18
Wed, Sep

Dede Satibi; Islamic Centre Perlu Terus Membenahi Misi Dakwahnya

Wawancara
Typography

Masih ingat nama Drs H Dede Satibi ? Pria kelahiran Garut ini pernah menjabat wakil Bupati Bekasi,  Jawa Barat. Saat itu bupatinya dijabat Suko Martono. Dede satu dari banyak tokoh yang memiliki kontribusi berdirinya Islamic Centre KH Noer Alie Bekasi. Di yayasan Nurul Islam, Dede tercatat sebagai salah seorang dewan pendiri.  

Usai mengikuti rapat dewan pendiri di Yayasan Nurul Islam – Islamic Centre KH Noer Alie (28/4), Dede sempat berbincang dengan Abu Bagus dari Islamiccentrebekasi.or.id. Perbincangan meliputi banyak hal seputar tantangan dakwah di Bekasi. Temasuk tantangan bagi masa depan Islamic Centre dalam mengemban misinya.

Senang bisa jumpa Bapak. Di masa pensiun masih aktif mengurus masyarakat ya pak? Bagaimana kabar Bapak?

Ya. Alhamdulillah. Saya bersyukur masih bisa berkontribusi kepada masyarakat. Saya juga masih mengurus Yayasan Panglima Sudirman, masih mengurus BAZ di Kabupaten. Ya masih Drda lah kesempatan untuk beramal. Alhamdulillah.

Tadi ada hal penting yang dirapatkan mengenai Islamic Centre?

Banyak hal yang strategis. Diantaranya dibicarakan mengenai pencantuman nama KH Noer Alie. Islamic Centrer akan menyematkan nama Pahlawan Nasional itu, sang penggagas ide, pelopor pembangunan menjadi nama untuk Islamic Centre. Nanti teknisnya akan diatur pengurus.

Seberapa pentingnya itu pak?

Ini terkait dengan pembenahan dan perbaikan kinerja di Yayasan selaku pengelola Islamic Centre ini. Misi dakwah yang dibawa Islamic Centre terus perlu diperbaiki, dibenahi dan ditingkatkan kualitasnya. Masalahnya tantangan dakwah memang semakin kompleks.

Memang tantangan dakwah makin berat. Di depan, di samping atau di belakang bangunan Islamic Center ini kita bisa saksikan fasilitas kemaksiatan sudah semakin mudah di dapat. Internet yang semakin merakyat juga bisa menjadi fasilitas kemaksiatan. Kita juga butuh fasilitas fasilitas modern itu, tapi kalau salah memanfaatkannya itu bisa jadi merusak?

Itu sebabnya kita membutuhkan peran Islamic Centre ini. Sebagi pemberi keseimbangan. Kita bersyukur masih ada lahan di posisi terdepan untuk dibangun masjid. Sehingga ini akan menonjol, akan menjadi pengingat dan penyeimbangan berbagai fasilitas kehidupan modern itu. Kota Bekasi akan menjadi sangat ideal jadinya. Ini luar biasa.

Langkah kongkret apa yang bisa dilakukan oleh Islamic Centre untuk menjawab itu?

Iya. Butuh kreatifitas. Pengurusnya harus tanggap dengan perkembangan lingkungan sekitar. Lingkungan masyarakat sekitar. Kita ditantang untuk menjawab perkembangan sosial agar tidak terjerembab dalam kemaksiatan.

Kreatifitas yang bagaimana?

Di sekeliling Islamic Centre berdiri banyak tower apartemen. Ini pasti dihuni lebih banyak manusia. Masyarakatnya makin modern, makin terdidik, makin kompleks. Ini tantangan bagi pengurus dan para da,i untuk menjawabnya. Mereka harus peka terhadap perkembangan itu karena itu harus dijawab.

Pernah ada gagasan agar Islamic Centre membangun beberapa fasilitas untuk mendukung realitas itu. Misalnya membangun rumah duka muslim, panti jompo muslim atau pesantren lansia dan sejenisnya?

Itu bagus. Karena di apartemen yang sempit dan tinggi, kalau mereka meninggal, tentu repot mengurusnya. Mereka membutuhkan kepedulian Islamic Centre. Begitu juga penanganan para lansia. Mereka tidak perlu menjadi beban. Mereka harus dibantu agar tetap bisa berkegiatan, mengikuti aktivitas. Kalau dirumah, bisa dianggap merepotkan. Tapi mereka bisa hidup bersama di pesantren lansia dengan pengurusan yang baik. Olah raganya, kesehatannya, pengajiannya, kebersamaannya dan banyak hal lagi.

Pesan bapak untuk pengurus?

Sederhananya. Pengurus harus peka dan kreatif. Bawa Islamic Centre untuk bisa menjawab tantangan dakwah yang makin kompleks dan menjawab kebutuhan hidup yang makin sekular. Di tangan pengurus lah program program Islamic Centre bisa diciptakan untuk kebutuhan masyarakat. Karenanya, musti dilibatkan semua pihak, jadikan ini sebagai asset umat yang tidak lepas dari kepentingan umat. (Abu Bagus)