25
Fri, Sep

Obrolan Senja di Buitenzorg Cafe (4): Sabdo Palon dan Naya Genggong: Politik Pintu Belakang

*Ilustrasi Sabdo Palon

Dunia Islam
Typography

Oleh: Amin Idris

TIBYAN.ID - Begitu kuatnya peran Sabdo Palon dan Naya Genggong sampai keinginan suci Prabu Brawijaya V memeluk Islam tertunda-tunda? Mas Pono mengomentarinya singkat. Itulah Politik. Selalu ada kekuatan yang membayangi pimpinan formal.

Supono, orang yang saya panggil Mas Pono ini pemerhati sejarah. Dia praktisi politik. Setiap kali bicara dengan saya, dia lebih memilih tema-tema sejarah, budaya, dan hal hal yang bersifat humanity. Sedikit-sedikit dia menyinggung perkara politk aktual di seputaran pekerjaannya.

Sabdo Palon dan Naya Genggong itu begitu. Perannya besar. Pengaruhnya kuat terhadap rajanya. Tapi dalam struktur formal dia hanya pemimpin spiritual Budha. Memberi nasihat dan pertimbangan pertimbangan spiritual.

Nyatanya, dia mencengkeram mempengaruhi hampir semua lini kebijakan raja. Bahkan sampai urusan pribadinya. Sabdo Palon dan Naya Genggong bisa dikatakan pintu belakangnya kamar Prabu Brawijaya V.

Nah, tidak beda jauh kan dengan riel politik di negeri ini. Bayang-bayang yang disebut invisible hands seringkali mencengkeram kekuasaan. Sering terjadi kebijakan strategis dan sangat penting ada di bawah kendali pembisik ini. Biasanya ini menyakut urusan bisnis global.

Pemimpin Spiritual Penuntun Ghaib

Di kalangan masyarakat kejawen, Sabdo Palon dan Naya Genggong diyakini sebagai pembimbing Jawa sejati. Dalam banyak generasi ia muncul dengan raga yang berbeda. Nah disini masalahnya. Janji Sabdo Palon 500 tahun sejak runtuhnya Majapahit akan terjadi. Masih ada yang percaya Sabdo Palon akan kembali di tanah jawa. Sabdo Palon dan Naya Genggong adalah penuntun Ghaib yang berwujud. Itu yang dipahami kaum kejawen.

Banyak versi menulis tentang Sabdo Palon. Salah satu menyebutkan Sabdo Palon dan Naya Genggong baru mahsyur pada masa kepemimpinan Ratu Tribhuwana Tunggadewi. Ia setia sebagai penasihat spiritual hingga kepemimpinan Raja Brawijaya V. Sebelumnya, Sabdo Palon dan Naya Genggong dikenal dengan Sapu Angin dan Sapu Jagad.

Mas Pono menjelaskan, Sabdo Palon dan Naya Genggong bukanlah nama asli. Keduanya adalah nama gelar. “Sabdo” artinya orang yang memberi masukan. “Palon” artinya kebenaran. "Sabdo Palon" adalah seorang abdi yang berani menyuarakan kebenaran kepada raja dan berani menanggung akibatnya.

Sementara "Naya" berarti nayaka atau abdi raja dan "Genggong" bermakna mengulang-ulang suara. Naya Genggong adalah seorang abdi yang berani mengingatkan raja secara berulang-ulang tentang kebenaran dan berani menanggung akibatnya.

Jangka atau Serat Sabdo Palon yang diyakini sebagai karya pujangga R. Ng. Ranggawarsita yang menulis ramalan kehancuran Islam setelah 500 tahun kehancuran Majapahit. Maka sebetulnya tujuan akhir dari pengarang Serat Jangka Sabda Palon ternyata adalah sebuah proses untuk “menerima” Islam. Wallohu A’lam.

Dikutip dari Nukilan syair dalam Jangka Sabdo Palon yang diduga ramalan kehancuran Islam di Jawa adalah,

Pepesthene nusa tekan janji,

yen wus jangkep limang atus warsa,

kepetung jaman Islame,

musna bali marang ingsun,

gami Budi madeg sawiji, …

(Takdir nusa sampai kepada janji, jka sudah genap lima ratus tahun, terhitung jaman Islam, musnah kembali kepadaku, Agama Budi berdiri menjadi satu …)

Bait ini terletak di penghujung akhir Serat Jangka Sabdo Palon. Tuturan ini kemudian dikenal sebagai "Sabdo Palon Nagih Janji". Sabdo Palon memberitahukan tanda-tanda sosial dan tanda-tanda alam yang akan muncul di zaman kembalinya nanti.

Ada lagi tuturan dalam serat tersebut yang konon meramalkan terjadinya huru hara akhir zaman. Begini bunyinya,

Miturut carita kuna,
wecane janma linuwih,
kang wus kocap aneng jangka,
manungsa sirna sepalih,
dene ta kang bisa urip
yekti ana saratipun,
karya nulak kang bebaya,
kalisse bebaya yekti,
ngulatana kang wineca para kuna.

(Menurut cerita kuno dari para leluhur yang memiliki kelebihan dalam spiritual, semua cerita yang disampaikan para leluhur telah tertulis dalam kitab Jangka. Kelak umat manusia di masa depan akan lenyap separuh dari jumlah total yang menghuni bumi. Mereka yang bisa bertahan hidup harus berusaha dan bekerja untuk menjauhkan diri sendiri dari berbagai marabahaya. Cara untuk mempertahankan diri dari prahara di masa depan adalah dengan membaca, meresapi dan menjalankan ajaran-ajaran para leluhur) (bersambung)