04
Tue, Aug

Turki Umumkan Pengurus Masjid Hagia Sophia

Foto: Reuters

Dunia Islam
Typography

TIBYAN.ID, ANKARA - Badan Urusan Agama (Diyanet) Turki resmi merilis nama-nama pengurus Masjid Hagia Sophia. Dikutip dari keterangan pers pimpinan Diyanet Ali Erbas, terdapat 8 pengurus resmi Hagia Sophia; 3 sebagai imam dan 5 lainnya sebagai muazin.

Ketiga imam Masjid Hagia Sophia itu antara lain: Mehmet Boynukalin, Ferruh Mustuer, dan Bunyamin Topcuoglu. Sementara kelima muazin Hagia Sophia adalah Mehmet Hadi Duran, Ridwan Akbas, Sukru Asileren, Ibrahim Coban, dan Alpcan Celik.

Alasan dasar pemilihan 8 nama itu dilandaskan pada pengetahuan agama dan kefasihan dalam membaca Al Quran.

"Masjid kami mendapatkan keindahan yang hakikinya dari kekayaan (pengetahuan) mereka. Mereka akan menghiasi masjid dengan pelajaran-pelajaran, bacaan shalat, dan doa-doa yang fasih nan baik", kata Ali Erbas pada konferensi pers, Kamis (23/7/2020), sehari sebelum peresmian Hagia Sophia menjadi tempat beribadah pada hari ini, Jumat (24/7/2020).

Dengan pemilihan nama-nama itu, pemerintah Turki berharap Hagia Sophia menjadi tempat memproduksi pengetahuan Islam yang bertanggung jawab.

"Mereka akan memberi pengetahuan Islam yang akurat dan ilmiah, sehingga membawa ajaran agama ke arah yang benar untuk negara kami," katanya di konferensi pers.

Para imam Masjid Hagia Sophia itu memiliki rekam pendidikan dan pengalaman Islam yang jelas. Mehmet Boynukalin merupakan profesor di Fakultas Teologi Universitas Marmara. Dia menyelesaikan studi master dan doktor di Universitas Marmara setelah menyelesaikan pendidikan sarjana di Al-Azhar Mesir. Ia memiliki beberapa publikasi, salah satunya adalah penelitian ilmiahnya di Inggris mengenai pembaruan metode fikih.

Sementara, Ferruh MuĊŸtuer merupakan salah satu qori' terbaik Turki yang menjuarai lomba bacaan Al Quran di Kuwait pada 2015.

Sama seperti Mustuer, Bunyamin Topcuoglu juga merupakan qori' terbaik Turki. Ia telah memenangkan beberapa lomba Quran internasional, seperti di Moskow, Rusia beberapa waktu lalu.

Mehmet Boynukalin mengatakan tugas yang diembannya adalah tugas sejarah.

"Kami berterima kasih kepada Diyanet sebagai penyelenggara peristiwa bersejarah ini. Adalah suatu kehormatan dan tanggung jawab besar menerima tugas ini," ujar Kepala Departemen Hukum Islam Universitas Marmara itu.

(ber)
 
 
Sumber : SINDO