04
Tue, Aug

Sukses Hidup Seorang Muslim Diukur Dari Pengorbanannya

Oase Iman
Typography
TIBYAN.ID - Apa ukuran sukses seseorang. Gelar keilmuannya, jabatannya, pangkatnya. Atau apakah orang itu sukses karena ia memiliki harta berlimpah, bisa berkali kali pergi haji dan sebagainya ?
 
Di tengah suasana iedul kurban ini pertanyaan itu dilontarkan kembali Dr. KH M Abid Marzuki dalam khutbah iedul adhanya di Masjid Nurul Islam Islamic Centre Bekasi. 
 
Sholat Iedul Adha di Masjid Islamic Centre diimami Ustad Idrus Al Hafis dengan mengikuti standar protokol covid 19. Setiap jamaah wajib memakai masker dan membawa sajadah masing masing dari rumah, sudah berwudhu dan menjaga jarak shofnya.
 
Menurut KH Abid dalam khutbahnya dikatakan ada paradigma keliru tentang ukuran sukses di kalangan orang modern saat ini. Ukuran sukses diidentikkan dengan sukses keduniaan, tentang harta dan kemewahan. Padahal itu sama sekali tidak menjadi ukuran.
 
Menurut ketua STAI Attaqwa ini, sukses itu punya dua dimensi. Pertama dalam ukuran keduniaan. Diakuinya, apa yang disebutkan tentang benda materi dan kemewahan bisa jadi sebagai ukuran sukses. Tapi ini adalah sukses duniawi yang semu dan bersifat sangat sementara. 
 
Sukses ini tidak menjanjikan kedamaian, kebahagiaan. Bahkan tidak menjamin seseorang itu masuk surga. Salah salah menyikapinya, sukses duniawi ini orang justeru bisa dijerumuskan ke neraka.
 
Kedua adalah sukses dalam dimensi ukhrowi, yakni sukses dalam pengertian yang hakiki dan yang menjanjikan kebahagiaan dan kedamaian. Sukses yang ini ukurannya adalah seberapa besar anda berkorban dalam hidup. Pengorbanan itulah ukuran sukses seseorang di mata Alloh.
 
Kalau hari ini kita berkorban sapi, onta atau kambing, maka dari situlah kadar kesuksesan seseorang. “Yang anda korbankan hari iedul adha ini adalah ukuran sukses anda,” kata KH Abid lagi menegaskan.
 
Karena itu, korban yang disembelih bukan dihitung dari berapa besar daging dan tulangnya. Tapi Alloh menilai keikhlasan dan kesungguhan seseorang yang berkorban itu.
 
“Jadi pengorbanan karena Alloh itulah ukuran sukses seseorang,” katanya lagi.
 
Dalam pengertian yang lebih luas, pengorbanan tidak semata mata pada peristiwa iedul kurban saja. Tapi bagaimana kerelaan dan keikhlasan seseorang dalam menegakkan dienul Islam, bagaimana berdakwah dengan Ikhlas, bagaimana menjunjung nilai nilai keislaman dan menjaga kemajuan umat ketika sedang dihimpit oleh berbagai ujian dan tantangan.
 
Termasuk bagaimana seorang ayah memperjuangkan nafkah keluarganya dan pendidikan anak anaknya. “Ini semua bagian dari perjuangan yang menjadi ukuran sukses seseorang,” katanya.
 
Karenanya, Abid mengajak untuk terus memadukan pendangan dan meningkatkan pemahaman terhadap ajaran Islam. Karena bukan tidak mungkin fenomena kehidupan saat ini terus menjungkirbalikkan logika setiap umat Islam mengenai ajaran agamanya.
 
Karena pemahaman yang dikelirukan dan keliru yasng terus dihembuskan oleh banyaknya media bukan tidak mungkin hal itu bisa membalikkan logika tentang kebenaran. Apa yang terjadi saat ini, hampir semua orang menilai sukses itu diukur dari materi, bukan dari proses dan perjuangan. (*)