15
Sun, Dec

Dari Bom Bali Membunuh Karakter Umat Islam Melalui Teror

Ilustrasi Teror Bom

Hot Issue
Typography

TIBYAN.ID - Saat ini isu radikalisme, khususnya radikalisme agama, khususnya lagi Islam terasa meresahkan masyarakat kita. Spanduk spanduk bertebar di mana-mana; menolak radikalisme dan terorisme. Bahkan pernyataan pernyataan para petinggi negeri ini dzauq nya tak bisa lepas dari semacam memberi irisan kepada umat Islam. Saya cuma bisa merinding doang, merasakan sesuatu yang sulit saya jelaskan. Seperti kentut, tidak tampak tapi terasa baunya.

Saya ingin mulai dari suasana malam itu yang seperti malam biasanya di Kuta Bali. Waktu sudah menjelang fajar. Bukan hening, tapi di lantai discotik Paddy's Pub dan Sari Club (SC) di Jalan Legian semakin panas. Pantai pasir putih justeru juga semakin bergemuruh. Pasangan muda mudi, turis turis asing, penjaja seks dan pemburu kepuasan nafsu birahi mengisi malamnya dengan jingkrak jingkrak, teriak teriak, ada juga yang “mojok” dengan pasangannya, atau sekadar kongkow kongkow, menikmati Balihai atau sejenis minuman bermerk lainnya.

Malam itu seperti malam - malam yang lain. Kawasan Pantai Kuta Bali memang tak pernah sepi dari kesenangan syahwat para wisatawan.  Bedanya dengan malam itu, ada rasa hening yang mencekam dalam hingar bingarnya malam menjelang pagi. Angin seperti malas berhembus, ombak pun hambar gemuruhnya.

Dalam rasa yang hening itu tiba tiba terdengan suara dentuman keras. “Booom”. Kesenangan pecah seketika, tawa berubah menjadi tangis. Semua berantakan, kocar kacir, porak poranda. Peristiwa itu kemudian menghebohkan jagat raya. Semua mata dunia melotot terarah ke Bali. Tangis, ucapan duka, karangan bunga dan sebagainya mengalir deras ke pulau dewata.

Polisi pun sibuk mencari jejak sang pelaku. Tak butuh waktu lama. Djoko Pitono atau Dulmatin, lahir di Desa Petarukan, Kecamatan Petarukan, Pemalang, 6 Juni 1970 ditetapkan sebagai otak pelakunya. Ia menjadi gembong terorisme karena aksinya pada Bom Bali I pada tahun 2002 ini. Aksi ini menewaskan lebih dari 200 orang. Keterlibatan Dulmatin merembet ke tokoh tokoh lain. Banyak nama disasar, antara lain Ustad Abu Bakar Baasyir, Imam Samudra serta tokoh-tokoh Jamaah Islamiyah lainnya. Dari sinilah kisah pembunuhan karakter itu dimulai.

Berbagai kekuatan besar ikut turun lacak ke Bali. Alasan mereka karena banyak warga Negara mereka dalam peristiwa itu yang jadi korban. Dan, seperti penjahit yang menemukan bahan bagus, mereka pun merajutnya sesuai kehendak. Tudingan terorisme kepada umat Islam makin njarem erat. Bom Bali banyak disebut sebagai kerja intelejen untuk mendukung grand scenario menyudutkan Islam. Pembunuhan karakter terhadap umat Islam.

Mereka yang berpeci putih khas, berbaju panjang atau gamis, berjenggot, bercelana cingkrang atau wanitanya bercadar atau berhijab besar diidentikkan dengan jamaah garis keras dan menjurut pada tuduhan teroris. Abu Bakar Baasyir pun menjadi bulan bulanan. Orang tua ini menjadi sasaran kepentingan. Amerika ngotot agar Baasyir jangan pernah dilepaskan.

Dulmatin mengakui merencanakan pengeboman dua diskotik di Kuta Bali pada tahun 2002 itu. Setelah itu ia menjadi incaran polisi. Reputasinya dengan permainan bom memang pernah diakuinya dalam kegiatan terorisme di Pulau Mindanao, Filipina.

Dalam sebuah penggerebekan di Warnet Multiplus di Ruko Pamulang, Tangerang, Selasa 9 Maret 2010 Delmatin tewas di usia 39 tahun. Ia terpaksa ditembak dengan senjata revolver karena melawan. Kematian Dulmati menancapkan stigma semakin keras bagi tuduhan umat Islam sebagai teroris. Tidak terucap, tapi gerak buruan terhadap teroris memang menyasar ke aktivis jaringannya Baasyir, pondok pondok pesantren tertentu, kiyai kiyai tertentu dan para muballigh yang dianggap garis keras. Saat itu, Baasyir memang sedang mendapatkan banyak applause atas ide idenya terhadap perda perda Syariah di berbagai pemerintah daerah. Baasyir masuk bui.

Memang cerita tak sampai di sini, ada episode kedua di Bali, yakni Bom Bali II dengan pelaku Amrozi bin Nurhasyim biasa dipanggil Amrozi. Amrozi, pemuda yang selalu tampil dengan peci putih, serban putih, berjanggut panjang tanpa kumis. Wajah bening bersih. Pria kelahiran Lamongan 5 Juli 1962 inilah yang dinyatakan sebagai pelaku utama dan berhak atas hukuman mati sebagai balasan dari aksinya dalam Peristiwa Bom Bali 2002.

Amrozi disebut-sebut termotivasi ideologi Islam radikal dan anti-Barat yang didukung oleh organisasi Jemaah Islamiyah besutan Baasyir. Ini hasil sidikan Polri tentunya. Pada 7 Agustus 2003, ia dinyatakan oleh pengadilan Indonesia bersalah atas tuduhan keterlibatan dalam peristiwa pengeboman tersebut dan divonis hukuman mati. Namun undang-undang yang digunakan untuk memvonisnya ternyata kemudian dinyatakan tidak berlaku oleh Mahkamah Agung pada Juli 2004.

Awalnya dipenjara di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Kerobokan di Denpasar, ia lalu dipindahkan ke LP Nusakambangan pada 11 Oktober 2005 bersama dengan Imam Samudra dan Mukhlas, dua pelaku Bom Bali lainnya. Akhirnya Amrozi dihukum mati pada hari Minggu, 9 November 2008 dini hari WIB.

Sampai disini cukup sudah alasan untuk menjadikan umat Islam sebagai pelaku teror. Karena beberapa teror yang terjadi dilakukan oleh mereka yang beratribut Islam. Mereka memperkuat tudingan itu ke berbagai konflik di timur tengah. Ada Alqaida, ada ikhwanul muslimin, Osama bin Laden dan sekarang ada ISIS. Pelaku teror adalah alumni dari aksi aksi kekerasan internasional, khususnya dari kawasan timur tengah.

Maka mulai saat itu, kiyai, pondok pesantren, ulama, muballigh, aktivis Islam berada dalam sorotan.  Sesekali muncul aksi sejenis dan heboh pemberitaan dengan dukungan media mainstream yang bahkan menyajikan secara life aksi penangkapan pelaku terror di desa desa. Densus 88 pun dibentuk antara lain untuk pekerjaan ini, memburu teroris, kaum radikalis agama. Imej yang terbentuk, Islam terorisme.

Saya pernah tanyakan kepada KH M Amin Noer, Pimpinan Yayasan Attaqwa yang juga ketua Pembina Yayasan Nurul Islam KH Noer Alie, Menurutnya tuduhan itu hanya tendensi politik saja. Ajaran Islam jelas, membunuh satu orang sama dengan membunuh seluruh umat manusia. Menghidupi satu orang sama dengan menghidupi seluruh umat manusia. Betapa ajaran Islam sangat tidak mengenal perbuatan terror apalagi sampai membunuh banyak manusia.

“Itu pesan Alquran. Itu pegangan kita. Jadi gak usah terpancing dengan tuduhan para politikus dan pengamat atau polisi dan penguasa sekalipun, karena mereka tidak paham dan tidak meyakini Alquran. Kalau kita berpijak pada nilai nilai Alquran, pasti Alloh akan membela kita dan Islam sebagai ideology kita,” kata KH M Amin Noer jelas. So, apapun yang mereka tuduhkan terhadap Islam, kebenaran yang pasti akan dijamin sebagai pemenangnya.

Apa yang terjadi dengan rangkaian pemboman yang dimulai dari Bom Bali I dan II serta beberapa peristiwa lainnya adalah peristiwa keji yang menginjak injak kemanusiaan. Tapi ada juga yang menyebut bahwa ini bagian dari grand design dunia internasional untuk mencoreng citra umat Islam, alias pembunuhan karakter terhadap umat Islam. Wallohu a’lam. (abubagus)