25
Fri, Sep

Obrolan Senja di Buitenzorg Cafe (2) : Arab Yaman Pembawa Risalah Ke Nusantara

*Ilustrasi Yaman

Dunia Islam
Typography

Oleh : Amin Idris

TIBYAN.ID - Secangkir black espresso dibuatkan langsung dari tangan Mas Pono. Selama gedung dewan Jawa Barat Lockdown, “saya banyak di rumah. Ya baca buku dan bereksperimen dengan kopi-kopi lokal terbaik,” katanya.

Iya, saya memanggilnya Mas Pono. Nama sebenarnya sih Supono. Ia praktisi politik yang dikenal sebagai pemerhati sejarah. Setiap kali bicara dengan saya, dia lebih memilih tema-tema sejarah, budaya, dan hal hal yang bersifat humanity. Sedikit-sedikit dia menyinggung perkara politk aktual di seputaran pekerjaannya.

Pernah dengar kisah legenda Kian Santang, pangeran Sunda yang bertemu dengan Sayyidina Ali? Semua orang pasti sudah mendengar ini.

Ini legenda, karena tidak memiliki bukti-bukti sejarah.Tapi tak akan ada asap jika tak ada api. Kalau dijadikan sekadar penguat pendapat yang mengatakan bahwa Islam sudah masuk sejak abad 1 Hijriyah, mungkin sah sah saja.

Buya Hamka meyakini masuknya Islam di nusantara ini sudah dimulai sejak masa Rasululloh dan khulafaur-Rasyidin di abad permulaah hijriyah. Kata Hamka, orang Arablah yang langsung mengislamkan pertama kali Nusantara ini. Dari tulisan perjalanan Ibnu Batutah dan berbagai peninggalan Dinasti Tang, diambil kesimpulan ini. Lalu siapa orang arab itu?

Bangsa Arab Yaman. Mas Pono sependapat dengan kesimpulan ini. Ia mengurai teori sosiologi bangsa Yaman. Al Mubarakfuri telah menjelaskan bahwa pada periode Mekkah, orang orang Yaman dikenal merespon paling cepat dalam menerima ajaran Islam. Selain Yaman adalah orang Yatsrib.

Kalau orang Yastrib memeluk Islam (sebelum baitul Aqabah) baru bersifat pribadi-pribadi, sementara orang Yaman disamping sudah berupa kafilah yang dibawah pimpinan Thufail bin Amru. Yang personal pun ada juga. Saat Hijrah ke Madinah Thufail berhasil mengajak 80 keluarga.

Dari sini dibuktikan banyaknya penduduk Yaman yang memeluk ajaran Islam. Maka Rasulullah memberi perhatian besar pada dua bangsa ini, yakni Bangsa Yaman dan Bangsa Yatsrib.

Salah satu wujud perhatian Rasululloh adalah dengan mengutus Muaz bin Jabal ke Yaman dan Mushab bin Umair ke Yastrib.

Jadi teori bahwa dari Yaman lah Islam masuk ke Indonesia bisa dimungkinkan karena sejak awal Yaman menjadi daerah yang merespon Islam dengan cepat seperti Madinah.

48198600-de50-4c33-8465-57460c61e2a1.jpg

*Mas Pono

 

Banyaknya Walisongo dan Habaib yang berasal dari Hadhramaut bisa menjadi salah satu bukti pendukung juga.

Secara letak Geografis, Yaman juga lebih mudah berinteraksi dengan daerah di Asia Selatan dan Tenggara melalui jalur perdagangan. Karena letaknya yang menjorok ke laut sehingga interaksi melalui laut lebih mudah.

Yaman bukan sekedar daerah yang cepat merespon ajaran Islam tetapi juga ketika Fitnah kemurtadan dan Nabi Palsu merebak di masa Abu Bakar, daerah ini termasuk yang membela Abu Bakar.

Inilah fakta bahwa ada peran peradaban dan islamisasi yang kuat dari bangsa Arab langsung. Banyaknya para habaib menunjukkan adanya peran mereka dalam membangun peradaban di Indoensia.

Jejak ini yang sejak awal ditakuti oleh kompeni Belanda. Sehingga Mas Pono menduka, beberapa teori sejarah yang digunakan untuk mengklaim masuknya Islam dari Hindia (Gujarat) dalam rangka menghapus jejak Arab.

Dan kini, semangat anti arab itu seakan dibangkitkan kembali. Dengan banyak cara, termasuk dengan cara cara keji, fitnah dan kriminalisasi. Mas Pono kemudian mengingatkan para ahli sejarah Islam, coba ini dikaji dan diluruskan. Agar kita tidak terhanyut dalam kesalahan yang menyesatkan. (bersambung)