14
Wed, Apr

Syambuzi Zamakhsyari: Islam Mendorong Umatnya Bekerja Keras

Syambuzi Zamakhsyari

Oase Iman
Typography

TIBYAN.ID - Islam mendorong umatnya untuk bekerja keras dan tidak melupakan kerja setelah ibadah. Karena kerja merupakan upaya untuk memenuhi kehidupan tertentu (jasmani dan rohani). Bahkan umat islam dianjurkan untuk  “kerja keras” yang berarti bekerja dengan segala  kesungguhan untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

Demikian dinyatakan Sekjen Majelis Muzakaroh (Majmu) Bekasi Raya, M Syambuzi Zamakhsyari,  S. HI,  M. M. Kepada Tibyan.id.

Syambuzi menjelaskan, bekerja bagi manusia merupakan fitrah sekaligus identitas kemanusiaanya itu sendiri. Seseorang yang bekerja tidak hanya bertujuan untuk mencapai kebutuhan semata, melainkan wujud dari eksistensialisme manusia mendapatkan pengakuan, harga diri, martabat, prestasi serta mengukur kemampuan untuk dapat bermanfaat bagi banyak orang. Sebaliknya, seseorang dikatakan tidak memiliki kemampuan untuk bekerja atau malas bekerja, hal ini bukanlah salah satu generasi yang diharapkan bahkan justru menjadi generasi yang lemah dan gagal.

Lawan dari bekerja adalah malas. Sifat malas sangat dibenci dalam Islam, sehingga Rasulullah SAW memberikan teladan pada umatnya untuk berdoa agar terhindar dari sifat malas dengan mengucapkan doa “Ya Allah hamba berlindung kepadamu dari sifat lemah dan malas” (Bukhari dan Muslim). Prinsip Islam perlu dipertahankan bahkan dikembangkan sesuai dengan kondisi sosial sekitar, hal ini penting untuk mewujudkan karakter manusia yang punya nilai tambah serta karakter pekerja keras dalam bekerja sekaligus menumbuhkan rasa kompetisi untuk meraih prestasi yang cemerlang.

Manusia menjadi faktor dalam mensukseskan pekerjaan, karena semua institusi maupun perusahaan saat ini tidak akan mengabaikan upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia sebagai usaha meningkatkan pencapaian perusahaan maupun institusi tersebut. Hal ini berarti manusia yang unggul akan menghasilkan produk yang unggul dan berkualitas sebagai nilai jual perusahaan terhadap konsumennya.

Lalu bagaimana jika seseorang bekerja dengan rajin namun memiliki karakter yang buruk, culas bahkan tidak menghormati tanggungjawabnya sebagai pemegang pekerjaan. Seseorang yang bekerja keras tapi kurang akhlaknya? punya prestasi tapi tidak punya jati diri atau sebagai “penjilat atasan”? apakah hal ini semua merupakan bentuk sifat manusia yang dibolehkan dalam agama bahkan kehidupan berbangsa dan bernegara?.

Islam dengan Al-Quran sebagai kitab sucinya merupakan agama yang memiliki ajaran yang bersifat universal, abadi, dan sesuai untuk segala zaman dan tempat. Islam juga merupakan agama yang mengatur dan memberikan petunjuk dalam tatanan hidup manusia dengan sempurna, tanpa terkecuali masalah-masalah yang erat kaitannya dengan pekerjaan sebagai cara memenuhi kebutuhan ekonomi.

Kesempurnaan manusia dalam bekerja akan dapat dilihat apabila di dalam dirinya terdapat sifat amanah dan adil dalam menjalankan pekerjaannya. Tanpa kedua sifat ini manusia akan runtuh bahkan terjerumus ke dalam kehancuran yang sulit akan dikembalikan. Amanah hidup seseorang akan terlihat apabila dia diberikan tanggungjawab berupa jabatan atau kepercayaan yang diperoleh, jika dilakukan dengan baik, jujur bahkan tidak melakukan tindakan yang keluar dari jalur pekerjaannya sudah pasti orang itu amanah. Kemudian dalam keutamaan adil bagi kita yang bekerja, merupakan wujud dari kebijaksanaan dalam mengambil keputusan serta mengutamakan asas kemanusiaan untuk saling mengingatkan bahwa bekerja harus punya integritas, akuntabilitas dan kapabilitas agar tidak menjadi manusia yang senang melihat orang susah, susah melihat orang senang.

Perintah menjaga amanat dan sikap adil dalam Surat An-Nisa’ ayat 58 berlaku secara umum dan bahkan berlaku pada setiap individu. Kitab Tafsir Al-Khawatir karya Syekh Mutawalli As-Sya’rawi menjelaskan bahwa sikap adil ini berlalu bagi setiap individu, bahkan dalam menentukan keputusan hukum untuk hal-hal yang bersifat remeh saja. Asy-Sya’rawi menukil sebuah kisah bahwa ada dua bocah yang meminta penilaian kepada Hasan bin Ali bin Abi Thalib tentang gambar yang mereka buat. Dua bocah itu meminta Hasan memberikan penilaian, gambar siapa yang lebih indah? Imam Ali bin Abu Thalib lantas berkata kepada Hasan, putranya, “Ingatlah, wahai Hasan. Penilaian (putusan) yang akan kau tetapkan pasti akan Allah mintai pertanggungjawabannya.”

Betapa pentingnya menegakkan amanah dan keadilan dalam hidup ini. Keadilan adalah perintah dari Allah kepada seluruh umat manusia. Dalam perintah bersikap amanah dan adil itu harus diberlakukan terhadap umat manusia, bukan hanya terhadap golongan atau kelompok tertentu, baik kelompok agama atau kelompok suku.

Amanah dan adil dalam bekerja merupakan penyelesaian tugas yang diamanahkan seharusnya menjadi karakter bagi setiap Muslim. Apapun dan dimanapun posisi kita, kita harus tetap bisa amanah, jujur dan bertanggung jawab dengan tugas yang dipercayakan kepada kita. Semoga Allah meridhoi segala apa yang kita lakukan dan upayakan. Selagi kita masih diberi waktu dan kesempatan, mari kita berikan yang terbaik untuk kehidupan beragama, berbangsa dan bernegara.