25
Fri, Sep

Dari Raker DKM Islamic Centre Bekasi: Harus Bangga Jadi Khodimul Masjid

Oase Iman
Typography

TIBYAN.ID, BEKASI - Dewan Kemakmuran Masjid (DKM), Nurul Islam, Islamic Center KH Noer Alie melaksanakan Rapat Kerja (Raker) hari ini. Tujuannya selain menyegarkan kepengurusan pasca Pandemik, juga memperkuat peran DKM dalam berkontribusi kepada jamaah.

Raker ini diikuti pengurus dan staf DKM. Mereka melakukan evaluasi atas program yang telah diputuskan pada Raker sebelumnya, sekaligus mengusulkan, menyusun serta menetapkan program kerja tahun berikutnya.

Dipimpin langsung ketua DKM H. Abid Marzuki. Dalam paparannya ia meminta kepada semua pengurus dan staf DKM agar merasa mulia menjadi pelayan di Masjid Allah. "Jadilah khodamul masjid" Kata H. Abid Marzuki mengawali pembekalannya.

Dalam sambutan di awal Rapat, Ketua Yayasan Nurul Islam KH Noer Alie, Drs. H. Paray Said, MM, MBA menyampaikan beberapa poin yang penting untuk dibahas dalam raker kali ini.  Setidaknya ada lima point yang patut mendapat perhatian serius.

Pertama mengenai kegiatan keagamaan yang perlu terus ditingkatkan. Bukan hanya melayani aktivitas pengajian yang diselenggarakan jamaah lain, tapi DKM Islamic Centre juga harus menyelenggarakan pengajian atau kajian dengan mengundang guru atau kiyai dari luar.

Selain itu, ketua berpesan agar dilakukan penyegaran struktur DKM dan membangun kegiatan perekonomian jamaah yang berbasis masjid. “Pemberdayaan ekonomi ini menjadi penting agar masjid benar - benar terbukti bisa mensejahterakan jamaahnya.

Yang penting dari pesan ketua adalah menyangkut fanatisme golongan. Islamic Centre berdiri untuk semua mazhab. “Kita hadir untuk semua golongan dan mazhab, dalam bingkai sunni,” katanya. Dalam dakwahnya, Islamic Centre berkewajiban untuk mengayomi Ummatul Istijabah yang ada di lingkungannya.

“Bagaimana Islamic bisa harmoni dan bermesraan dengan ummatan istijabah ini, tanpa juga mengabaikan ummatud dakwah,” ujarnya menegaskan.

Abid menekankan bahwa Masjid bukan hanya tempat pelaksanaan ibadah mahdoh, tapi harus ada dimensi sosialnya. Kita harus punya data jemaah serta kondisinya. Sehingga kita bisa membuat peta dakwah. Khatib seperti apa yang tepat untuk jemaah, paparnya.

Perlu adanya peningkatan kajian Islam. Selama ini terkesan yang melaksanakan kajian di Masjid Nurul Islam adalah dari pihak luar. Bukan dari internal DKM. Oleh karena itu saya minta ada peningkatan kajian Islam. Dan tidak cukup mengandalkan kuliah tujuh menit ba'da shalat zuhur. Tapi harus disusun jadwal kajian islam. (Imran)