23
Fri, Aug

Demokrasi Tak Beri Jalan Bagi Penegakan Syariat Islam

Oase Iman
Typography

TIBYAN.ID, Jakarta - Demokrasi tak memberikan ruang bagi umat Islam untuk menegakkan syariat Islam. Kalaupun ada ruang itu sangat kecil dan bahkan tertutup. Demikian pandangan Ismail Yusanto, Jubir HTI dalam diskusi  di gedung DHN 45 Menteng Raya  Jakarta, Kamis  (18/7). Yang digelar Media Ummat.

Sudah banyak contoh jika demokrasi tak ramah dengan partai Islam. Misalnya ketika terjadi pemilihan umum di Aljazair, yang menjadi pemenang dalam pemilihan itu adalaah partai FIS, yang nota bene adalah partai kelompok Islam. Namun kemenangan itu dianulir kelompok militer bahkan tokoh tokoh partai FIR diburu. Hal yang sama juga dialamai HAMAS yang memenangkan pemilihan di Palestina. Kemenangan itu diboikot Israel dan Amerika Serikat.

Kemenangan partai islam melalui jalur demokrasi yang juga mengalami nasib yang sama adalah partainya Mursi. Mursi berhasil memenangkan pemilihan Presiden di Mesir. Tapi lagi - lagi Kemenangan partai berbasis Islam itu digulingkan ditengah jalan oleh Junta Militer El Sisi.

Jadi demokrasi bukan jalan yang tepat bagi umat Islam untuk mewujudkan daulah Islamiyah. Di Indonesia berukangkali tokoh Islam memperjuangkan tegaknya syariat Islam melalui jalur demokrasi tetap gagal. Yang bisa dilakukan umat Islam sekarang adalah dengaan jalur dakwah  termasuk mendakwai para ahlul quhwah agar mereka menyadari betapa pentingnya penegarakan syariah. Syariah baru bisa tegak jika khilafah tegak, paparnya.

 

KH. Syarifuddin sependapat dengan Ismail Yusanto.. Menurutnya demokrasi memang bukan jalan yang tepat bagi umat Islam untuk memperjuangkan tegaknya syariat Islam. Cuma beda jalan dalam penegakan syariat Islam. Sebab katanya sejak keruntuhan Khilafah Usmani tahun 1924, umat Islam tak lagi memiliki pegangan. Ibarat orang hanyut apa saja akan dipegang untuk meneyelamatkan dirinya. Jadi kalau ada  umat Islam yang menggunakan jalur demokrasi itu sekedar cari selamat, disaat tak ada yang bisa  dijadikan sebagai pegangan. Padahal kita tahu bahwa demokrasi itu adalah sisten kufur, tandasnya.

Berbeda dengan  Ashari Usman wartawan senior mantan wartawan BBC London. Ia menilai ada harapan kebangkitan umat Islam yang dipelopori islam garis lurus. Yang ia maksud Islam garis lurus adalah  gerakan Islam yang  menjadi inisiator hadirnya 212.

Dikatakan, Aksi Bela Islam (ABI) 212 adalah energi yang sangat dahsyat. Jika kekuatan 212 itu dipelihara dengan konsolidasi yang secara terus menerus, bukan tak mungkin pada pemilu 2024  umat Islam  dapat menguasai Parlemen dan bahkan dapat menentukan siapa yang akan jadi Presiden.****