MEMBANGUN KEDAULATAN UMAT

Kalam
Typography

Oleh Amin Idris

Bismillahirrohmanirrohim. Segala puji bagi Allah, robb yang mengatur seluruh jagat raya dan kehidupan umat manusia. Dari kuasaNya manusia bisa memiliki otoritas untuk melakukan banyak hal, mulai dari mengatur kehidupan pribadinya, keluarganya, lingkungannya sampai pada mengatur dan mengelola alam dan memenej kehidupan dunia untuk akhiratnya.

Allah telah menetapkan manusia sebagai khalifah di mukabumi. Artinya, untuk urusan kehidupan di dunia ini manusia telah menjadi wakil Allah yang memiliki otoritas untuk memanfaatkannya sesuai dengan garis dan ketentuan yang telah ditetapkan Allah.

Sehingga dengan begitu jelas dan gamblang di dalam Alquran Allah mengatakan, bila kemudian terjadi kerusakan di muka bumi ini, entah itu bencana alam, longsor, gempa bumi, banjir, kebakaran hutan, atau berbagai kekacauan semata - mata karena ulah manusia itu sendiri sebagai penyebabnya.

Firman Allah; “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (kejalan yang benar). Katakanlah (Muhammad), “Bepergianlah di bumi lalu lihatlah bagaimana kesudahan orang-orang dahulu. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah).” (Q.S. Ar Rum (30) : 41-42)

Jamaah Yang Berbahagia

Alam dan segala isinya ini adalah wujud kasih sayang Allah kepada makhluknya di muka bumi ini. Dijadikannya seluruh alam raya ini untuk kesejahteraan manusia, untuk kedamaian kehidupan manusia, untuk ketentraman dan kebahagiaan alam raya ini. Allah membolehkan untuk mengeksplorasi alam ini dengan pengetahuan yang juga telah dibekalinya.

“Dan ingatlah olehmu di waktu Tuhan menjadikam kamu pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah kaum ‘Aad dan memberikan tempat bagimu di bumi. kamu dirikan istana-istana di tanah-tanahnya yang datar dan kamu pahat gunung-gunungnya untuk dijadikan rumah; Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu merajalela di muka bumi membuat kerusakan.” (Al A’raf 74.)

Saat ini, problema umat manusia di dunia ini adalah terjadinya perusakan besar - besaran di muka bumi. Hampir di semua Negara di dunia ini terjadi krisis hutan. Indonesia bahkan mengalami hal yang parah. Selain hutan - hutannya yang dihabisi, penguasaan lahan pun terjadi ketidak seimbangan. Sebanyak 80 persen lahan di bumi Indonesia ini dikuasai hanya oleh beberapa orang saja.

Maka wajar ketika dimana mana terjadi bencana, sumbernya adalah karena ketidak seimbangan pengelolaan lahan, termasuk lahan hutannya. Bahkan, eksploitasi terhadap laut pun terjadi berlebihan. Akibatnya alam ini menjadi semakin tidak seimbang, kerusakan di mana - mana maka, dan bencana selalu mengancam.

Padahal Allah dengan tegas memberikan otoritas pemanfaatan alam untuk kesejahteraan seluruh umat mansia. Allah juga melakukan perbaikan - perbaikan, tapi kemudian dirusak lagi secara meraja lela. Padahal Allah pula memerintahkan agar setiap terjadi eksploitasi yang berdampak terjadinya perusakan di muka bumi hendaknya segera dilakukan recovery. Dan ketika itu tidak dilakukan pasti bencana akan datang sebagai hukuman dari Allah swt.

Beberapa ayat Alquran yang mengingatkan tentang ini antara lain;

“Yang membuat kerusakan di muka bumi dan tidak Mengadakan perbaikan”. Surat asy-Syu’araa ayat 152

“Dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya dan janganlah kamu merajalela di muka bumi dengan membuat kerusakan”. Surat asy-Syu’araa ayat 183

“Dan adalah di kota itu (Menurut ahli tafsir yang dimaksud dengan kota ini ialah kota kaum Tsamud Yaitu kota Al Hijr) sembilan orang laki-laki yang membuat kerusakan di muka bumi, dan mereka tidak berbuat kebaikan”. Surat An-Naml Ayat 48

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan,” Surat Al-Qashash Ayat 77

 

“Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan?.” Surat Muhammad Ayat 22

 

Meskipun perusakan alam, eksploitasi hutan dan kejahatan lingkungan terjadi secara massip yang dampaknya akan merusak kehidupan, namun tetap saja pemerintah tidak memberikan sinyal - sinyal keberpihakan pada perbaikan. Bahkan kecenderungannya masih saja terjadi penyalahgunaan wewenang yang berkaitan dengan kebijakan, baik di tingkat pusat maupun daerah.

Contoh paling nyata saat ini adalah bagaimana reklamasi di Jakarta yang memotong peran banyak pihak yang mencoba mengkritisinya. Juga berbagai proyek di Jawa Barat, seperti projek kereta cepat, kawasan perumahan dari Mei Karta sampai ke Wa Lini adalah bukti tidak singkronnya kehendak mayoritas rakyat dengan kebijakan pemimpinnya.

Jamaah Yang Berbahagia

Dimana peran umat Islam dalam kondisi seperti ini sehingga seakan tidak peduli dengan kehancuran masa depan yang terjadi di depan matanya meski dengan jelas ajaran Alquran telah menerangkannya secara gamblang. Peran umat Islam di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia memang telah termarginalisasi oleh doktrin sesat yang menjauhkan umat dari politik. Akibatnya, manakala politik dikendalikan orang lain yang bukan dari kelompok “khairo ummah” berbagai praktek kecurangan dan kezholiman terjadi tanpa bisa dikendalikan oleh umat Islam.

Islam sebagai agama yang juga dianut oleh mayoritas umat di Indonesia selain sebagai aqidah ruhiyah (yang mengatur hubungan manusia dengan Rabb-nya), juga merupakan aqidah siyasiyah (yang mengatur hubungan antara sesama manusia dan dirinya sendiri). Oleh karena itu Islam tidak bisa dilepaskan dari aturan yang mengatur urusan masyarakat dan negara. Islam bukanlah agama yang mengurusi ibadah mahdloh individu saja.

Berpolitik adalah hal yang sangat penting bagi kaum muslimin. Ini kalau kita memahami betapa pentingnya mengurusi urusan umat agar tetap berjalan sesuai dengan syari’at Islam. Terlebih lagi ‘memikirkan/memperhatikan urusan umat Islam’ hukumnya fardlu (wajib) sebagaimana Rasulullah bersabda :

“Barangsiapa di pagi hari perhatiannya kepada selain Allah, maka Allah akan berlepas dari orang itu. Dan barangsiapa di pagi hari tidak memperhatikan kepentingan kaum muslimin maka ia tidak termasuk golongan mereka (kaum muslimin)”.

 

Oleh karena itu setiap saat kaum muslimin harus senantiasa memikirkan urusan umat, termasuk menjaga agar seluruh urusan ini terlaksana sesuai dengan hukum syari’at Islam. Sebab umat Islam telah diperintahkan untuk berhukum (dalam urusan apapun) kepada apa yang diturunkan Allah kepada Rasul-Nya, yakni Risalah Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW.

Firman Allah SWT:

“….maka putuskanlah (perkara) mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu…..” (Al-Maidah : 48)

 

“…Barangsiapa yang tidak memutuskan (perkara) menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang kafir “. (Al-Maidah :44)

 

Dua ayat di atas dan beberapa ayat lain yang senada, seperti surat Al-Maidah ayat 44,45, 47 dan 49 serta An-Nisaa’ ayat 65 menjelaskan bahwa kaum muslimin harus (wajib) mendasarkan segala keputusan tentang urusan apapun kepada ketentuan Allah, yakni hukum syari’at Islam. Dan dari sinilah kedaulatan umat bisa dibangkitkan sebagai upaya untuk mencegak gerakan yang menghancurkan kedamaian hidup manusia saat ini.

Barokallohu li walakum