Catatan tambahan buat Ijtima’ Sanawi 2018 : SDM JUGA PENTING

Kalam
Typography

Tadi sore saya sempat bersilaturrahmi ke STAI Attqwa. Rupanya paginya baru saja digelar Ijtima’ Sanawi, acara tahunan yang selalu menarik karena membawa tema tema actual. Dalam perbincangan dengan Ustadz M Abid Marzuki saya menegaskan, seluas apapun wawasan kita bedah kalau SDM kita tidak diupgrade, tetap saja kita jalan di tempat. Padahal kekuatan Kiyai Noer Alie dalam membangun Attaqwa adalah pada strateginya menyiapkan kader sedini mungkin. Sebelum yang lain, Kiyai Noer Alie membangun kader terlebih dahulu.

Nah, dari percakapan tadi dengan Ustad Abid, ketua STAI Attaqwa, tampaknya Ijtima’ Sanawi 2018 tidak memberi perhatian rinci dan detail mengenai rekayasa sumber daya manusia untuk Attaqwa 20 tahun atau 50 tahun yang akan datang. Bisa jadi agendanya memang bukan ke situ. Tapi ketika problematika kawasan global dijadikan sebagai sebuah sajian atau aspek - aspek teknis pembenahan pendidikan menjadi tema, diskusi pasti akan mengarah pada mengukur kekuatan sumber daya manusianya. Setidaknya demi menghindari tudingan omong doing.

Dari Sumber daya manusia yang handal, tantangan itu bisa diantisipasi. SDM ummat, SDM di organisasi, SDM di lembaga lembaga pendidikan dan SDM di berbagai lini. Sudahkah persoalan SDM ini mendapat prioritas bagi Attaqwa untuk membangun masa depannya atau untuk membentengi dirinya dan ummatnya atau jamaahnya dari berbagai tantangan ? Let me guest, Yayasan Attaqwa tampaknya belum memiliki rancang bangun masa depan di sektor ini. Ini dugaan saya, mudah mudahan salah.

Tulisan ini semata mata didedikasikan sebagai bentuk kontribusi dari seorang alumni. Merujuk pada Mars Oh Pondokku, maka Pondok adalah ibu kandung, dan santri serta para alumninya adalah anak anak kandungnya. Anak durhaka namanya kalau gak mau berkontribusi sama almamaternya. Dan ibu yang baik pasti seneng kalau mau sedikit didandani dan diingatkan oleh anaknya.

Bagi Attaqwa belajar tentang rekayasa sumber daya manusia sebetulnya gak perlu jauh jauh. Adalah Kiyai Noer Alie yang awal mendirikan Attaqwa pemikirannya sudah loncat jauh ke depan. Inget, baru menanam benih, kiyai Noer Alie ibaratnya sudah jauh mempersiapkan teknologi pasca panennya. Di saat Attaqwa belum mentik, Kiyai Noer Alie sudah memilih anak anak lulusan SRI, antara lain Ustad Mahally Samsuddin, Ustad Tajuddin, Ustad Rosyidi, Ustad Mista Suhanda, untuk dibiayai sekolah ke luar.

Mereka ada yang dikirim ke Gontor. Ada yang ke Muhammadiyah dan ada yang ke pesantren NU. Untuk yang ke Gontor, seperti diceritakan Guru Rosyidi, mendapat perhatian besar dari Kiyai Noer Alie. Perkembangannya benar benar diikuti. Saat itu siswa Gontor belajarnya sudah berseragam celana dan kemeja serta berdasi dan bersepatu, juga dikenal disiplinnya ketat. Sementara Attaqwa masih berbentuk pesantren tradisional, belum sistem kelas.

Kita memang tidak bisa membaca transkrip dari rekayasa SDM yang sedang dibangun Kiyai Noer Alie. Itu semua ada dalam pikirannya dan kita hanya bisa memahaminya dari tindakan dan kebijakan yang dilahirkannya saat itu. Ingat, tidak semua yang ada itu tertulis. Tapi saat itu, saya yakin, di benak Kiyai Noer Alie Attaqwa sudah diset untuk 20 tahun atau 50 tahun ke depan. Great.

Enam tahun kemudian, satu per satu kader itu kembali. Mereka perlahan masuk ke dalam system. Pesannya sederhana saja. Yang muda diminta untuk memahami dan menghormati guru guru senior. Ini untuk menghindari gesekan lintas generasi. Tapi guru guru muda ini juga diminta untuk bisa mentransfer apa yang di dapat dari tempatnya belajar selama ini. Meski itu terkesan ekstrim.

Maka trio guru muda saat itu pun memulai missinya. Ada Guru Tajuddin sebagai team leader, ada guru Rosyidi dan ada Guru Mista Suhanda. Sementara Guru Mahalli Syamsuddin setelah mengajar beberapa lama mendapat penugasan jadi kepala desa. Berbagai perubahan mulai dilakukan. Tapi semua berjalan mulus, karena pendekatannya adalah tidak boleh sampai terjadi gesekan antara guru senior dan guru muda.

Hebatnya Kiyai Noer Alie dalam membangun kadernya adalah memberikan delegasi secara total. Saya masih ingat betul, bagaimana Guru Tajuddin begitu besar menerima delegasi kepercayaan untuk membidani lahirnya Albaqiyatus Solihat sementara di pondok putra beliau juga menjadi kepala MMA. Sampai sampai untuk mendisain seragam Albaqiyat saat itu harus Guru Tajuddin yang memikirkan.

Sekali lagi, KH Noer Alie memang maestro dalam membangun kader. Kepada trio guru muda ini, pendelegasian amanat diberikan tidak tanggung. Bukan seperti apa yang dikenal orang, kepala dilepas buntut dipegangin. Tidak. Kiyai mendelegasikan penuh. Dan trio guru ini pun bebas berinisiatif sepenuhnya. Termasuk untuk melakukan hal hal yang ekstrim.

Misalnya ketika harus membuka MMA, butuh guru guru pelajaran umum, maka trio ini harus pasang banyak akal dan siasat menarik minat guru guru umum yang umumnya jadi pengajar di sekiolah umum. Beberapa nama antara lain Sunaryo dan Lukmansyah. Lukmansyah adalah guru di SMA 1 dan SMA Muhammadiyah yang diajak mengajar ke Attaqwa. Untuk membuatnya betah, sampai sampai Guru Rosyidi mencarikan jodoh santri Albaqiyat untuk diperisteri. Supaya Guru Lukman semangat dan menjadi orang Attaqwa penuh.

Sampai pada masanya take off, Attaqwa pun bisa menyesuaikan diri dengan semua kebutuhan jamannya. Di tangan guru muda, Attaqwa menapaki perubahan dengan enteng. Dari pesantren tradisional berubah menjadi madrasah yang bersifat klasikal. Tuntutan penyesuaian terus dijawabnya dengan merubah status menjadi Madrasah Aliyah dan Madrasah Tsanawiyah dengan tetap mempertahankan identitas kepesantrenannya.

Dengan SDM yang terrencana sempurna, apapun perubahan yang menjadi tuntutan masa depan bisa diantisipasi dengan ringan. Lagi lagi yang disayangkan, kiyai Noer Alie tidak meninggalkan blue print tentang masa depan Attaqwa, tapi faktanya, apa yang dilakukannya saat itu sudah memiliki loncatan jauh melampaui masanya.

Seperti pernah saya perbincangkan juga dengan Guru Rosyidi, sebagai bos besar, Kiyai Noer Alie juga tidak memberi acuan detail mengenai tugas yang harus dilakukannya dalam membangun madrasah Attaqwa. “Perintahnya adalah betulin genteng yang bocor, maka mengambil tangga untuk naik ke atap secara otomatis menjadi perintah yang ada dibalik perintah botulin genteng bocor,” kata Guru Rosyidi.

Inilah hebatnya kiyai Noer Alie dalam membangun kadernya. Ia bisa mencetak orang orang yang tidak sekedar bisa menjadi penterjemah, tapi sekaligus bisa menjadi penafsir dari keinginan dan perintah yang tersurat maupun yang tersirat.

Pengurus Yayasan Attaqwa saat ini tentunya tidak bisa menjadi seperti KH Noer Alie. Tapi merekayasa masa depan dengan kemampuan SDM yang handal tak bisa dianggap enteng. Karena itu diperlukan sebuah upaya melalui berbagai diskusi dan kajian, bagaimana tantangan 20 tahun atau 50 tahun mendatang bisa diantisipasi dengan kematangan SDM yang tidak sekadar bekerja rutinitas tanpa kemisteri.

Mengutip Iqbal; Tidak ada tempat untuk berhenti. Sikap lambat berarti mati. Siapa terlena sejenak sekalipun pasti tergilas. (abubagus)