02
Wed, Dec

Ziarah di Makam KH Muhajirin : Kesederhanaan Yang Terbawa Sampai Pusara

Makam KH Muhajirin Amsar

Wawasan
Typography

TIBYAN.ID - Siang itu, selepas waktu zuhur, saya sengaja berkunjung ke kampus II Pesantren An Nida Al Islamy di Kampung Mede, Kota Bekasi. Baru saja memarkirkan motor di depan kantin, saya menemukan satu makam yang terkurung pagar besi. Dihimpit bangunan sekolah dan laboratorim, itulah Makam ulama besar, KH Muhajirin, pendiri Pesantren An Nidal Al Islamy, pengarang 34 judul kitab berbahasa Arab. Saya hanya bisa tarik nafas panjang. Kesederhanaan yang terbawa sampai di pusaranya.

Berbeda dengan makam ulama pada umumnya, khususnya ulama NU, makam KH Muhajirin ini memang sangat sederhana dan tidak memberikan kesan sebagai tempai peziarahan. Mengkonfirmasi hal ini, DR KH Aiz Muhajirin, pimpinan Pondok An Nida Al Islamy, putra bungsu KH Muhajirin membenarkan hal itu. Ini memang keinginan Almarhum, juga permintaan umi, agar makamnya tidak dijadikan tempat peziarahan yang salah.

“Artinya, jangan ada orang yang berziarah sampai bermalam malam dan tidur di makam. Jangan sampai ada yang berziarah melebihi ketentuan syariat Islam,” kata Aiz Muhajirin. Meski begitu, Aiz menyebut banyak orang yang tetap datang berziarah, umumnya murid muridnya atau anak anak dari murid muridnya. Dan mereka selalu diingatkan untuk tidak melampaui batas.

Meski begitu Aiz menyebut, keluarga tetap memberi fasilitas untuk itu. Misalnya di sebelah barat makan dibangun semacam pendopo agar mereka yang bertamu untuk bereziarah tidak kepanasan atau kehujanan. Namun posisinya ada di sebelah barat, bukan di sebelah timur. Menurut Aiz berziarah memang hendaknya menghadapi makam dari arah barat, jadi menghadapi wajah makam. Kalau dari sebelah timur, itu kan memnghadap belakang namanya.

Ihwal tempat pemakamannya yang ada di lingkungan sekolah, Kiyai Aiz menjelaskan ini sebagai wasiat KH Muhajirin juga. Sebelum wafat beliau berpesan agar kelak ketika meninggal dunia dimakamkan di dekat murid muridnya. Maka, keluarga pun memenuhi wasiat itu. Dan ini memang satu satunya, tidak ada tambahan lainnya kecuali nanti menjadi tempat umi (isteri KH Muhajirin-red).

“Permintaan untuk dimakamkan di dekat murid muridnya bagi kami menunjukkan kecintaan beliau yang begitu tinggi pada dunia pendidikan, cinta beliau pada profesinya sebagai guru, dan cinta beliau pada murid muridnya,” kata Aiz menjelaskan.

Sebagai ulama ahlul hadits, KH Muhajirin memang dikenal sebagai guru yang satngat tawadhu’. Mengajar baginya sebuah kesenangan, bukan beban, bukan tugas dan bukan juga urusan penghasilan. KH Muhajirin terbukti seringkali membangunkan murid muridnya, menunggu murid muridnya. Bahkan ketika mendapat rintangan dan halangan, dia akan terus menerobos rintangan itu demi pekerjaan mengajar. “Beliau mengajar memang karena cinta,” kata Aiz menjelaskan.

Sesuatu yang dikerjakan dengan cinta pertimbangannya bukan lagi apa yang didapat dari perkerjaan itu, tapi dengan pekerjaan itu seseorang bisa menkmatinya. Sehingga wajar kalau sampai ada cerita KH Muhajirin sempat hendak berjualan pakaian untuk memenuhi kebutuhan dapurnya. Juga sempat ada sepenggal kisah, anak anaknya tak mampu dibelikan pakaian baru menjelang lebaran. Pendapatan seorang pengajar tak mampu menutupi kebutuhan keluarganya. Tapi di balik kesulitan itu, KH Muhajirin tetap tersenyum dan semangat membina dan mengajarkan ilmunya.

TITISAN JAWARA

Banyak cara seseorang jadi dihormati. Ada yang dihormati karena ilmunya, ada yang karena hartanya, atau ada juga yang karena kejawaraannya. Nah, KH Muhajirin adalah perpaduan dari dua keluarga, yakni keluarga mualim dan keluarga jawara. Dari bapak, yakni H. Amsar adalah tokoh beken di kawasan Cakung dan pada umumnya di tanah betawi. Dari kakeknya, Fiin adalah keturunan keluarga “jawara” yang disegani.

Sedangkan ibunya Hj. Zuhriah binti H. Syafi’i bin Jirin bin Gendot adalah dari keturunan orang alim yang mencintai ilmu agama dan bergelut sebagai ulama. Di dalam buku Sejarah Perjalanan Hidup Syekh Muhammad Muhadjirin Amsar al-Dari, nama Muhajirin sesungguhnya diambil dari nama kakeknya, Jirin, yang alim itu.

Sebelum merantau ke Mekkah, KH. Muhadjirin yang lahir di Kampung Baru Cakung, Jakarta Timur pada 10 November 1924 ini sudah bergelut dengan ilmu agama. Dia sudah belajar Al-Quran, Hadits, Tauhid, Nahwu, Sharaf, Ushul Fiqih, Fiqih, Balaghah, Falak, Mantiq, Arudh, Tashawuf  dan sebagainya kepada ulama ulama Betawi dan Banten.

Di antara Guru-guru beliau adalah Guru Asmat, H.Mukhoyyar, H.Ahmad, KH.Hasbialloh, H.Anwar, H.Hasan Murtaha, Syekh Muhammad Thohir, Syekh Ahmad bin Muhammad, KH.Sholeh Makmun, Syekh Abdul Majid, Sayyid Ali bin Abdurrahman al Habsyi dan lain sebagainya. Di antara sekian banyak guru tersebut yang paling mempengaruhi pola pikirnya adalah Syekh Muhammad Thohir, menantu dari Syekh Marzuki (Guru Marzuki), seorang ulama karismatik yang memiliki banyak murid dan pengikut.

Kepada duo mertua dan menantu itu, ia mulai memahami ilmu-ilmu agama. Hal ini dapat diketahui dengan seringnya kedua nama tersebut dijadikan rujukan oleh KH.Muhammad Muhadjirin saat memberikan penjelasan kepada murid-muridnya. Guru lainnya yang kerapkali disebut dalam penjelasan ta’lim-nya  adalah Syekh Abdul Majid (Guru Majid) Pekojan.

Menuntut ilmu, bagi KH Muhajirin memang sudah mendarah daging. Sebagaimana termaktub dalam manaqib singkat yang penulis peroleh dari putranya, KH. Dhiyaz Muhajirin dan KH. M. Aiz Muhajirin, beliau setia melakoni mengayuh sepeda dari Kampung Baru menuju majelis-majelis ilmu para gurunya.

H.Amsar sendiri adalah seorang pedagang telor di Mester [Pasar] Jatinegara yang berwatak tidak mudah gentar dengan segenap rintangan yang menghalangi jalannya. Sifat ini pula menitip ke K. Muhajirin

Suatu kali, misalnya, ia pernah dihadang seekor buaya saat hendak menyeberangi sungai (kali) Cipinang untuk menuntut ilmu. Namun, dengan kebesaran hati dan kemantapan tekad, rintangan tersebut pupus. Spirit thalabul’ilmi-nya tidak lemah hanya karena seekor hewan buas. Ini menunjukkan, bahwa sebagai pengajar, KH Muhajirin tak pernah surut oleh rintangan, meski risikonya harus meregang nyawa.

Ulama All Round

  1. KH. Muhadjirin, ulama Betawi yang dikenal menguasai sejumlah ilmu agama; Nahwu, Fiqih, Hadits, Falak (Astronomi), hingga Tafsir.  Hal ini bisa dilihat dari karya-karyanya yang berjumlah 34. Rincianya sebagai berikut:  Ilmu Lughah (6 kitab), Balaghah( 2 kitab), Tauhid( 2 kitab), Ushul Fiqh ( 7 kitab), Ushul Hadits ( 3 kitab), Mantiq (2 kitab), Faraidh (1 kitab), Tarikh ( 4 kitab ), Qowaidh Fiqh ( 1 kitab ), Ushul Tafsir ( 2 kitab), Adab al-Bahats ( 1 kitab ), Wadha’ ( 1 kitab ), Fiqh hadits (1 kitab), Tasawuf (1 kitab). Istimewanya, karya-karya itu semua ditulis dalam bahasa Arab. Semula, ia menulisnya demi kepentingan mengajar santri-santrinya. Kini, kitab-kitab itu ada yang dipakai di pelbagai pesantren murid-muridnnya yang rata-rata ulama disegani di daerah masing-masing.

Salah satu buah penanya yang boleh jadi masterpiece-nya karya KH Muhajidin adalah  Kitab Misbahzhulam [Syarah Bulughul Maram], sebanyak 4 jilid, sudah diterbitkan secara komersil di Penerbit Darul Hadits. Sayang, hingga kini, tidak ada riwayat ihwal proses produktif dan kreatifnya tersebut.

Berkat keikhalasannya belajar dan mengajar, banyak murid-muridnya yang menjadi ulama. Untuk menyebutkan beberapa nama: KH. Mahfuzh Asirun [Mudir Ponpes Al-Itqon], KH. Syarifuddin Abdul Ghani MA [Mudir Ponpes Al-Hidayah], alm. KH. Alawi Zein, KH. Kamal Yusuf, KH. Zamakhsari  dan lain-lainya. Barangkali, ini yang disebut keberkahan sejati: bermanfaat dengan kelipatan faedah yang tak pernah kering hingga kini, bahkan hingga Hari Akhir kelak.

Tak sekadar alim, KH Muhajirin juga dikenal demokratis. Ini berlaku bukan hanya kepada murid muridnya, tapi juga kepada anak anaknya. Sebagai cucu dari seorang ulama, kemudian menjadi ulama besar, menikahi putri ulama berpengaruh juga, tapi apakah KH Muhajirin terbebani dan mengharuskan anak anaknya menjadi kiyai seperti dirinya. Misalnya mengarahkan untuk belajar juga ke Mekkah ?  Sambil tersenyum ringan, KH Aiz Muhajirin hanya berkomentar singkat. “Enggak, anak anaknya diberikan kebebasan untuk memilih bidang kehidupan apa yang dikehendaki,” katanya sambil membenarkan anggapan  ahwa ayahnya adalah kiyai yang demokratis.

Sebagai menantu dari tokoh Masyumi di Bekasi, sepatutnya pula KH Muhajirin terjun ke bidang politik dan pasti tidak akan sulit untuk berada puncak kepemimpinan masyumi. Ini juga tidak kuasa membangun minatnya untuk berpolitik. KH Muhajirin memang tidak masuk dalam kegiatan politik praktis, tapi ketekunannya pada bidang yang dipilihnya, yakni bergelut di dunia pendidikan, mengajar dan membina generasi muda merupakan suatu sikap istiqomah yang menjadi jalan kebenaran pilihannya.

Sebuah pepatah begini katanya; gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan karya. Nah, untuk menjawab pepatah ini, KH Muhajirin, telah berhasil memenuhinya. Bahkan karya yang ditinggalkannya adalah karya monumental dan berkelas tinggi dalam pandangan akhirat.

Pertama karya tulis. Ini peninggalan yang tak akan pernah habis. Ia akan mengalirkan terus kebaikan dan pahala bagi siapapun yang membaca dan mengamalkannya. Kedua karya yang juga besar, yakni sebuah pondok pesantren yang hingga kini terus berkembang. Dari sebuah pondok kecil di Jl Juanda Bekasi, berkembang ke Kampus II di Kp Mede, juga di tengah kota Bekasi, kini sedang dikembangkan Kampus III di Setu.

Maka, ketika orang ingin meneladaninya dan berziarah ke pusaranya, ini tentu semata mata karena ingin mengambil berkah (tabarrukan). Atau mengenang kebaikan dan menjadikannya cermin. Karena untuk bisa tampil keren saja manusia butuh cermin, apalagi untuk kebutuhan yang lebih serius, misalnya kebutuhan keteladanan, kebutuhan sukses dan kebaikan.

Siang itu, waktu Ashar pun belum kunjung datang. Sementara langit Bekasi terik menyengat. Sekali lagi saya pandangi makam yang sangat sederhana ini. Andai ini bisa diberi sedikit lagi penghormatan, tentu akan lebih nyaman para perziarah berinteraksi secara virtual kepada kiyainya. Wallohu a’lam. (abubagus)