15
Wed, Jul

Dihitung Kembali Lahan dan Bangunan Islamic Yang terkena Proyek Becakayu

Aktual
Typography

TIBYAN.ID - Tim dari Panitia Pengadaan Tanah (P2T) bersama beberapa instansi terkait, antara lain dari Pemkot Bekasi, PT Waskita dan dari KKDM bersama pengurus Yayasan Nurul Islam kembali menghitung bangunan yang tergusur proyek tol Becakayu.

“Sampai saat ini masih ada beberapa hal yang belum singkron. Misalnya hitungan jumlah lahan yang terpakai, juga bangunan yang terkena proyek,” kata Ketua Pengurus Yayasan Nurul Islam, H Paray Said dalam rapat kordinasi di ruang kerja Yayasan, Kamis 25/6.

Meski belum singkron, pihak pelaksana terus mendesak pengurus Yayasan untuk mengizinkan beberapa bangunan yang terkena proyek segera dirubuhkan. “Meski lahannya milik Pemkot, tapi bangunan yang ada di atasnya adalah milik Yayasan yang dibangun dari uang ummat,” kata Paray Said.

Pekan sebelumnya, Paray didampingi beberapa pengurus Yayasan juga membicarakan hal ini di depan Asisten Tiga Walikota Bekasi. Hal yang sama dilaporkan Paray Said, bahwa terjadi inkonsistensi dalam pelaporan mengenai asset yang dipakai.

Karena itu dalam rapat kali ini diharapkan ada penghitungan final mengenai berapa lahan yang terpakai dan berapa bangunan yang tergusur. Mengenai mekanisme penggantiannya akan ditentukan setelah perhitungannya matang.

BANGUNAN YANG TERGUSUR

Dalam perbincangan dengan Kepala Bidang Pendidikan, Dakwah dan Humas Yayasan, H. Amin Idris, perkantoran yang terkena proyek tol Becakayu ini antara lain gedung sekretariat. Di gedung dua lantai ini terdapat Ruang Kerja Pembina, Ruang Rapat, Ruang Sekretaris, Ruang Redaksi Tibyan, Ruang Kerja Ketua Yayasan dan Wakil, Ruang Bendahara dan Unit Badan Pengelola.

Sebelumnya telah dirobohkan adalah gedung Taman Kanak Kanak, Rumah Imam Masjid, Rumah Kompos. Di sebelah timur ada Asrama Arafah yang juga terdampak. Disini ada asrama anak pesantren tahfiz.

Menjawab pertanyaan Tibyan.id, Kepala Badan Keuangan dan Pengelolaan Aset Daerah, Pemkot Bekasi, Afandi, mengatakan aset daerah yang terkena proyek Becakayu wajib diganti. Aset itu tidak dijual tapi harus diganti ( ruislagh).

Dikatakan, aset Pemkot yang terkena proyek seluas 5959 meter yang selama ini digunakan Islamic Center dan PDAM.

“Jadi lahan itu harus diganti dengan 1 berbanding 2 di lokasi yang lain. Artinya jika yang terkena proyek itu 5959 maka yang harus diganti 2 kali dari 5959 meter,” jelas Afandi.

Sedang untuk bangunan lanjut Afandi diserahkan ke Islamic Center sebagai pemilik bangunan. Jika mereka minta ganti dengan uang tinggal dihitung berapa nilai bangunan. Kalau mau minta bangunan silahkan, itu sudah hak Islamic Center.

Sementara, Drs. H. Amin Idris mengatakan, mayoritas pengurus menghendaki penggantian dalam bentuk bangunan. Baangunan bangunan yang tergusur proyek diganti lagi dengan bangunan melalui perhitungan kebutuhan Yayasan.

“Karena lahannya jadi menyempit maka pola pembangunannya harus vertikal,” kata Amin Idris lagi. 

Dengan meminta pergantian berupa bangunan, Yayasan akan terhindar dari fitnah. “Ini asset milik masyarakat, karenanya akan sangat banyak mata yang mengawasi proses pergantian dan pembangunan ini,” katanya.

Menurut Amin Idris, pembangunan masjid yang tak kunjung selesai sudah mengundang banyak pertanyaan. Berbagai sorotan tertuju ke Pengurus. Karena itu, demi menghindari fitnah dan berbagai tuduhan, sebaiknya Yayasan cukup menyodorkan gambar bangunan dengan perhitungan kualitasnya.

“Jadi pengurus diharapkan cukup menerima bangunan yang siap pakai,” katanya. Meski demikian, keputusannya akan ditempuh melalui mekanisme rapat, antara pengurus dan pembina. (imran)