25
Fri, Sep

Obrolan Senja Di Buitenzorg Cafe (1) : Islam Phobia dimulai dari Arab Phobia

Ilustrasi Masuknya Islam di Nusantara(Kemendikbud RI)

Dunia Islam
Typography

Oleh: Amin Idris

TIBYAN.ID - Selain tentang angka-angka, tulisan mengenai sejarah biasanya tidak menarik, kecuali bagi mereka yang memang tertarik. Tapi sore itu saat bertamu Mas Pono di kediamannya, saya benar benar terjebak dalam obrolan sejarah. Sore itu, sejarah jadi menarik buat saya.

Supono, orang yang saya panggil Mas Pono ini pemerhati sejarah. Dia praktisi politik. setiap kali bicara dengan saya, dia lebih memilih tema-tema sejarah, budaya, dan hal hal yang bersifat humanity. Sedikit-sedikit dia menyinggung perkara politk aktual di seputaran pekerjaannya.

Satu hal, tampaknya Mas Pono memang enggan bicara tentang partainya yang sedang gunjang-ganjing. Saya hargai itu. Bisa jadi dia menganggap ini urusan pendaringan yang orang lain tidak boleh tau. Setidaknya tidak boleh tau dari mulutnya.

Sore itu, di Buitenzorg Coffee, saya menghabiskan waktu ditemani special black espresso. Sore menjadi begitu indah dan jam terasa berlari ngebut. Inilah cafe berkonsep sejarah dan kebudayaan. Backing-Musiknya pun lagu lagu yang easy listening era tahun 80 -an. Ada buku guru saya, KH Noer Alie, di sini.

Penyimpangan Sejarah

Saya mulai membuka tema tentang gedung DPRD Jawa Barat yang dilockdown. Tapi Mas Pono membuka pembicaraan dengan pertanyaan yang mengejutkan, tentang Islamic Centre KH Noer Alie.

“Coba Islamic ambil peran, betapa saat ini banyak terjadi penyimpangan penulisan sejarah yang perlu diluruskan. Dia bertanya, apa benar Islam masuk dari Gujarat, atau dari Campak atau bahkan dari China?”

Penulisan sejarah masuknya Islam yang dikatakan dari Gujarat semata mata rekayasa Belanda yang tidak mau mengakui fakta bahwa Islam masuk nusantara dibawa oleh bangsa Arab, yakni Yaman atau dikenal arab Hadromy.

Jadi kalau sekarang ada Islam Phobia, sesungguhnya itu bersumber dari adanya Arab Phobia yang memang sudah dihembuskan oleh Belanda. Jadi adanya ketakutan terhadap kebangkitan Islam saat ini kemudian orang-orang Arab yang dinistakan. Ini adalah efek dari skenario masa silam, skenario Belanda.

Jadi menurut Mas Pono, Sejarah Islam di Nusantara banyak yang sudah diputarbalikkan. Penulisannya disesuaikan untuk kepentingan Belanda, untuk kepentingan kekuasaan penjajah saat itu. Anehnya, sampai hari ini banyak sejarawan tidak melakukan koreksi secara serius.

2f3951f0-2ad6-4d2c-9493-2414766468de.jpg

Mas Pono

 

Kebanyakan Datang Dari Hadral Maut

Bukti masuknya Islam dari Yaman antara lain dilihat dari banyaknya dokumen yang menyebutkan bahwa mayoritas keluarga sayid yang pindah ke Asia Tenggara pada abad kesembilan hingga abad ke-15 adalah pendatang dari Hadral Maut, Yaman.

Sebagian besar dari mereka tinggal di Brunei, Indonesia, Malaysia, Singapura, Provinsi Moro di Filipina, dan daerah Pattani di Thailand.

Tapi penelitian Islamolog asal Belanda, LWC van den Berg, menyatakan tidak ada data yang jelas mengenai jumlah orang Arab Hadralmaut yang bermukim di Indonesia (dulu masih bernama Hindia Belanda) sebelum 1859 M.

Berg menyimpulkan, orang-orang Yaman baru mulai datang secara masal ke Hindia Belanda pada tahun-tahun terakhir abad ke-18. Sampai disini terjadi kesimpulan yang berbeda. Bukan tidak mungkin disini ada sisipan kepentingan.

Beda lagi dengan Snouck Hurgronje. Ia menuliskan bahwa Islam di Indonesia berasal dari Gujarat. Mulai masuk pada abad 13 Masehi ditandai dengan berdirinya kerajaan Pasai.

Teori ini ditolak Buya Hamka. Menurut Hamka paham Islam di Gujarat mayoritas Syiah sedang di Samudera Pasai adalah Sunni dan bermazhab Syafii. Dua fakta yang tidak klop.

Lalu kapan Islam masuk ke Indonesia? Berdasarkan laporan dari Dinasti Tang 674 Masehi, ditemukan kuburan Syeikh Mukaidin yang tertulis di batu nisannya pada tahu 670 Masehi di Sumatera bagian barat. Berdasarkan catatan ini terlihat bahwa masuknya Islam ke Indonesia sesungguhynya sejak abad ke 1 Hijriyah yaitu dimasa Rasulullah saw dan Khalifatur Rasyidin.

Menurut Mas Pono, inilah sejarah. Banyak versi menunjukkan adanya banyak sudut pandang. Tapi sebagai sebuah pegangan yang sebenarnya, kalau umat Islam akan meluruskannya itu pun wajar wajar saja. Agar tak tertipu atas nama sejarah.

Tentang peran Islamic Centre agar ikut berkontribusi meluruskan sejarah, saya cuma colek bahunya Mas Pono. Padahal, ketuanya saat ini berdarah Yaman….(bersambung)