25
Mon, May

Gara - Gara Covid-19 Ada Yang Menganggap Tuhan Telah Mati

Hot Issue
Typography
TIBYAN.ID– Virus Corona menjadi wabah yang mengguncang dunia. Di tengah guncangan itu, ada dua pandangan umat manusia dalam menyikapinya. Pertama ketakutan, cemas, panik sampai melakukan hal hal yang melebihi batas. Seakan tiada lagi kekuatan absolut di atas kepalanya yang menjadi tempat perlindungannya.
 
Bahkan saking paniknya dia mengganggap tuhan tidak adil, atau tuhan telah mati, atau tuhan tidak ada. Buktinya, kalau ada mengapa dia membiarkan virus ini menguncang mahluk bumi dan membuat mereka panik dan menderita sejadi jadinya.
 
Di sisi lain ada lagi mereka yang nyantai, meremehkan dan bahkan cuwek dan samasekali tidak merasa terancam.
 
Dengan meyakini semua penyakit datang dari Tuhan, tidak ada suatu kejadian di luar kehendaknya. Mati, sakit, sehat, sembuh, semua datang dari Allah. Dengan keyakinan bahwa virus corona ini ciptaan Allah, dia enteng saja berpasrah diri.
 
Dia tidak mau diisolasi, tidak mau berhenti cari makan, tidak mau mengurung diri.  Mati karena terpapar corona saat cari makan lebih mulia disi Alloh daripada mati kelaparan sekeluarga karena tidak makan. Orang ini tidak takut mati. 
 
Atau seperti yang disampaikan KH Naji Maimun, pimpinan Pondok Pesantren Al Anwar, Sarang, Rembang yang menolak langkah langkah pencegahan yang sampai tidak membolehkan sholat jumat atau sholat rawatib berjamaah, pengajian dan berbagai ritual jama’ie lainnya. 
 
Apalagi sampai menutup jamaah yang umroh atau bahkan kemungkinannya menutup pelaksanaan haji. KH Najih menganggap Covid-19 ini belum jadi wabah. Dan ini adalah kehendak Alloh, mengapa kita harus mau dijauhkan dari Allah. Ini argumentasinya. 
 
Dengan dalil dalil Quran, memang ditemukan banyak pembenaran sikap ini. Intinya mau mati ya mati, mau sakit ya sakit. Asal di akhirat kelak bisa masuk sorga. Padahal beragama tidak hanya menggunakan pendekatan teologis alias tauhid. Masih perlu pendekatan lain, seperti fikh dan lain sebagainya.
 
Seperti pada kisah Sayyidina Umar saat mau hijrah, di daerah tujuannya sedang terjadi thoun. Dan Umar memilih kembali pulang. Argumentasinya jelas, bukan takut sama takdir Alloh tapi memilih takdir yang satu demi kemashalatan dan menghindari takdir Allah yang lainnya. Di dalamnya ada ikhtiar.
 
Covid-19 Dalam Perspektif Tauhid
 
 
Corona Virus bisa menjadi akses kajian dalam banyak dimensi. Orang bisa menjadikan entri point untuk menelaah perekonomian, social, bisnis, politik dan bahkan teologis alias tauhid. Dunia seakan sedang mereposisi diri, siapa siapa yang bisa bertahan, negara negara mana yang bisa tegar dan kuat menghadapi, pemimpin mana yang mampu mengantisipasi masalah. Atau sebaliknya, muka muka buruk mana yang berselimut sutera akan terbuka keburukannya oleh wabah ini.
 
Dalam perspektif tauhid misalnya, Dr M Abid Marzuki menyodorkan sisi lain menanggapi Covid-19 ini. Ia mengajak umat muslim membaca Covid-19 ini dari perspektif ilmu hikmah atau membahasnya dalam pendekatan tauhid. Dalam diskusi terbatas di kantor KBIHU Islamic Centre, wakil ketua Yayasan Nurul Islam KH Noer Alie ini menyayangkan ketika semua pemikiran terbelenggu pada bahasan dalam dimensi matrialistik. Sebatas kajian kasat.
 
Sesungguhnya virus ini bisa dilihat dari dimensi hikmat. Menurut Abid Marzuki, perspektif hikmah ini bersumber pada suatu keyakinan bahwa setiap sesuatu yang terjadi di muka bumi ini adalah kehendak Alloh. Tapi kadangkala kita yang sudah merasa pinter, merasa hebat hingga hanya mengukurnya dari sisi pandangan mata yang terbatas atau dengan kekuatan akal yang sempit. 
 
Coba lihat bagaimana Nabi Musa saat bertemu dan meminta diangkat menjadi muridnya Nabi Khidir. Nabi Musa yang hanya mengandalkan kekuatan pandangan mata dan ilmu logikanya tidak mampu memahami langkah Nabi Khidir yang berbasis hikmat. Perahu yang dibocorkan dan bisa menenggelamkan penumpangnya, pemuda yang tak bersalah tiba tiba dibunuhnya, atau disakiti tapi malah menolongnya. 
 
Nabi Musa tidak bisa memahami dimensi hikmah bahwa apa yang tampak salah, tampak tidak manusiawi, atau tidak masuk akal, sesungguhnya ada hikmah di balik itu. 
 
Maka, Corona kalau dipahami dari perspektif hikmah pasti memiliki pembelajaran yang luar biasa dari sang pencipta. Umat manusia di dunia ini sedang dikuliahi oleh wabah covid-19. Tinggal masalahnya apakah dunia mau memposisikan dirinya untuk belajar?
 
Lihatlah Amerika, Eropa dan beberapa negara industri maju seperti Korea, terseok seok menghadapi wabah ini. Kedigdayaan AS dan kesombongan presidennya seakan sirna, sampai sampai ia mengemis kepada Korea minta dibantu alat test cepat, Covid-19 rapid test. Kalau Korea bisa ngomong; “enak aja ente main minta begitu, emang ini dibikinnya pake (maaf) kentut.” Malu kan?
 
Atau lihat di Italia, bagaimana presidennya menangis karena merasa terlambat mengantisipasi. Sedang di Singapore, Thailand, Turkey, Malaysia, Philipina, para pemimpinnya begitu cerdas sigap dan tanggap sehingga wabah bisa diblok dengan baik. Kisah sukses mereka bisa jadi karena para pemimpin ini arif, tegas dan jelas dalam memutuskan sebuah kebijakan. 
 
Bagaimana pula di Indonesia. Presiden Jokowi bukan hanya terlambat mengantisipasi, tapi keliru mengambil kebijakan. Ketika orang lain menutup pintu perbatasannya dia malah membuka lebar dan memberi insentif untuk penerbangan yang membawa masuk wisatawan. 
 
Wabah yang bersumber dari Wuhan China tapi oleh Indonesia justeru orang China diberikan  kesempatan masuk dan diberikan ijin tinggal ribuan penduduk China di Indonesia, atau bahkan secara manipulative dibiarkan orang orang dari Cina melintasi perbatasan dan dibela oleh kekuasan. 
 
Atau kini disaat Menteri Keuangannya kelabakan tidak punya anggaran untuk mengantisipasi Covid-19 - terbukti dengan dilakukannya penggalangan dana masyarakat - pemerintah Jokowi malah terus mendorong pembangunan ibukota Baru yang menelan anggaran ribuan trilyun. Untuk menyelamatkan rakyat tidak ada dana tapi untuk memenuhi ambisi dengan ibukota baru yang belum tentu bermanfaat terus dilakukan dan bahkan dipamerkan. Duit dari mana coba?  Gila.  
 
Dengan menggunakan pendekatan hikmat, covid 19 sesungguhnya sedang mengajarkan rakyat Indonesia mengenali pemimpinnya, apakah mereka punya pemimpin cerdas atau pemimpin yang sradagsrudug. Inilah yang dimaksud Dr. Abid Marzuki yang juga Ketua STAI Attqwa, hikmah di balik Covid-19. Tidak semua orang memahami ini, bahkan Nabi Musa sekalipun gagal menjadi murid hikmahnya Nabi Khidir.
 
Apa yang terjangkau oleh akal manusia, yang dirasakan dan yang dilihat adalah fenomena keilmuan. Kajian dalam perspektif ini tidak mampu membawa seseorang ke dalam dimensi tauhid yang utuh. Tapi pahamilah dengan pendekatan hikmah, semua musibah, malapetaka, kesulitan, penyakit bahkan kematian tidak akan membuat seseorang menjadi putus asa dan menyalahkian Tuhan. Apalagi kalau sampai membawa pada kesimpulan tuhan tidak adil atau tuhan telah mati. Nauzubillah. (abubagus).