01
Tue, Dec

Bincang bincang dengan DR KH Aiz Muhajirin : Tidak Semua Santri Punya Kapasitas Menjadi Kiyai

Foto : DR KH Aiz Muhajirin(TIBYAN/Yazid)

Wawancara
Typography

TIBYAN.ID - DR KH Aiz Muhajirin, putra bungsu KH Muhajirin, kini menjadi pemegang tampuk masa depan pesantren An Nida Al Islamiy yang dibangun KH Muhajirin ayahnya. Bersama Uminya yang sudah sepuh, Aiz kini menjadi orangtua ratusan santri yang mukim. Kepada tibyan.id Aiz hanya berujar singkat; “saya mendapat amanat meneruskan tanggungjawab dari orangtua dan keluarga,” begitu katanya.

tibyan.id : Sebagai pesantren yang ada di tengah kota, An Nida Al Islamiy tampaknya menjadi semakin terhimput oleh pertumbuhan kota. Baik dari sisi bangunan fisik maupun dari sisi kehidupan. Bagaimana An Nida akan bisa terus bertahan di masa yang akan datang?

Aiz Muhajirin: Tidak mudah memang mengelola dan mengurusi santri di tengah tengah kota. Selalu ada saja gemerlap kota yang terdengar dan terlihat sampai ke dalam pondok. Karena itu secara opersonal Pondok menertibkan struktur pengelolaannya. Ada lurah pondok. Dia yang sehari hari berinteraksi dan mengurusi persoalan santri pondok. Dibawah lurah ada ketua ketua asrama. Mereka saling berkordinasi mengenai keberadaan siswa satu persatu. Detail dan harus tegas.

Lalu lalang siswa, keluar masuk asrama, bagaimana bisa diawasinya?

Ya. Perizinan santri itu diberikan oleh pengurus asrama. Security mengizinkan keluar atau tidak tergantung perizinannya itu. Security kita siap siaga selama 24 jam. Namun, baik security maupun petugas asrama, semua memakai pendekatan kependidikan.

Ada istilah lama, pondok itu ibaratnya penjara suci

Saya dan pengurus terus mengevaluasi pendekatan yang kita pakai. Kita gak bisa lagi menerapkan aturan secara kaku. Kita pertinggi pendekatan kemanusiaannya. Ini seninya. Bagaimana disiplin tetap berjalan tapi pendekatannya tetap humanis. Ini tantangannya.

Pesantren di tengah kota seringkali terancam oleh godaan mall yang menjamur disekitarnya. Bioskop. Atau aneka gemerlap kota. Sulit juga mengendalikan santri yang umumnya anak anak remaja yang sedang seneng senengnya bermain.

Mall dan bioskop sudah bukan lagi tantangan apalagi ancaman. Anak anak sudah tidak lagi seneng bermain di mall. Tapi gadget, permainan games atau warnet. Ini justru yang menjadi ancaman. Kalau kurang hati hati kita bisa ditinggal anak anak. Tapi terlalu keras melarangnya anak anak juga bisa kabur. Jadi itu, bagaimana pengelola asrama menjadi petugas yang memang mereka butuhkan. Ini gak gampang memang.

Di Annida, pondokan santri dengan sekolah formalnya agak jauh. Dari Jalan Juanda ke Kampung Mede. Dalam perjalanan apa tidak terjadi distorsi?

Ini memang unik. Kalau pagi, siswa fokus ke sekolah. Dari Asrama biasanya terus segera ke sekolahnya. Karena mereka takut terlambat. Jadi perginya aman aman saja. Pulangnya ini ada juga terjadi gangguan. Ya gangguan kecil. Kadang mampir dulu, ada saja kebutuhan. Entah beli makanan untuk kebutuhan buka puasa. Ada beli kebutuhan harian di asrama. Namun tetap pihak asrama dan security memonitornya. Karena menjelang ashar mereka sudah diabsen lagi. Saat itu semua harus sudah siap sholat ashar di masjid.

Annida itu dulu dikenal sebagai pesantren salaf. Bisa jadi itu karena kiyainya yang banyak menulis hadits bahkan buku tasawuf. Sekarang apa masih di jalur itu kiyai?

Kami mengembangkan pendidikan sesuai dengan perkembangan jaman. Ada sekolah umum, yakni Tsanawiyah dan Aliyah. Itu di kampus 2 yang di Kampung Mede. Di kampus 3 insya Alloh akan difokuskan pada sekolah kejuruan. Ini adalah sekolah sekolah yang didirikan seiring dengan kebutuhan masyarakat. Lalu bagaimana dengan ciri khasnya sebagai pesantren, mereka yang sekolah bisa mondok di sini, yakni di kampus I di Jl Juanda. Mereka mondok disini dengan mengikuti program pesantren khusus. Berbagai kitab agama dibahas di sini.

Perimbangannya lebih banyak yang mana antara siswa yang mondok dengan yang tidak?

Ya, jelas yang mondok lebih sedikit. Tapi mereka disini mengikuti program pondok dengan membaca kitab kitab kuning, termasuk kitab kitab yang ditulis Syeikh Muhajirin.

Kalau dominan pada sekolah sekolah umum dan kejuruan, bisa jadi lama lama Annida akan meninggalkan tradisi pesantren?

Bukan begitu. Sebuah sekolah membina sesuai dengan bakat dan minat santrinya. Tidak semua siswa bisa dekati sebagai calon kiyai yang belajar kitab kuning dan ilmu ilmu agama. Karena tidak semua punya kapasitas menjadi kiyai. Tapi tentunya ada yang mampu, punya kapasitas dan memang berminat jadi kiyai. Dan mereka inilah yang diberikan haknya, tinggal di pondok, usai melakukan kegiatan sekolah mereka mendalami kitab kitab khusus. Untuk siswa yang jenjang Tsanawiyah dan Aliyah, kitab kitab mereka fokus pada satu mazhab fiqh, yakni Syafiiyah.

Saat ini lebih dari 300 siswa yang mengikuti program pondok ini. Untuk yang lanjutan, yakni yang sudah tingkat sekolah tinggi, mereka mendalami 4 mazhab fikh. Ini kajian yang lebih mendalam. Mereka inilah yang akan menjadi ulama dan kiyai. Mengapa Annida juga lebih banyak pada sekolah umum seperti Tsanawiyah dan Aliyah dan akan dibangun kejuruan, karena kebutuhan real. Mereka butuh lanjutan untuk kuliah dibidang yang sesuai kebutuhan jaman. Atau mereka butuh segera bisa akses ke lapangan kerja.

Program khusus Marhalah Al Ulya sudat jadi Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah ?

Betul. Inilah yang saya maksud penyesuaian dengan tuntutan zaman. Ketika kita harus menyesuaikan diri dengan perkembangan, maka kita perlu berkorban. Kita mengikuti ketentuan legal untuk sebuah sekolah tinggi. Namun, sebagai program takhassus kajian empat mazhab dan kitab kuningnya terus. Yakni buat mereka yang mondok dan tidak pada mahasiswa yang tidak mondok. (abubagus)