01
Tue, Dec

Drs. H. Badeng Saputra : Klarifikasi Wajib Bagi Penerima Berita

Drs. H. Badeng Saputra

Oase Iman
Typography
Tibyan.id - Ketua DPC Syarikat Islam (SI) Kota Bekasi,  Drs.  H.  Badeng Saputra mengatakan klarifikasi (tabayyun) terhadap suatu kabar berita merupakan kewajiban.
 
 
Masalahnya dalam era digital dan derasnya arus informasi melalui dunia jaringan, berita yang kita terima, kebenarannya tidak bisa dipertanggung jawabkan.
 
 
"Kadang-kadang berita itu hanya berupa isu-isu yang bersifat provokatif dan berita bohong belaka," kata Badeng dalam Renungan Malam yang memgambil thema pentingnya Tabayyun. 
 
 
Tabayyun atau klarifikasi atau chek dan rechek merupakan suatu tindakan preventif dalam mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan dari dampak suatu berita.
 
 
Allah telah memperingatkan kepada kita dalam firman-Nya: "Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu." (QS 49: 6).
 
 
Dalam ayat yang lain Allah menegaskan: "Janganlah kamu membicarakan apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya, sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semua itu akan dimintai pertanggungjawabannya." (QS 17: 36).
 
 
Sikap kritis dan kehati-hatian dalam menerima berita, terutama berkaitan dengan orang lain, akan menghindarkan kita dari perbuatan memfitnah dan ghibah (menggunjing).
 
 
Menurutnya lagi suatu berita akan menjadi fitnah bagi orang lain jika tidak benar, dan akan menjadi suatu ghibah (gunjingan) jika berita tersebut menceritakan keburukan seseorang.
 
 
Dalam hadis sahih Rasulullah menerangkan, ''Mengumpat yaitu engkau membicarakan saudara engkau dengan sesuatu yang dibencinya.'' 
 
 
Berkata seseorang, ''Bagaimana pendapat engkau jika ada pada saudaraku itu apa yang aku katakan?'' Nabi mengatakan, ''Jika ada pada saudara engkau apa yang engkau katakan, maka berarti engkau mengumpatnya (menggunjingnya), dan jika tidak ada apa yang engkau bicarakan, maka berarti engkau menuduhnya (memfitnahnya).'' (HR Ahmad dari Abu Hurairah).
 
 
Fitnah dan ghibah merupakan perbuatan yang tercela. Rasulullah SAW dengan tegas menyatakan, ''Tidaklah akan masuk surga orang yang suka memfitnah.'' (HR Bukhari dan Muslim).
 
 
Dalam riwayat yang lain dikatakan bahwa Allah tidak akan mengampuni tobat seseorang yang menggunjing sampai orang yang digunjingkannya itu memaafkannya. Semoga renungan ini bermanfaat. Sehingga kita mati dalam keadaan Husnul khotimah tidak terbebani ada nya dosa ghibah kita kepada orang lain. (*)