KH Amien Noer itu, berarti STAI Attaqwa kedepan lembaganya harus menjadi besar, dan wakaf yang dimiliki STAI Attaqwa pun harus besar. Ya karena yang besar dari Al-Azhar Kairo di Mesir itu adalah lembaga universitasnya dan badan wakafnya,” katanya.

Kalau dukungan dan tekad bulat dari yayasan sudah seperti itu, insyaAllah peningkatan status STAI menjadi Universitas Attaqwa bukan lah sebuah mimpi dalam tidur biasa, tetapi mimpi yang segera akan terwujud. Apalagi Ketua Kopertais Wilayah 1 DKI Jakarta, Prof Dr Ahmad Tib Raya, MA dalam acara Wisuda Sarjana ke-19 kampus ini beberapa waktu lalu sempat menjanjikan untuk membantu percepatannya.

Menurut Abid Marzuki, yang ada di depan mata saat ini adalah percepatan pembangunan kampus yang sudah dimulai tahun lalu. Targetnya 2-3 tahun kedepan kampus baru Pahlawan Nasional KH Noer Alie ini sudah jadi. “Kalau jadi beararti ada tambahan 28 lokal baru yang bisa dijadikan sebagai ruang kuliah, perpustakaan, ruang dosen juga auditorium mini di gedung baru tersebut,” katanya. (aryo)

 

Sumber : Possore

dok.istimewa

Aktual

TIBYAN.ID, Medan - Ledakan bom terjadi di Markas Polrestabes Medan, Rabu, 13 November 2019. Pelaku yang diduga pengebom bunuh diri itu menggunakan jaket ojek online.

Ledakan itu terjadi sekitar pukul 08.45 WIB. Informasi dari kepolisian, ledakan itu dilakukan dua orang menggunakan atribut ojek online.

"Saat ini sedang dilaksanakan olah tempat kejadian perkara oleh Densus 88 dan Polda Sumatera Utara," kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri Brigadir Jenderal Dedi Prasetyo saat dihubungi, Rabu, 13 November 2019.

Dedi mengatakan pihaknya belum bisa memberikan keterangan lebih lanjut lantaran invesgitasi masih dilakukan. "Tunggu hasil investigasi," kata dia

Polisi telah mengamankan lokasi dan memasang garis pembatas. Diduga pelaku bom bunuh diri tewas dalam kejadian itu.

 

Sumber : Tempo

TIBYAN.ID, Bandung - Konferensi Internasional World Zakat Forum (WZF) 2019 yang digelar di Crowne Plaza Hotel, Bandung, Jawa Barat, Selasa (5/11) hingga Rabu (6/11) resmi ditutup. Sebanyak 300 peserta konferensi dari 28 negara sepakat merumuskan 7 resolusi dari tema yang diangkat “Optimizing Global Zakat Role through Digital Technology”.

 
Disampaikan langsung oleh Sekretaris Jenderal WZF, Prof Bambang Sudibyo, 7 resolusi ini menyeru untuk mengembangkan zakat global dengan memanfaatkan kemajuan teknologi digital yang ada saat ini.
 
Menurut Bambang Sudibyo, komitmen zakat harus memberi perhatian tidak hanya pada bagaimana zakat dikumpulkan dan didistribusikan sebagaimana mestinya, tetapi juga bagaimana zakat dikelola secara profesional, efektif, efisien dan beradaptasi dengan kemajuan teknologi yang bergerak cepat. 
 
“Gerakan zakat global harus memperhatikan peran teknologi digital dalam pengelolaan zakat karena dunia muslim sangat luas, dari Afrika hingga Asia Tenggara yang mencakup enam benua" ujarnya. 
 
Bambang Sudibyo menambahkan WZF sebagai platform gerakan zakat internasional, memiliki peran untuk sinergi para pemangku kepentingan zakat global dalam meningkatkan kesejahteraan umat dan mengurangi kemiskinan. 
 
“Konferensi ini juga menandai meningkatnya peran zakat untuk menyelesaikan masalah kemiskinan dan ketidaksetaraan global dan mengusulkan standar secara khusus untuk mengukur dampak zakat terhadap kesejahteraan mustahik (penerima manfaat zakat),” ujarnya.
 
Berikut 7 resolusi WZF 2019:
 
1. Tumbuhnya peran teknologi digital harus dioptimalkan untuk kepentingan pengembangan zakat global, terutama dalam meningkatkan kesadaran umat Islam dalam memenuhi kewajiban zakat mereka.
 
2. Penggunaan platform digital dalam manajemen zakat harus ditingkatkan, WZF mengajak semua anggota WZF untuk mengadopsi teknologi saat ini sebagai bagian dari manajemen zakat mereka, terutama untuk promosi, perhitungan, pengumpulan, dan distribusi dana zakat di masing-masing anggota negara WZF.
 
3. Relevansi teknologi “blockchain” dengan manajemen zakat telah banyak dibahas. Karenanya, WZF menyarankan semua anggota WZF untuk mengeksplorasi lebih lanjut potensi pengelolaan zakat dengan teknologi “blockchain”.
 
4. Pemanfaatan teknologi digital menimbulkan risiko spesifik. Kehadiran Petunjuk Teknis (Technical Notes) tentang Manajemen Risiko Organisasi Zakat diharapkan memainkan peran penting sebagai pedoman untuk mengurangi risiko yang mungkin terjadi dari praktik manajemen zakat termasuk penggunaan teknologi digital. Karenanya, semua negara anggota WZF didorong untuk mengadopsi petunjuk teknis ini.
 
5. Semua anggota WZF didorong untuk mengadopsi Petunjuk Teknis tentang Good Amil Governance sebagaimana diwujudkan dalam “Zakat Core Principle” untuk meningkatkan kualitas pengelolaan zakat.
 
6. WZF mengajak semua anggota untuk memperkuat kolaborasi mereka dengan UNICEF dan UNDP sebagaimana telah disepakati dalam MoU untuk memenuhi persyaratan SDGs.
 
7. WZF menunjukkan perhatiannya atas keterlibatan beberapa lembaga multilateral dalam pengumpulan dan distribusi zakat, khususnya yang terkait dengan kepatuhan terhadap syariah dan peraturan nasional.
 
Resolusi ini juga memutuskan untuk mengadakan Konferensi Internasional WZF ke-9 dan Pertemuan Tahunan WZF 2020 di Selangor, Malaysia, dan Lembaga Zakat Selangor sebagai penyelenggara utamanya. Agenda untuk Pertemuan Tahunan 2020 akan mencakup diskusi tentang Petunjuk Teknis Pelaporan Keuangan dan Audit Eksternal Zakat, Petunjuk Teknis tentang Pengungkapan dan Transparansi Zakat, dan diskusi tentang Indeks Kesejahteraan Zakat.
 
“Juga diputuskan untuk mengadakan Konferensi Internasional WZF ke-10 dan Pertemuan Tahunan 2021 di kota London, Inggris, yang akan  diselenggarakan oleh National Zakat Foundation (NZF) Worldwide,” katanya. (hans) 

TIBYAN -- Makin dekatnya masa akhir pendaftaran calon walikota dan wakil walikota Bekasi, suhu politik local kota Bekasi makin terus menggeliat. Beberapa calon makin intens melakukan loby loby politik, khususnya dalam merancang pendekatan koalisi dan calon wakil yang akan menjadi satu paket pasangan.

Setidaknya sudah ada tiga kandidat besar yang muncul ke permukaan. Pertama, petahana Rahmat Efendy, calon dari Golkar. Kedua Muchtar Muhammad dari PDIP dan ketiga Netty Heryawan dari PKS. Ini pun kemungkinan masih bisa berubah. Kemampuan partai dan para calon dalam menentukan calon wakilnya sangat berpengaruh terhadap elektabilitas mereka.

Untuk menyoroti perkembangan itu, Amin Idris dari Tibyan.id mewawancarai Heri Suko Martono, Sekretaris DPD Partai Golkar Kota Bekasi. Putra almarhum Suko Martono, mantan Bupati Bekasi yang juga pendiri Islamic Centre Kota Bekasi, ini menilai peningkatan suhu politik adalah sebuah hal yang wajar yang terjadi di masyarakat dalam setiap menjelang pemilihan umum.

“Orang Indonesia, khususnya orang kota Bekasi sudah cukup dewasa menghadapi setiap peristiwa politik. Biasa lah itu, kenaikan suhu dalam batas - batas wajar,” kata Hery Suko dalam perbincangan di kantornya, Islamic centre.

Tibyan : Sebagai sekretaris partai Golkar di Kota Bekasi, bagaimana anda melihat situasi sosial politik masyarakat Bekasi menjelang pemilukada kota Bekasi?

Heri Suko Martono : Biasa lah ini mah. Ini bukan sesuatu yang baru dalam demokrasi. Di Bekasi, atau dalam skala nasional, atau bahkan di luar negeri pun setiap menjelang pemilihan umum selalu saja suhu politik masyarakat akan naik. Itu biasa. Kita kan sedang berdemokrasi, dimana setiap orang punya hak dan kewajibannya untuk menyalurkan aspirasinya.

 

Tibyan : Dalam kontestasi calon walikota, bagaimana posisi petahana Rahmat Effendi yang pecah kongsi dengan PKS dan tidak jadi berpasangan dengan Sutriono?

Heri Suko Martono : Bang Pepen sebagai kader yang dicaonkan partai Golkar sejauh ini telah mendapat banyak kepercayaan. Saya sebagai pengurus Golkar tentunya berterimakasih dengan kemajuan ini semua. Dari berbagai survey, elektabilitas calon Golkar ini terus cenderung makin naik. Alhamdulillah. Sedangkan mengenai pecah kongsi dengan Sutriono, ini juga didasarkan pada realitas politik yang berkembang. Kan pasangan ini terus di evaluasi, seberapa tinggi daya terima masyarakat. Hasil evaluasi kami ya seperti ini.

 

Tibyan : Lalu dengan siapa pasangannya?

Heri Suko Martono : Ini sedang dimatangkan terus. Tidak hanya di tingkat Bekasi, juga dibahas dalam level Jawa Barat dan DPP (Pusat). Bagaimana kalau berpasangannya dengan kalangan birokrat, bagaimana kalau dengan akademisi, atau bagaimana kalau dengan internal, bagaimana pula kalau dengan tokoh umat. Sebagai partai besar, golkar tidak kering kader.

 

Tibyan : Kesimpulannya dengan siapa Mas? Kapan diumumkan? 

Heri Suko Martono : Sabaaar. Ini masih berproses terus. Secepatnya akan diumumkan.

 

Tibyan : Bagi Golkar, apa sesungguhnya yang akan menjadi perhatian lima tahun ke depan dalam pembangunan di Kota Bekasi jika kadernya yang terpilih kembali?

Heri Suko Martono : Banyak hal. Diantaranya, bagaimana kita memberikan perhatian pada proses pembangunan sosial kemasyarakatan agar lebih kondusif lagi.  Rasa persatuan dan kebersamaan, toleransi, saling menghormati sesama, harmonisasi antara kaum minoritas dan mayoritas. Kualitas sosial kemasyarakatan inilah akan menjadi bagian penting dalam pembangunan ke depan. Karena tahun - tahun berikut setelah 2018 adalah tahun dimana potensi gesekan sosial begitu banyak.

 

Tibyan : Banyak umat Islam yang kecewa dengan Rahmat Efendy terkait berbagai statemennya seputar kasus Santa Clara?

Heri Suko Martono: Saya melihat ini menyangkut komunikasi. Di luar substansinya, saya mengakui komunikasi tentang pembangunan Gereja ini tidak ditangani dengan sebaik baiknya. Sehingga beberapa pihak merasa benar sendiri. Masyarakat tidak mendapat jawaban yang memuaskan. Pihak birokrat juga ke-PR-annya tidak dihandle dengan baik. Sehingga, menurut saya pribadi ya, pak walikota saat itu harus berfikir sendiri dan menjawab sendiri.

 

Tibyan : Apa yang akan dibenahi dari sisi komunikasi ini ?

Heri Suko Martono : Bisa saja misalnya, nanti untuk setiap persoalan penting dan punya bobot politis yang besar, walikota mendapat asistensi yang lengkap. Baik dari sisi subtansi masalahnya maupun sisi - sisi lainnya, seperti pertimbangan - pertimbangan komunikasinya. Sehingga, jangankan dalam bentuk jawaban, ekspresi dan mimik wajah pun harus diberi masukan.

 

Tibyan : Kembali ke soal pencalonan, kalau dari internal partai yang diminta untuk mendampingi Rachmat Efendi, berarti sekretais DPC adalah orang yang paling memungkinkan?

Heri Suko Martono : Hahahaha … saya ini kader partai. Saat ini saya sedang fokus pada tugas saya sebagai sekretaris. Cukup, Itu sudah menyita banyak energi saya. Saya gak mau energi saya terkuras untuk bicara mengandai andai. Apalagi sebagai pengurus di Islamic Centre Bekasi, saya juga setiap hari harus mengurusi banyak persoalan. Okay, clear.

 

Heri Suko Martono alias Heri Budhi Susetyo adalah tokoh muda Bekasi, putra H Suko Martono, yang semasa menjabat sebagai Bupati Bekasi mendirikan Islamic Centre bersama KH Noer Alie. Islamic centre itu pun menggunakan nama KH Noer Alie. Kini Heri menjadi pengurus inti Yayasan, sementara KH Noer Alie diwakili putranya KH Amien Noer dan KH Nurul Anwar juga menjadi tulang punggung Islamic Centre. (*)

Menjelang peringatan Hari Pahlawan Nasional tanggal 10 Nopember, Profesor  KH H Didin Hafidhuddin mengajak umat Islam untuk menumbuhkan kebersamaan, menghidupkan jiwa kepahlawanan, semangat berkorban dan sebagainya. Bakal calon presiden yang pernah diusung Partai Keadilan ini mengaku aneh melihat prilaku pemimpin negeri ini.  “Negerinya makin kacau, rakyatnya makin sulit, ko pemimpin masih asik asik saja membangun pencitraan. Sudahlah hentikan berbagai bentuk pencitraan itu, rakyat menanti karya nyata Anda yang cepat dan akurat untuk membenahi morat maritnya negeri ini,” katanya. Berikut perbincangan Pimpinan Redaksi Tibyan, Amin Idris, dengan Prof Didin Hafidhuddin ;

 

Tibyan; Setiap tanggal 10 Nopember diperingati sebagai hari untuk mengenang jasa jasa pahlawan kita. KomentarAnda ?

Prof Didin Hafidhuddin; Iya, bangsa Indonesia telah menetapkan tanggal 10 Nopember sebagai momentum untuk mengenang para pahlawan kita. Ini bagus. Ini bisa menjadi pelajaran untuk bangsa kita, bahwa para pahlawan inilah orang orang yang telah berkorban untuk bangsanya. Ini adalah tradisi yang baik saya kira.

 

Apa yang terpenting untuk kita jadikan pelajaran dari peristiwa peringatan hari pahlawan kali ini?

Setidaknya kita mengenalkan kepada generasi bangsa ini bahwa segala capaian yang diraih hari ini oleh bangsa Indonesia adalah buah dari kerja keras, perjuangan bahkan pengorbanan jiwa, harta dan nyawa mereka yang kini disebut pahlawan. Saya kira ini pentingnya kita memperingati hari pahlawan itu.

 

Memperingati hari pahlawan hanya mengenang masa lalu, membanggakan keberhasilan para tokoh yang tiada, sementara apa yang dilakukan saat ini sama sekali tidak mencerminkan nilai nilai kepahlawanan?

Ini bagian dari semangat itu. Semangat kepahlawanan itu memang harus dibumikan, dan terus menerus digelorakan dalam kehidupan sehari hari. Pahlawan itu kan pengorbanan. Pahlawan itu kan rela memberi yang terbaik untuk kepentingan yang lebih besar. Pahlawan itu kan berbuat kebaikan dan menegakkan kebenaran tanpa takut risiko. Dia bisa melakukannya meski risikonya hartanya habis, jiwa terancam, bahkan nyawa melayang. Nilai nilai ini memang semakin langka saat ini.Mereka yang kita kenal saat in isebagai pahlawan adalah orang yang telah terbukti merelakan semuanya, termasuk nyawanya, untuk rakyatnya.

 

Membumikan semangat kepahlawanan yang prof. maksud?

Saat ini kan bangsa kita sedang menghadapi banyak persoalan. Sudahlah, yang jadipejabat, jadi pemimpin, tampillah sebagai pemimpin yang berjiwa pahlawan. Para pahlawanitukanmenjadipahlawankarenasemasahidupmerekaberbuatjujur, berbuatbanyakuntukbangsa. Makanyamerekadinobatkansebagaipahlawan. Karenaitu, para pemimpinsaatinihendaknyamelakukanhalsamakalauingindikenangsebagaipahlawanbangsa. Peluangituada.

 

Apa yang prof lihat tentang para pemimpin bangsa kita saat ini?

Sudahlah hentikan semua pencitraan. Saya hanya heran saja, dalam keadaan negeri ini semakin sulit, pemimpinnya masih saja sibuk membangun pencitraan. Sudah hentikanlah. Lakukan yang dibutuhkan rakyat.

 

Semangat kepahlawanan rasanya sudah jauh dari kehidupan bangsa kita. Hampir di semua lapisan social tampaknya sudah semakin pragmatis berfikirnya, dan matrialistik cara hidupnya. Semangat berkorban dan nilai nilai kebersamaan makin terasa langka?

Ini menjadi tugas kita semua. Kalau perlu momentum hari pahlawan selalu dijadikan semacam gerakan untuk membangun kembali semangat kepahlawanan itu. Ini yang harus dijadikan fokus memperingati haripahlawan. Serimonial boleh saja tapi fokusnya semacam dibikin gerakan semangat kepahlawanan. Di sekolah, di rumah, di masjid, di kantor kantor …

 

Kalau Islam bagaimana memandang kepahlawanan itu Prof?

Islam itu justeru yang paling banyak mengajarkan nilai nilai kepahlawanan. Kebersamaan, semangat memberi, saling membantu dan sebagainya. Nabi Ibrahim adalah symbol kepahlawananitu. Lihatlah, bagaimana dia berkorban. Lihat juga Nabi Muhammad  dan para sahabat, adalah pemimpin yang hidup bersahaja tapi berhambur untuk mensejahterakan rakyat yang dipimpinnya. Bagaimana Abu Bakar menyerahkan semua hartanya untuk umat. Bagaimana Abdurrahman bin Auf dan seterusnya. Mereka juga tidak segan segan turun ke masyarakat, mendengar langsung keluhan mereka dan memberinya solusi.

 

Tapi pemimpin saat ini hampir tiap hari ada yang tertangkap tangan oleh KPK?

Saya kira itu karena keringnya semangat kepahlawanan. Maka saya piker perlu juga sentiment keislaman ini dipakai untuk menyetop korupsi. Misalnya, anda pemimpin, anda muslim. Kalau masih mengaku muslim, ayo hentikan korupsi. Ini menjadi tugas bersama, dalam seluruh lapisan masyarakat bisa dihidupkan semangat itu, muslim menolak korupsi. Muslim membela kepantingan umat dan rakyat. Ulama dan kaum cenrdik pandainya bisa terus saling mengingatkan, saling menjaga dalam lingkar komunitas muslim itu. (*)

TIBYAN -- Dalam kesempatan peringatan HUT Islamic Centre yang ke 24, Pimred Tibyan  Amin Idris, sempat bincang bincang dengan KH Amin Noer, ketua Dewan Pembina Yayasan Nurul Islam KH Noer Alie Islamic Centre Bekasi di ruang Dewan Pembina. Berikut sebagian petikan perbicangannya;

Tibyan : Apa yang terpenting bagi Islamic Centre pada usianya yang ke 24 ini?

KH Amin Noer : Islamic Centre sebagai lembaga dakwah makin dihimpit oleh pertumbuhan budaya masyarakatnya. Ketika awalnya para pendiri membangun Islamic Centre, saat itu masyarakat disekitarnya masih sangat berbeda dengan masyarakat jaman ini. Karena itu, perjuangan dakwah terletak pada bagaimana upaya menyesuaikan strategi sesuai dengan tantangan yang dihadapinya. Berbeda tantangan berbeda pula strategi yang dipakai untuk mengantisipasi tantangan itu. Jadi pada usia 24 tahun ini diperlukan kemampuan untuk membaca tantangan tantangan itu.

Tibyan : Masalahnya, pertumbuhan dan tantangan social itu selalu lebih cepat dan lebih dinamis?

KH Amin Noer : Kunci utamanya ada di pengurusnya, tentunya. Pengurusnya dulu harus kompak. Baru kemudian akan bisa melahirkan gagasan gagasan brilian untuk menjawab tantangan itu.

Tibyan: Apakah pak kiyai melihat pada usia 24 tahun ini Islamic telah memberi sinyal sinyal kuat sebagai pusat peradaban yang diimpikan pada pendirinya dulu?

Kiyai Amin Noer: Saat Islamic berdiri, bekasi masih belum apa apa. Tapi saat itu, Kiyai Noer Alie telah melihat gambaran masa depan yang seperti apa akan terjadi di Bekasi. Heterogenitas, pertumbuhan ekonomi, pergeseran nilai dan sebagainya. Karenanya kiyai melontarkan untuk mendirikan Islamic Centre. Dan Bupati Suko Martono pun cepat tanggap. Bersama Pak Rusmin, gagasan Islamic Centre pun segera diwujudkan. Trio inilah yang meletakkan dasar dasar pemikiran tentang Islamic Centre. Setelah 24 tahun problematikanya pun pasti berbeda, tapi essensinya tetap sama, yakni bagaimana memberi pendampingan pada umat untuk hidup lebih baik dan lebih beradab.

Tibyan: Di dalam lingkungan Islamic orang bisa saja khusuk berzikir, bertasbih, beribadah dan melakukan hal hal positif sesuai moralitas Islam. Tapi selangkah saja diluar pagar Islamic kemaksiatan ada dimana mana?

Kiyai Amin Noer : Inilah tantangan dakwah. Hendaknya, Islamic itu tidak sekadar memberi kekhusuan di dalam lingkungannya sendiri. Tapi bagaimana juga menjangkau wilayah di sekitarnya. Jadi tidak sekadar memperkuat basis dalam rumahnya, tapi bisa juga member sinar kedamaian pada lembaga-lemaba, institusi institusi di sekitarnya. Ini memang “pr” yang harus terus diperjuangkan.

Tibyan: Tapi pak Kiyai, heterogenitas umat pun tampaknya menjadi pertimbangan untuk pergerakan Islamic dalam berdakwah.

Kiyai Amin Noer : Memang. Islamic juga hendaknya memperkuat terus komitmennya sebagai lembaga pemersatu. Kita sadar, dilingkungan kita telah berkembang  aneka warna warni pemikiran keberagamaan. Ada yang begini, ada yang begitu. Kesannya berbeda. Tapi sebetulnya tidak.  Karena itu, seharusnya di sisi ini Islamic memberi ruang yang lebih luas lagi, agar semua perbedaan itu bisa cair di sini. Sesuai misinya, Islamic bisa tampil menjadi pemersatu di tengah perbedaan itu.

Tibyan : Apa yang dapat pak Kiyai sampaikan untuk Islamic Centre menyongsong tantangan dakwah yang makin kompleks?

Kiyai Amin Noer : Begini ya. Islamic ini kan sebuah lembaga. Ada organisasi di dalamnya. Ada orang orang yang mengelolanya. Ada aturan dan ketentuan ketentuannya yang ditetapkan sebagai pedoman kerja. Bahkan ada program kerja yang ditetapkan, jangka pendek dan jangka panjang. Selagi hal hal ini diikuti dan dipatuhi, seberat apapun pekerjaan akan menjadi ringan. Apalagi tugas dakwah yang dijalani dengan ikhlas, pasti Allah akan membantu menyempurnakannya. Jadi kuncinya adalah perkuat organisasi dan ikuti ketentuan yang telah ditetapkan.

Tibyan : Saya ingat, Al Magfurlah (KH Noer Alie-red) pernah membriefing kami tentang berorganisasi dakwah. Pertama kekompakan, kedua hidup hidupilah organisiasi tapi jangan cari hidup dari organisasi. Menurut Pak Kiyai masih relevan kah?

Kiyai Amin Noer. Iya,  kompak itu utama. Tentunya dalam bingkai organisasi. Ada struktur. Fungsikan setiap struktur organisasi dengan sebaik banyknya. Dengan cara ini pasti lahir kekompakan yang bisa dipertanggungjawabkan. Juga tidak mengeksploitasi organisasi untuk memperkaya diri secara tidak benar. Ini artinya tidak boleh korupsi dan sejenisnya. Pesan pesan moral itu sesungguhnya masih berlalu, tergantung bagaimana kita menafsirkannya secara luas dan terbuka. (Abu Bagus)

Foto : Ilustrasi/aos4ventos.com.br

Rihlah

TIBYAN.ID - Claudio Muhammad Baker, Juru Bicara Muslim Association of Santos (MAS), wisatawan Muslim yang datang biasanya memberikan pandangan dan masukan agar MAS bisa menjalankan kegiatannya dengan lebih baik. MAS juga seringkali menyarankan tempat wisata yang perlu dikunjungi.

Baker mengatakan MAS biasanya merekomendasikan Santos, Sao Paulo, Goianida, Curitiba, Brasilia, dan Florianopolis untuk dikunjungi wisatawan Muslim. ''Tempat itu memiliki komunitas Muslim yang besar dan warganya memiliki pemahaman yang komprehensif tentang Islam,'' katanya.

Menurut Baker masyarakat di tempat-tempat itu juga menghormati tradisi dan kultur Muslim. Di samping tempat itu memang memiliki pemandangan, pantai, dan kehidupan yang indah. Dengan demikian wisatawan Muslim bisa menikmati wisatanya dengan baik.

Berdasarkan sensus terakhir yang dilakukan pada 2001, ada 27.239 Muslim di Brasil. Meski Islamic Brasilian Federation (IBF) menyatakan ada sekitar 1.5 juta Muslim di sana. Sebagian besar Muslim di Brasil berasal dari Suriah, Palestina, dan Lebanon.

Mereka sampai di Brasil pada abad ke-19 selama Perang Dunai I dan pada 1970-an. Sejumlah warga Irak juga ada di Brasil, mereka tiba di sana sejak dimulainya invasi yang dilakukan AS dan sekutunya terhadap Irak pada 2003.

Sebagian besar Muslim hidup di negara bagian Parana, Goias, Rio de Janeiro, dan Sao Paulo. Meski demikian ada juga komunitas Muslim dalam jumlah yang cukup banyak di Mato Grosso do Sul dan Rio Grande do Sul. Di Sao Paulo, terdapat sekitar 10 masjid.

Salah satu masjid yang terbesar dan termegah adalah Mosque Brasil yang berada di pusat kota. Masjid ini merupakan masjid pertama yang dibangun di Amerika Latin. Proses pembangunan masjid tersebut dimulai pada 1929. Dan kini, masjid tersebut menjadi salah satu komoditas wisata negeri yang kental nuansa Katholiknya ini. Brasil memang piawai mengelola pariwisata.

 

(Sumber : Republika)

Foto : pinbisnisnet.weebly.com

Rihlah

TIBYAN.ID - Jumlah visa umrah yang telah dikeluarkan Arab Saudi pada musim umrah tahun ini (sejak September 2018) mencapai 2.785.790 visa. Menurut data Kementerian Haji dan Umrah Saudi, sebanyak 2.346.429 jamaah umrah telah tiba di Kerajaan Saudi.  

Dari data tersebut dilaporkan, masih ada 345.114 jamaah yang berada di wilayah Kerajaan Saudi. Dilansir dari Arab News, Ahad (13/1), angka itu termasuk sebanyak 233.910 jamaah di Makkah dan 111.204 di Madinah. 

Sebagian besar jamaah, yakni sebanyak 2.122.424, datang ke Kerajaan melalui jalur transportasi udara. Sementara sebanyak 213.121 jamaah masuk ke negara itu melalui jalur darat dan 10.884 jamaah tiba melalui jalur laut. 

Jumlah jamaah terbesar berasal dari Pakistan, yakni sebanyak 637.745. Angka jamaah terbesar kemudian diikuti oleh Indonesia (420.410).

Pemerintah Saudi memang memiliki rencana reformasi Visi 2030. Saudi memiliki tujuan untuk menarik lebih dari 30 juta jamaah umrah. Di samping itu, Saudi juga bertekad menyediakan layanan yang sangat baik dan pengalaman yang luar biasa saat berziarah bagi para jamaah.  

Tahun lalu, kementerian tersebut meluncurkan indikator pekanan di mana pihak berwenang dapat melacak jumlah jamaah yang datang ke Kerajaan. Sehingga nantinya, memperkaya pengalaman mereka dengan menyediakan layanan berkualitas tinggi. 

Berikut ini delapan negara penyumbang jamaah umrah terbesar lima bulan terakhir: 

    No        Negara                                          Jumlah 

  1. Pakistan                                            637.745 jamaah 
  2. Indonesia                                          420.410 jamaah 
  3. India                                                 292.607 jamaah  
  4. Malaysia                                            135.895 jamaah  
  5. Yaman                                               128.618 jamaah 
  6. Mesir                                                   73.179 jamaah  
  7. Turki                                                    65.970 jamaah  
  8. Uni Emirat Arab                                    59.855 jamaah  
  9. Bangladesh                                          57.701 jamaah  

 

(Sumber : Ihram.Republika)

Foto : google

Rihlah

Oleh: Ahmad Agus Fitriawan

Pelaksanaan ibadah haji tidak bisa dilepaskan dari dimensi perjalanan kemanusiaan pada aspek spiritual dan sosial untuk bisa dijadikan pelajaran dan tun tun an dalam menghadapi persoalan kehidupan. Ibadah haji merupakan rukun Islam kelima yang sarat dengan pengamalan nilai-nilai kemanusiaan universal.

Ka'bah merupakan simbol persatuan dan kesatuan umat, juga mengandung makna eksistensi kemanusiaan. Misalnya, di dalam Ka'bah terdapat Hijr Ismail, putra Nabi Ibrahim AS pernah hidup dalam suka dan duka bersama ibunda Siti Hajar pada saat ditinggal ayahandanya. Siti Hajar adalah sosok ibu yang penuh kasih sayang terhadap anaknya, sertsa memiliki keimanan kokoh, ketenangan batin, dan keluhuran budi.

Ia adalah wanita kulit hitam, miskin, bahkan budak. Namun demikian, budak wanita ini ditempatkan Allah SWT di sana untuk menjadi pelajaran bahwa Allah memberikan kedudukan kepada seseorang bukan karena keturunan atau status sosialnya, melainkan karena ketakwaan kepada Allah SWT dan usaha untuk hijrah dari kejahatan menuju ke baik an, dari keterbelakangan menuju peradaban.

Makna ibadah haji sungguh-sungguh memberikan pelajar an luar biasa atas perjalanan spiritualitas kemanusiaan hamba Allah dalam mengharap ridha Allah SWT dan meraih cin ta-Nya. Pertama, sikap totalitas dalam beribadah lillaah ta'ala. Setiap ibadah menuntut adanya totalitas kepasrahan dan kepatuhan.

Inilah yang disebut ibadah ikhlas dan pasrah yang jauh dari riya (agar dilihat orang lain), sum'ah (agar didengar orang lain), sehingga bukan hanya lillaah ta'ala melainkan juga billaah ta'ala. Tidak ada seorang ulama pun tidak bersepakat bahwa apa yang dilakukan Nabi Ibrahim AS dan Siti Hajar terhadap Ismail merupakan bukti penyerahan diri sepenuhnya terhadap perintah Allah SWT.

Kedua, sikap selalu ingin dekat dengan Allah SWT. Inti ibadah adalah menguji kesabaran dan sejauh mana segala pola pikir dan pola tindak manusia benar-benar sejalan dengan perintah Allah SWT dan menjauhi segala larangan- Nya. Karakter manusia yang dekat dengan Allah SWT ada lah manusia yang sanggup melaksanakan segala pe rin tah Allah dan menjauhi larangan-Nya dengan ketulusan hati untuk melaksanakan ibadah itu tanpa ragu sebagai rasa syukur kepada Allah SWT.

Ketiga, sikap keberanian menanggung risiko yang berat sebagai bentuk kecintaan kepada Allah SWT, melebihi ke cintaan kepada yang lainnya. Harta, takhta, dan jabatan atau kedudukan, bahkan jiwa ini sekalipun, tidak ada artinya jika mahabbah atau rasa cinta abadi kepada Allah hadir di relung hati manusia.

Keempat, sikap melepaskan dan memerdekakan diri dari sifat dan sikap buruk manusia. Ibadah kurban me ngan dung makna agar umat Islam dalam kehidupannya selalu membuang jauh-jauh atau membunuh sifat-sifat binatang yang bersarang dalam dirinya. Karakter dominan dari binatang adalah tidak memiliki rasa kebersamaan atau per satuan dan kesatuan, hanya mementingkan isi perut (kenyang), serta tidak mengenal aturan, norma, dan etika. Berkurban berarti menahan diri dan berjuang melawan godaan egoisme. Walahu'alam.

 

(Sumber : Republika.co.id)

Follow Us

Advertisement

Top Stories

Grid List

TIBYAN.ID, Bekasi – Pimpinan Yayasan Attaqwa, KH M Amin Noer MA, mengatakan puncak persatuan umat Islam yang terkuat dan indah adalah disaat dipersatukannya kaum Anshor dan Muhajirin di Madinah. Dari persatuan itu terbangun Sulthon yakni menggunakan system khilafah, yang presidennya atau kholifahnya adalah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Menjawab pertanyaan Tibyan, putra pejuang Pahlawan Nasional ini mengatakan, persatuan umat yang dibina melalui sistem pemerintahan khilafah ini terus berlanjut dengan sangat baik di masa khilafah para sahabat. Tapi, kepentingan Yahudi dan Negara Negara barat kemudian merasa terusik dan mereka kemudian memecah system khilafah ini. Melalui Kamal Attaturk di Turki kekhalifahan Turki kemudian berganti dengan system demokrasi. Inilah kemudian awal kehancuran persatuan umat.

Kalau di Indonesia menurut Kiyai Amin Noer, puncak persatuan umat terkuat di saat organisasi politik dan organisasi massa Islam bersatu dalam wadah politik Masyumi. Saat itu, semua unsur masyarakat Islam berada dalam satu payung persatuan yang sangat indah, kuat dan solid sampai akhirnya terjadi pelemahan internal yang ditandai dengan keluarnya NU dari tubuh Masyumi.

Persatuan umat tidak terjadi begitu saja. Seorang pemimpin, dalam hal ini Nabi Muhammad Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam membangun umat menjadi sebuah kekuatan yang kokoh dengan jalan persatuan. Yakni diawali dari dipersatukannya kekuatan muhajirin dan anshor di awal periode Madinah, alias fase kedua perjuangan dakwah Islam.

Jadi kalau sekarang ini dikeluhkan terjadi pelemahan umat Islam di berbagai penjuru dunia, termasuk di Indonesia, karena pemimpin umat saat ini tidak lagi mampu membangun kesatuan dan persatuan yang kokoh. Kita dilemahkan oleh situasi yang tidak mampu kita antisipasi.

“Nabi Muhammad telah mencontohkan kepada ummatnya, dalam melaksanakan perintah Allah perlu menyiapkan semua kekuatan, terutama dalam menghadapi tantangan yang datang dari musuh-musuh Islam,” kata KH M Amin Noer MA, pimpinan Yayasan Attaqwa Ujungharapan Bekasi.

DUA KEKUATAN

Dalam membangun kejayaan umat Islam, Nabi Muhammad telah jelas memberikan contoh keberhasilannya melalui dua hal. Pertama Nabi membangun kekuatan moral pengikutnya. Kekuatan moral yang dimaksud adalah Iman dan ibadah. Ini pondasi, landasan yang kalau diibaratkan bangunan.

Kekuatan moral ini adalah fase pertama membangun ketahanan umat. Bagaimana mereka meyakini adanya kekuatan yang absolut, yakni Allah Ta’ala. Dalam hal ini adalah pendidikan iman dan Islam. Mereka diajarkan tentang Tuhan dan ajaran ajaran teologinya. Fase ini terjadi di Makkah. Disebut pembinaan periode Mekkah.

Fase kedua adalah pembangunan kekuatan pasca Mekkah, yakni setelah berhijrah dan Nabi membangun dari basis Madinah. Di sini Nabi membangun kekuatan umat pada fase professional. Urusan Iman dan Islamnya alias kewajiban dasarnya, atau fardhu ‘ainnya, sudah dianggap tuntas. Selanjutnya, di Madinah Nabi mempersatukan kekuatan Anshor dan kekuatan Muhajirin.

Betapa persatuan mereka adalah persatuan yang sangat kuat. Yang punya harta, berbagi dengan hartanya. Yang punya ternak berbagi ternaknya. Bahkan salah seorang sahabat Anshor rela menceraikan isterinya agar bisa dinikahi oleh saudaranya yang berhijrah. Subhanalloh.

Nah dari dua kekuatan yang terpadu antara kaum Muhajirin dan Anshor inilah kemudian Nabi membangun sistem khilafah, dan nabi Muhammad sebagai pemimpinnya, yakni khalifah alias Presiden. Saat itulah kekuatan umat Islam terbangun atas dasar mahabbah yang sangat dalam.

Pada fase Madinah ini pula Nabi Muhammad memperkuat pertahanan untuk melawan bila ada serangan musuh dengan menciptakan Sulthon. Dengan persatuan Muhajirin dan Anshor inilah secara depacto terbentuk satu Negara. Maka sebagai pemimpin negara Nabi membuat aturan dan Undang-undang sehinngga terwujud umat yg asyidda alal kuffar ruhama bainahum, yakni kekuatan yang tegas kepada kaum kafir dan penuh cinta dan kasih sayang sesamanya.

Realitas ini ditandai dengan dilaksanakannya prinsip-prinsip keadilan yang tidak pandang bulu. Sampai sampai beliau berkata, “Seandainya Fathimah putri Muhammad mencuri akan aku potong tangannya,” kata Muhammad dalam kapasitasnya sebagai Presiden saat itu. Islam menegakkan keadilan dengan prinsip tidak tebang pilih.

WhatsApp Image 2019 09 24 at 08.58.01

MAMPU MELAWAN

Dengan persatuan yang kuat dan keadilan yang tidak tebang pilih Nabi Muhammad mampu melawan setiap serangan musuh yang datang menyerang umat muslim. Mulai dengan Perang Badr 1 dan 2, Perang Khondaq, Perang Uhud dan seterusnya sampai nabi wafat, persatuan umat atau negara terus berlanjut di dalam berbagai proses pemilihan pemimpin baru dalam memilih presiden. Dengan istilah Kholifah, diawali dengan Kholifah Abu Bakar, Kholifah Umar, Kholifah Usman dan Kholifah Ali dan seterusnya sampai Kholifah Uthman di Turki, persatuan terus terjaga dengan baik.

Saat itu tak ada satu kekuatan pun yang bisa melumpuhkan kekuatan Islam. Sampai akhirnya pada tahun 1924 Yahudi berhasil memporak-porandakan persatuan Islam. Caranya, Yahudi menghilangkan sistem Kholifah dan menggantinya dengan sistem Presiden melalui pengkaderan Kamal Attaturk di Turki.

Kamal menggulingkan Kholifah terakhir di Turki yaitu kholifah Abdul Hamid dan mengganti system pemerintahannya dengan Sistem Presiden. Seluruh Negara Islam tidak bersatu lagi dan masing2 berdiri sendiri. Dari sinilah kekuatan negara Barat dibawah politik Yahudi mencaplok satu demi satu negara Islam.

Mesir, Palestine, Pakistan, dijajah Inggris. Libya dijajah Italy. Aljazair dijajah Prancis. Dari sinilah Negara - negara Barat dan Yahudi berketetapan untuk menghancurkan setiap ada persatuan ummat Islam, termasuk di Indonesia, yang mulai menjadikan prinsip prinsip kekhilafahan.

Perasatuan umat Islam yang sangat kokoh, yang dibangun oleh KH.Hasyim Asy’ari melalui kekuatan partai Islam yang bernama Masyumi, sebagai sebuah partai yang merupakan pusi dari seluruh Partai dan Ormas Islam, juga ikut menjadi sasaran untuk dihancurkan dari dalam.

KH Hasyim Asy’ari tidak mengkoptasi sendiri Masyumi. Terbukti dalam masa kepemimpinannya Masyumi pernah dipimpin oleh seluruh elemen kekuatan umat. Ketua pertama adalah putranya KH.Wahid Hasyim kemudian terpilih yang kedua M. Nasir, lalu Prawoto dst.

Fenomena ini mencemaskan musuh Islam. Lagi lagi Barat dan Non Muslim tidak rela Islam bersatu. Maka dibujuklah NU untuk keluar dari Masyumi, maka pada tahun 1952 keluarlah NU dari Masyumi. Akhirnya terbentuklah poros Nasakom (Nasionalis, Agama, Komunis) sebagai poros kekuatan politik baru Presiden Soekarno.

Masyumi jelas menentangnya dan harus menanggung resiko dibubarkan oleh Soekarno. Sejak saat itulah awal kehancuran persatuan umat muslim di Indonesia. Terjadilah Gestapu tahun 1965 semakin mempertegas kehancurannya. Sejak pecah peristiwa politik tahun 1989, terbentuklah stigma terorisme yang dilekatkan ke dalam umat Islam. Umat Islam dicap sebagai teroris, radikalis.dan ekstrimis.

“Ini sekilas sejarah agar kita tahu apa dan siapa di balik hancurnya persatuan umat Islam di Indonesia,” kata KH M Amin menegaskan.

Menjawab pertanyaan, KH M Amin menegaskan penyebab pertama karena menurunnya terus kekuatan persatuan di kalangan umat Islam sejak runtuhnya kekhalifahan di Turki. Disamping tidak fahamnya umat atas pengertian Fardlu Kifayah. Menurutnya, semua kekuatan non muslim menghancurkan Islam dengan prinsip dasar Fardlu Kifayah.

Apa itu Fardlu Kifayah, sebagian besar orang Islam saat ini hanya memahaminya sebagai sholat janzah, makna yang sempit. Sementara non muslim memahaminya dengan benar, yakni fardlu kifayah itu adalah Profesionalisme. 

Jadi karena salah memahami Fardlu Kifyah maka profesionalitas umat Islam di bidang keilmuan dan kemajuan peradaban jauh tertinggal. Umat Islam tidak memiliki profesi yang mampu mempertahankan eksistensinya sebagai umat yang mayoritas. Nasibnya selalu terombang ambingkan di antara kekuatan musuh dan para penghancur Islam. (mai)

Foto : [AFP]

Dunia Islam

TIBYAN.ID - Pemimpin Hamas Ismail Haniyeh mengatakan pertempuran melawan Israel belum berakhir. Hal tersebut dia sampaikan setelah eskalasi di Jalur Gaza mereda pascakonfrontasi antara Israel dan kelompok Jihad Islam.

"Kemenangan kita di babak sebelumnya tidak dihitung oleh jumlah roket yang ditembakkan atau oleh kerugian yang berkelanjutan, tapi oleh fakta perlawanan telah sepenuhnya melumpuhkan entitas Israel," kata Haniyeh pada Ahad (17/11), dikutip laman Xinhua.

Pernyataan itu dibuat Haniyeh setelah memberikan ucapan belasungkawa kepada keluarga Abu Malhous. Saat Israel menggempur basis Jihad Islam di Gaza, keluarga Abu Malhous turut menjadi korban. Dia kehilangan delapan anggota keluarganya.

Pekan lalu, Israel membombardir Gaza dengan serangan udara. Mereka membidik kelompok perlawanan Palestina Jihad Islam. Tel Aviv menuding Jihad Islam sebagai kelompok yang telah melancarkan serangkaian serangan terhadapnya.

Serangan Israel menyebabkan komandan Jihad Islam Baha Al-Atta dan istrinya terbunuh. Anggota Jihad Islam segera melakukan serangan balasan dengan meluncurkan sejumlah roket ke Israel. Namun, roket-roket itu dapat dihalau oleh sistem pertahanan Iron Dome milik Israel.

Militer Israel kemudian melakukan serangan balasan ke Gaza dan menyebabkan 35 warga, termasuk wanita dan anak-anak tewas. Menteri Pertahanan Israel Naftali Bennett sempat menegaskan negaranya tak ragu membunuh target yang mengancam Israel.

"Siapa pun yang berencana menyakiti kita di siang hari, tidak akan pernah aman melewati malam itu," ucapnya.

Saat situasi kian memanas, Mesir berinisiatif memediasi kedua belah pihak. Kairo berhasil membuat mereka menyepakati gencatan senjata.

PBB mendesak Israel menyelidiki serangan yang mengakibatkan jatuhnya korban sipil di Gaza. Namun, Israel belum secara resmi menanggapi seruan tersebut.

 

Sumber : Republika

Foto : Netralnews

Health

TIBYAN.ID, Jakarta - Bagi jemaah haji, bertandang ke Tanah Suci bisa jadi satu kesempatan untuk bertemu unta, hewan berpunuk yang berasal dari Timur Tengah. Namun, jamaah masih dihimbau untuk menjauhi binatang tersebut karena unta berpotensi membawa virus MERS-CoV atau Middle East Respiratory Syndrome Corona Virus.

"Berkaitan dengan potensi penyakit, (yang harus diwaspadai-red) itu MERS-CoV jadi jangan dekat-dekat dengan unta karena memiliki potensi penularan," sebut Kepala Pusat Kesehatan Haji Kemenkes, dr Eka Jusup Singka, kepada detikHealth, Selasa (2/7/2019).

dr Eka menambahkan, hal ini tidak hanya berlaku pada unta saja tetapi juga binatang lain yang hidup di lingkungan yang sama. Selalu batasi diri dan jaga jarak aman.

"Tapi kalau daging untanya sih nggak masalah kan sudah dimasak," candanya.

Pada kesempatan lain, Menteri Kesehatan RI, Nila F Moeloek, juga telah berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan Arab Saudi untuk melakukan antisipasi penularan MERS-CoV.

"Kami sudah berbicara dengan Kementerian Kesehatan Arab Saudi dan mereka mengerti hal itu. Jadi selama nanti pelaksanaan haji mereka akan memperhatikannya," kata Menkes.

"Nah dari kita saya mengimbau jangan dekat-dekat unta, nggak usah foto-foto sama unta," tutupnya.

 

Sumber : detikHealth

foto : KVUE.com

Wawasan

TIBYAN.ID - Oleh : Pundra Rengga Andhita, Pengajar di Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Surakarta. 

Nicole and I thought this was a great opportunity to organically introduce an LGBTQ couple in the series, and we asked Hasbro and they approved it.’’ (Michael Vogel).

Itulah pernyataan yang diungkapkan penulis dan produser, Michael Vogel menjelang beredarnya episode The Last Crusade dari film kartun My Little Pony: Friendship is Magic.

Sebuah film yang mengisahkan pertemanan enam karakter perempuan, produksi Hasbro Studios Amerika Serikat. Seperti dilansir situs daring People, episode ini memperkenalkan Aunt Holiday and Auntie Lofty sebagai pasangan lesbian yang merawat karakter Scootaloo.

Popularitas telah mendorong distribusi film ini menjadi semakin meluas di berbagai pasar internasional. Seiring perkembangan internet, My Little Pony dapat ditonton tidak hanya melalui layar televisi, tetapi juga situs daring, seperti Youtubedan lainnya.

Di Indonesia, film ini sudah mulai tayang sejak tahun 2016 melalui salah satu televisi nasional. Tampilan visual yang didominasi warna pastel berhasil melahirkan interaksi intens antara anak-anak dan tayangan ini.

Film kartun memang telah menjadi bagian panjang dari perjalanan sinematografi. Pada era modern, film kartun kerap menjadi pilihan orang tua untuk ditontonkan ke anak, baik itu batita, balita, maupun usia lanjutnya.

Tidak sedikit orang tua yang memberikan akses televisi atau gawai untuk anak guna mengakses film kartun. Niatnya mungkin baik, hendak memberikan hiburan atau sekadar pengalih perhatian bagi anaknya.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Ghilzai, Alam, Ahmad, Shaukat, dan Noor (2017), ada tiga hal yang didapatkan anak-anak dengan menonton film kartun, yakni kesenangan (41 persen), tindakan (23 persen), dan belajar (17 persen).

Ya, film kartun memang tidak hanya menyajikan fungsi hiburan, tetapi juga informasi dan edukasi. Film kartun bisa menjadi salah satu medium pembelajaran sosial yang efektif bagi anak.

Namun, yang menjadi persoalan adalah muatan pesan apa yang terdapat dalam film tersebut. Ini penting karena anak merupakan plagiator yang baik.

Pesan yang disampaikan melalui film kartun bisa dengan mudah diterima oleh anak tanpa mempertimbangkan layak dan tidaknya. Semakin tinggi intensitas menonton maka semakin besar peluang mereka untuk mengingat pesan dalam film tersebut.

Nantinya, ingatan ini tidak mengendap sementara. Ingatan akan melekat seiring perkembangan usia dan menjadi acuan mereka untuk melihat kehidupan nyata seperti apa yang ada dalam film. Ini yang perlu menjadi perhatian.

Film bukan hanya menyajikan unsur sinematik melainkan juga unsur naratif yang memuat pesan tertentu. Muatan pesan sering kali terkait dengan kepentingan yang ingin disampaikan pembuatnya.

Advertisement

Upcoming Events