24
Sun, Oct

Muslim Kaffah Tidak Cukup Hanya Akidah Tanpa Pembuktian Prilaku

Oase Iman
Typography

TIBYAN.ID – Kajian Jumat pagi di Islamic Centre dibuka lagi. Setelah terhenti lebih setahun, Dr. Abdul Hayyi Al-kattani bersedia meluangkan waktu untuk mengisi dengan tema Islam Kaffah. “Seorang muslim tidak cukup dengan pengakuan keesaan Alloh tanpa diikuti dengan prilaku yang baik dalam bermasyarakat,” katanya.

“Tidak cukup hanya syahadat,” kata Hayyi. Tapi harus discreening dulu, apakah prilakunya baik, apakah dia jujur, apakah punya prestasi, apakah dia ramah, santun dan menebar senyum? Karena itu menjadi syarat kesempurnaan seorang beriman.

Islam kaffah punya dua penafsiran. Pertama yang memahami pengertian sebagai berserah diri sepenuhnya kepada Alloh. Pemahaman ini memahami bahwa tidak cukup kepasrahan itu hanya dalam dimensi Tauhid, hanya percaya dan beriman kepada Alloh, tapi prilakunya tidak.

Pengertian kedua yang dikembangkan oleh Sayyid Qutb yang dikenal dengan sebutan tashowwur. Atau apa yang dikenal kemudian sengan istilah word-view seperti dikembangkan Naqieb Alatas di Malaysia yang kemudian diikuti oleh Fahmi Zarkasyi.

“Jadi sesungguhnya konsep tashowur atau word-view itu sudah dikembangkan Sayyid Qutb jauh sebelum dikembangkan oleh Naqieb Alatas,” kata Hayyi.

Dalam pemahaman ini, Islam kaffah adalah Islam yang totalitas, yakni sikap hidup yang menyangkut hubungannya kepada Alloh, hubungannya kepada sesama manusia dan hubungannya kepada alam semesta. Seorang mukmin yang kafah adalah mukmin yang bisa mengembil peran positif pada tiga dimensi kehidupan ini.

Seluruh hidupnya dicantelkan hanya kepada Alloh, patuh, pasrah dan tunduk hanya kepada Alloh. Muslim yang seperti ini pasti tenang jiwanya, aman dari perlakuan dzolim orang lain. Karena kalaupun itu yang terjadi dia tetap tenang jiwanya karena orientasi utamanya sudah diserahkan kepada Alloh.

“Untung atau rugi, kalah atau menang, dapat atau hilang, disakiti atau digembirakan, dianggapnya sebagai hasil yang tidak akan membuatnya sombong tidak pula membuatnya kecewa. Karena Alloh satu-satunya tujuan dia,” katanya menjelaskan.

Orang yang focus kepada Alloh out-putnya pasti tenang. Dia bekerja keras dan gugur untuk meraih prestasi. Dengan sikap yang benar, seorang muslim tidak akan takut disaingi, tidak takut rugi, tidak takut kalah dll. Karena hasil dari kerjanya diyakininya sebagai anugerah dari Alloh.

“Perjuangan itu milik kita, hasilnya dari Alloh,” begitu sikap muslim yang berorientasi hanya kepada Alloh.

Berbeda dengan persaingan kaum kapitalis yang bukan karena iman. Mereka bersaing habis-habisan, bertarung secara total. Kalau saya kalah dia juga harus hancur, kalau saya mati dia mati, kalau saya bangkrut dia harus dibikin bangklrut. Persaingan seperti ini bukan persaingan seorang muslim. Bahkan kekalahan melahirkan dendam yang menghalalkan semua cara untuk membalasnya.

Terhadap alam semesta, seorang muslim yang focus berbuat karena Alloh, tidak bersikap eksploitatif. Alam disahabati, dipelihara untuk dinikmati hasilnya. Bukan diperlakukan sebagai objek mati yang seenaknya diekspoitasi dengan cara-cara yang tidak seimbanng.

Sikap inilah yang hendaknya terus menjadi perhatian umat muslim dalam mengisi masa depan. Pendekatan seperti ini yang akan melahirkan keberlangsungan hidup damai. Karena tujuan hidup yang sempurna adalah untuk ibadah kepada Alloh, bukan lagi pada pijakan nafsu kekuasaan dan doktrin kapitalis yang hanya melahirkan ketidak bahagiaan, tapi cenderung melahirkan kehancuran. (abu bagus)