25
Fri, Sep

Obrolan Senja di Buitenzorg Coffee (3): Kesaktian Sabdo Palon Jadi Penghambat

*Ilustrasi Raja Brawijaya V (Foto:Merdeka)

Dunia Islam
Typography

Oleh : Amin Idris

TIBYAN.ID - Dakwah Islam di kalangan raja jawa sebetulnya sudah terasa sejak Raja Brawijaya II. Tapi baru Raja Brawijaya V yang menyatakan masuk Islam. Saat itu pamor kerajaan Majapahit memang sudah mulai pupus.

Sambil duduk angkat kaki ditemani secangkir kopi kental espresso, Mas Pono detail menceritakan bagaimana Brawijaya V yang berkuasa pada 1468 sampai 1478 M terpapar ideologi Islam.

Supono, orang yang saya panggil Mas Pono ini adalah pemerhati sejarah. Dia praktisi politik. Setiap kali bicara dengan saya, dia lebih memilih tema-tema sejarah, budaya, dan hal hal yang bersifat humanity. Sedikit-sedikit dia menyinggung perkara politk aktual di seputaran pekerjaannya.

Raja Brawijaya V alias Bre Kertabhumi adalah raja terakhir yang berkuasa di Majapahit. Dia naik tahta menggantikan ayahnya yang bernama Prabu Bratanjung.

Raja pun Menjadi Muslim

Diakhir kekuasaannya sang raja yang bernama Bre Kertabhumi ini memutuskan menjadi mualaf (masuk Islam) setelah mendapat nasihat dari Sunan Kalijaga.

Tapi menjadi muslim bagi Bre Kertabhumi bukan jalan yang mulus. Sebelum bersyahadat, Sang Raja sebetulnya sudah menyatakan memeluk Islam saat menjamu tamunya, Syeikh Maulana Malik Ibrahim dan Raja Cermain di Istana Majapahit.

WhatsApp Image 2020-09-08 at 06.16.31.jpeg

Mas Pono

 

Tapi niat itu belum tulus. Karena Sang Raja mau masuk Islam kalau Dewi Sri, Putri Raja Cermain, bersedia dipersunting menjadi isterinya.

Mendengar syarat itu Syeikh Maulana Malik Ibrahim pun dengan tenang dan santun menjelaskan kepada Prabu Brawijaya. Dalam agama Islam dilarang mencampuradukkan antara yang haq (benar) dan yang bathil (salah).

“Kami justru merasa kasihan dengan prabu jika dalam memeluk Islam merasa terpaksa lantaran berkeinginan dapat mengawini Dewi Sari, " kata Syekh Maulana Malik Ibrahim seperti dikutip dalam buku Buku Brawijaya Moksa, karya Wawan Susetya.

"Biarlah kami berdakwah kepada siapa saja yang mau menerima agama Islam dengan tulus dan ikhlas, " jelas Syekh Maulana Malik Ibrahim.

Lalu rombongan ulama asal Turki tersebut akhirnya pamit pergi meninggalkan Majapahit tanpa membawa hasil.

Upaya untuk mengislamkan Prabu Brawijaya Vtidak berhenti. Kalangan keluarganya sendiri mulai mendakwahi. Mulai permaisurinya, Ratu Dewi Dwarawati, yang merupakan seorang muslimah hingga anak-anaknya dan para selirnya yang sudah beragama Islam.

Sang permaisuri Ratu Dewi Dwarawati yang mempunyai anak Ratu Ayu Handayaningrat, Dewi Chandrawati, Raden Jaka Peteng, Raden Gugur (Sunan Lawu Argopura) dan Panembahan Brawijaya Bondhan Surati selalu berulang kali mengajak Brawijaya V untuk memeluk Islam tapi selalu gagal.

Bahkan menantu sang raja yang tergolong ulama besar Raden Rahmat alias Sunan Ampel (suami Dewi Chandrawati) juga tak mampu meluluhkan ketegaran Brawijaya V untuk mempertahankan agama lamanya.

Syekh Jamaluddin Jumadil Kubra ulama besar dari Bukhara (Rusia Selatan) juga pernah mencoba berdakwah kepada sang Raja Majapahit, namun tetap saja tak berhasil.

Termasuk upaya yang dilakukan putra mahkotanya sendiri Raden Arya Damar (Adipati di Palembang) yang juga gagal mengislamkan Brawijaya V.

Ada juga Pangeran Jimbun alias Raden Patah anak Brawijaya V dari selir Dewi Kian yang sangat peduli terhadap ayahandanya,  kerap berdakwah kepada kanjeng Ramanya tetapi tetap saja berulang kali mengalami kegagalan.

Keangkuhan Prabu Brawijaya menerima Islam disebabkan saktinya dua penasihatnya, yakni Sabda Palon dan Naya Genggong. Keduanya selalu mendampinginya dan mencegahnya untuk masuk Islam. Kesaktian Sabdo Palonlah yang selalu menggagalkan upaya mendakwahi Bre Kertabhumi alias Prabu Brawijaya V.

Menurut Mas Pono, disinilah pentingnya strategi dalam berdakwah. Ketika banyak cara gagal dilakukan seorang da’i harus punya cara lainnya lagi. Pelajaran lain dari sini, seorang da’I harus tegar, tidak patah semangat dan mau terus berusaha.

Kesaktian Sabdo Palon ada batasnya. Raden Fatah pun mengutus Sunan Kalijaga, penasehat kerajaannya di Kediri untuk mendakwahi Ayahandanya. Rupanya, di tangan Sunan Kalijaga inilah Alloh membukakan hatinya Prabu Brawijaya V.

Maka pihak yang paling murka tentunya Sabdo Palon. Saat itu ia kecewa, lalu meninggalkan istana sambil bersumpah 500 tahun yang akan datang pasti janjinya ini akan dapat menghapus Islam dari bumi Nusantara.

Makanya, kata Mas Phono, kalau ada tokoh tokoh Islam yang sampai pada puncak kekuasannya, ia kemudian menkriminalisasi Islam, sesungguhnya dialah pengikut Sabdo Palon yang sedang menuai janji junjungannya.

Dan rupanya espresso arabica yang telah dingin semakin manis tersentuh ujung lidah. Di Buitenzorg kopi memang selalu nagih kenangan. (bersambung).