Islamic Centre Bekasi Buah Dari Sinergitas Ulama Umaro

Kalam
Typography

TIBYAN.ID – Mau tau bagaimana ulama dan umaro bersinergy? Datang dan lihatlah proses berdirinya Islamic Centre Bekasi. Islamic Centre Bekasi adalah bukti sejarah dari seorang kiyai yang menggagas ide untuk seorang Bupati. KH Noer Alie menyodorkan gagasan, bupatinya H Suko Martono sami’na wa atho’na dengan gagasan itu. Sinergy dua kekuatan umat inilah yang  melahirkan Islamic Centre Bekasi.

Alkisah, di suatu siang dalam forum pengajian rutin. KH Noer Alie melontarkan gagasan tentang sebuah pusat peradaban. Kepada Bupati Bekasi saat itu, H Sukomartono, Kiyai kharismatik ini mengatakan setengah menekan, “kita belum punya sesuatu yang seperti Islamic Centre. Mumpung saudara masih jadi Bupati, coba pikirkan bagaimana mendirikannya,” katanya.

Dalam forum yang berbeda, kiyai juga menyampaikan idenya ini kepada H. M. Rusmin, ketua DPRD Kabupaten Bekasi saat itu; “mumpung ente masih menjabat, ente musti punya kenang kenangan buat umat Islam Bekasi. Tolong bangun Islamic Centre, mudah mudahan bila ana meninggal nanti mata ana bisa merem.”

Gagasan kiyai Noer Alie bak strum yang menyengat spiritualitas Bupati Suko Martono dan ketua DPRD HM Rusmin. Bersama sama kemudian gagasan ini disosialisasikan ke semua lini umat. Ke masyarakat umum, ke ulama, ke tokoh tokoh masyarakat. Dan sambutannya luar biasa. Panitia pembangunan pun dibentuk dan Islamic Centre Bekasi pun didirikan.

KINI, 26 tahun sudah peristiwa awal pendirian Islamic Centre itu berlalu. Untuk memperingati usia itu, pada pertengahan Agustus silam, seluruh jajaran pengurus dan beberapa karyawan menziarahi makam para pendiri.

Dipimpin ketua panitia miladnya, H Hans Munthahar, saat itu ziarah dimulai dari makam KH Noer Alie di Pesantren Attaqwa berlanjut ke makam KH Masturoh di Jl Pramuka Alun alun Kota Bekasi, lanjut ke makam H Suko Martono di Karawang. Berikutnya ke makam H Saadih Muksin, makam Hj Yayah Zakiyah dan terakhir ke makam H Dede Satibi, mantan Bupati Bekasi yang makamnya ada di kampong halamannya, Garut Jawa Barat.

H Paray Said, ketua Pengurus Yayasan Nurul Islam KH Noer Alie mengatakan, tradisi ziarah ini adalah pertama kali dilakukan pengurus. Karena ketika semua pendiri telah tiada, terasa ada rasa kehilangan yang sangat. “Kita berziarah agar apa yang telah mereka lakukan dan tradisi serta nilai nilai yang mereka tanamkan bisa disegarkan kembali untuk dipedomani yayasan ini,.” Begitu kata Paray Said.

Perjalanan ziarah ini memiliki nilai spiritual yang tinggi. Bisa dipahami dakwah yang makin banyak tantangan, kehidupan sosial yang makin matrialistik, hedonistic dan hidup dalam suasana disharmony. Pastinya berdakwah menuntut banyak kekuatan dan kecakapan. Perkembangan informasi yang makin cepat membuat dakwah semakin tertantang. Amar makruf makin dipertaruhkan oleh kerasnya perkembangan amar munkar.

Saat itulah pengurus merasa perlu me-refresh kembali derap langkah perjalanan dakwahnya melalui Islamic Centre.. “Perlu ditegaskan di sini, ziarah kubur yang awalnya dilarang oleh Rasulullah tapi kemudian dibolehkan kembali sematamata karena melihat ada manfaat yang besar. Yakni bagaimana kita mengenang dan mengingat perjuangan almarhum, meneladani dan mempedomani apa apa yang telah dijadikan pijakannya dalam berdakwah,” begitu kata KHM Amin Noer dalam sambutannya menerima delegasi Islamic Centre di kompleks makan KH Noer Alie.

DALAM buku “Islamic Centre; Sejarah, Visi & Misi serta Pengabdiannya pada Masyarakat” pada masa awal berdirinya program yang akan dibangun melalui wadah Yayasan Nurul Islam KH Noer Alie ini meliputi banyak hal, mulai dari urusan kesejahteraan umat sampai pada masalah kehidupan ukhrowinya.

Misalnya di bidang sosial, Yayasan diamanati membangun lembaga bimbingan dan konseling untuk keluarga, baitul mal wa tamwil, pusat pengembangan ekonomi syariah, pusat layanan kesehatan, pembinaan olahraga juga mendirikan lembaga lembaga pendidikan.

Selain itu juga ada amanat untuk membangun semacam lembaga think-thank yang mengkaji dan menganalisa persoalan persoalan keumatan dan dakwah. KH Noer Alie mada masanya sudah melukiskan bahwa kelak masyarakat Bekasi akan sampai pada satu titik kehidupan yang matrialistik. Persaingan mereka hanya untuk urusan pemenuhan kebutuhan materi. Akibatnya mereka kehilangan kebahagiaan, tidak memiliki harmoni dalam hidupnya. Saat itulah Islamic Centre hadir.

Tugas amar makruf nahi munkar yang diemban oleh para kiyai, ustad, ulama dan dibantu para malaikat akan mendapat hambatan yang makin keras oleh kerja amar munkar nahi maruf yang dipelopori oleh para setan. Saat itu dakwah perlu lebih canggih, lebih fokus dan lebih professional.

Imron Nasution wartawan Senior yang mengikuti langsung pengajian bulanan KH Noer Alie dengan para pejabat dan pegawai sipil pemda waktu itu menyebutkan bahwa KH Noer Alie memimpikan Islamic Centre menjadi semacam mercusuarnya masyarakat, khususnya masyarakat Bekasi. Di sinilah tempat pijakan untuk mempedomani hidup mereka.

Mereka yang ingin mendalami agama, atau yang ingin belajar mengaji, atau ingin melakukan kajian, risert atau penelitian tempatnya di Islamic Centre. Atau ketika ada rumah tangga yang terguncang, pasangan yang konflik, persoalan waris, bimbingan pernikahan, atau ketika mereka galau dalam hidup, Islamic Centre lah jawabannya.

Sudah berhasilkah? Kalau sekadar ada, program itu memang ada dan dilakukan. Tapi bagaimana kualitas dan seberapa sukses program itu dijalani, semua orang berhak memberi penilaian sendiri sendiri.

Tapi, Zulkarnain Alregar, Dekan Prodi Komunikasi Institute Bisnis Muhammadiyah (IBM) Bekasi enggan memberi penilaian. Tapi katanya, dari apa yang nyata di depan mata, ia hanya ingin mempertanyakan mengapa pembangunan masjidnya sudah sekian lama tak kunjung selesai. Menurut Zul, sebagai jamaah dia merasa tak enak hati menyaksikan ini semua. Jangankan menjangkau banyak program, untuk hal yang kasat mata ini saja, tampaknya Islamic Centre perlu mendapatkan banyak dukungan dari masyarakat. Tanpa dukungan masjidnya bisa terbangkalai terus.

Lagi lagi, persoalan program dan cepat atau lambatnya sebuah pembangunan memang sangat erat kaitannya dengan dana. Pembangunan masjid yang menurut Zulkarnein Alregar lama jadinya semata mata karena memang dananya sepenuhnya mengandalkan dari penjualan kupon yang beberapa ribu rupiah saja. Sementara bantuan dari Pemkot Bekasi baru terjadi di masa walikotanya Muchtar Muhammad dan realisasi di awal kepemimpinan Rachmat Efendi.

Tahun 2017 sebetulnya sudah juga dianggarkan oleh Pemkot Bekasi untuk merampungkan pembangunan masjid ini. Tapi apa daya, keuangan pemkot pun terkendala oleh deficit anggaran sehingga tertunda untuk bisa dialokasikan ke masjid ini. Sabar sabar.

Kini legalitas lahan yang sekian lama terkatung katung terbit sudah dengan dikeluarkannya sertifikat HPL. Yayasan Nurul Islam KH Noer Alie pun dengan semangat baru me-reshufle kepengurusan Panitia Pembangunan Masjid (PPM). Dibawah kepengurusan Ade Hermansyah, Islamic Centre kemudian mendesain seluruh peruntukan lahannya dan membuat perencanaan pembangunan yang menyeluruh.

Luar bisa memang. Selain masjid yang megah, ada beberapa unit bangunan superblock. Misalnya ada hotel, perkantoran, gedung sekolah dan taman. Tak sedikit dana yang dibutuhkan. Tapi Ade optimis aka nada investor yang bisa diajak kerjasama. Dua tahun berlalu, upaya ini memang masih belun ada tanda tanda yang menggembirakan.

Ditengah kesibukan Ade menggalang calon investor dengan disain arsitekturnya, tiba tiba ada kabar sebagian lahan Islamic kegusur proyek jalan tol becakayu. Tapi semangat tak kenal surut meski disain arsitektur yang dibuatnya dengan harga mahal harus dirombak ulang. Kini PPM pun harus mengubah gambar pembangunan yang telah direncanakan.

Dari Zulkarnain Alregar, ungkapan singkatnya bisa dijadikan catatan. Bagaimana mensinergikan antara ulama dan umaro, yakni ulama yang ada di Islamic Centre dengan umaro yang pegang kendali pemerintahan. Kalau ini terjalin solid, saling mengisi dan saling menghormati, maka beban berat Islamic tentunya bisa dipikul bersama.

Setidaknya seperti yang telah digoreskan oleh para pendiri Islamic yang sukses membangun harmony antara kiyai Noer Alie dengan bupati Suko Martono.

Tidak ada jalan untuk berhenti dalam dakwah. Sikap lambat berarti mati. Kalau lalai atau lengah sejenak sekalipun anda pasti tergilas oleh arus roda jaman yang kadang tak kenal kompromi dan tak takut api neraka. Wallohu a’lam bis shawaab.(Abubagus)