23
Sun, Feb

Gerakan Aksi 5 Mei Permalukan Kalagan Islamophobia

Uncategorised
Typography

TIBYAN -  Sukses Gerakan Aksi Bela Islam (Aksi 55) yang digelar  Jumat kemarin (5/5),  kembali menampar, bahkan mempermalukan kalangan  Islamophobia yang sejak awal gencar mendiskreditkan umat Islam sebagai pihak intoleran, radikal, dan berencana ingin menggulingkan Presiden Joko Widodo.

Aksi 55 yang dimobilisir Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF MUI) pimpinan  ustad Bachtiar Nasir itu, selain  berhasil menyampaikan  pesan kepada Mahkamah Agung agar lembaga ini menjamin independensi majelis  hakim yang menanangani perkara Ahok  ( Basuki Tjahaja Purnama), juga telah menunjukkan soliditas yang terjadi di kalangan umat maupun para pimpinannya.

Aksi ini sebelumnya, oleh mereka yang phobi terhadap Islam, kembali  dituduh  sebagai aksi radikal,  intoleran,  dan ancaman terhadap NKRI. Bahkan, melalui sejumlah media utama (mainstream) secara terang terangan  disebut bakal berujung pada upaya kudeta terhadap Jokowi. Tuduhan ini, bahkan ditanyakan langsung kepada  Panglima TNI Jenderal Gatot Bramantyo melalu pertanyaan pertanyaan yang disampaikan seorang host dalam salah satu acara televisi.

 Tuduhan ini, tak urung membuat Jenderal Gatot merasa tersinggung. "'Kudeta Presiden Jokowi', saya agak tersinggung kata-kata itu, karena saya umat Islam juga," ujar Gatot yang menunjuk bukti bukti sejarah bahwa umat Islam begitu besar andilnya pada berdirinya Republik Indonesia.

Tuduhan umat Islam akan melakukan kudeta, intoleran, dan anti kebhinekaan ini, juga mendapat tanggapan dari  Din Syamsudin. Tuduhan itu menurut mantan Ketua PP Muhammadiyah dan Ketua MUI ini sungguh menyakitkan. "Tidak dapat dibayangkan keadaan Indonesia jika umat Islam tidak toleran," kata Din dalam siaran persnya.

Tuduhan ini, juga terlihat dari konten konten karangan bunga yang hingga hari ini membanjiri Balaikota DKI Jakarta, depan Mabes Polri dan di sejumlah daerah lain. Anehnya, konten karangan bunga yang sangat provokatif ini dan  seolah mengundang ‘’perang’’ sepertinya  mendapatkan pembiaran.

Yang menarik adalah,  di tengah suasana provokatif  yang mendiskreditkan itu, Aksi 55  kemarin, sebagaimana aksi aksi Bela Islam sebelumnya,  berjalan tertib,  bahkan mendapat ucapan terimakasih dari Polda sendiri. Selain ustad Bachtiar, turut memberikan orasinya antara lain mantan Ketua MPR/ Ketua Umum PAN, Amien Rais.

GNPF MUI  yang memimpin aksi ini member I tajuk:  Aksi Simpatik Menjaga Independensi Hakim. Aksi itu dilakukan untuk menjaga independensi hakim dalam peradilan gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama dalam sidang penodaan agama. Massa aksi pun menemui perwakilan MA dan menyampaikan aspirasinya. Usai aksi tersebut, massa pun berangsur membubarkan diri.

Sebelumnya, massa GNPF MUI melakukan aksi 55 di depan gedung Mahkamah Agung (MA). Setiba di MA, 10 perwakilan GNPF MUI diterima oleh perwakilan MA. Salah satu yang ditemui adalah tokoh GNPF MUI Didin Hafidhuddin.

Sedangkan MA diwakili Sekretaris MA Pudjo Harsoyo, Kabiro Hukum dan Humas MA Ridwan Mansyur, serta Panitera MA Made Rawa.

Mahkamah Agung (MA)  kemudian memberikan jaminan,  majelis hakim yang menangani hingga memutus perkara dugaan penodaan agama dengan terdakwa Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok akan adil. Tidak hanya itu, hakim sidang Ahok juga dijamin bebas dari intervensi.

"Kami berani menjamin majelis hakim akan berlaku adil dan terbebas dari intervensi apa pun bentuknya," jelas Panitera MA, Made Rawa Aryawan, di Gedung MA Jakarta, Jumat, 5 Mei 2017, seperti dikutip dari Antara.

Aryawan mengatakan, independensi atau kebebasan hakim dalam menangani perkara dijamin oleh undang-undang. Sehingga tidak boleh ada pihak mana pun campur tangan dalam perkara yang ditangani oleh hakim. (tim/lya)