23
Fri, Aug

Dr. Muchlis Hanafi : Alquran Laksana Lautan Tak Bertepi

Oase Iman
Typography

TIBYAN.ID, Bekasi - Kajian tentang Al-Qur`an dan tafsirnya selalu menarik karena karakternya yang dinamis dan bahkan keajaiban Al-Qur`an tidak pernah habis. Demikian disampaikan Dr. Muchlis M Hanafi, Kepala Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur`an (LPMQ) Kementerian Agama RI & Direktur Pusat Studi Al-Qur`an (PSQ) Jakarta pada acara kuliah perdana Pesantren Tinggi Attaqwa sekaligus kegiatan sosialisasi perkembangan izin pendirian Ma’haad Ali Attaqwa KH Noer Alie, Selasa 16 Juli 2019.

Mengutip pendapat imam Al Ghazali, Muclish Hanafi menjelaskan Alquran itu laksana lautan yang tidak bertepi (bahrun lâ sâhila lahu). Seberapa pun banyaknya usaha dan umur yang dihabiskan untuk menyelaminya, lautan Al-Qur`an tak akan pernah habis. Pada akhirnya, seperti kata al-Zarkasyi dalam al-Burhân fî `Ulûm al-Qur`ân, al-shinâ`atu thawîlah wal `umru qashîr (pekerjaan membutuhkan waktu panjang, sementara umur manusia pendek).

Al-Qur`an petunjuk bagi manusia sepanjang masa, di mana pun berada. Caranya, “Ajak dan persilakan Al-Qur`an berbicara, menjawab tantangan zamannya” (Dzâlikal kitâib fastanthiqûh). Diperlukan metode pembacaan yang sejalan dengan perkembangan zaman. ‘Membaca’ Al-Qur`an melalui produk pemikiran masa lalu berarti menjadi “generasi yang terlambat lahir”. 

Al-Qur`an terbuka untuk didekati dengan berbagai metode dan pendekatan baru. Diperlukan tajdid pemahaman, baik dari segi metode maupun substansi.

‘Tajdid’ menjadi keharusan jika dilihat dari tiga hal; pertama, karakter pikiran manusia yang selalu menginginkan perubahan; kedua, karakteristik ajaran Islam sebagai penutup semua agama dan bersifat universal, elastis dan akomodatif terhadap segala perkembangan tanpa harus kehilangan jati diri (antara tsabât dan murûnah), dan ;  ketiga, kemajuan pesat di bidang industri, teknologi dan informasi menuntut apresiasi umat Islam sebagai bagian dari masyarakat dunia. (lihat, M. Iqbal, Tajdîd al-Tafkîr al-Dîniy fi al-Islâm, edisi Arab, hal. 3, 13, 21).

Tajdid berarti memperbaharui pemahaman keagamaan dengan cara pandang kekinian yang berasaskan kaidah keilmuan dalam tradisi Islam. Karena itu, kegiatan pengkajian Alquran yang semakin berkembang saat ini adalah bentuk pengkajian dan pendalaman ilmu Alquran yang terus berkembang. (*)