10
Mon, Aug

M.Natsir, Guru Bangsa Yang Bukan Type Pemarah

Foto : Ibu Aisyah, Putri Alm. Muhammad Natsir

Wawasan
Typography

TIBYAN.ID - Hari itu, rumah di Jl. Patra xv, No. 8, Kuningan, Jakarta Selatan berbeda dari hari hari biasanya. Hari itu sejumlah orang memadati ruang tamu yang tergolong luas.

Kehadiran mereka di rumah yang cukup mewah yang dilengkapi dengan musollah adalah untuk memenuhi undangan Parmusi, yang saat ini dipimpin H. Usamah Hisyam.

Rupanya Parmusi sedang menggelar bedah buku yang baru di terbitkan Pustaka Al Kautsar dengan judul buku "Biografi Muhammad Natsir, Kepribadian, Pemikiran, dan Perjuangan"

Dari wajah peserta yang hadir, terkesan bahwa yang hadir itu adalah orang orang yang sangat merindukan sosok Muhammad Natsir.

Menurut Taufiq Ismail ( budayawan) Muhammad Natsir adalah guru bangsa, negarawan, pejuang, pemikir, penulis, budayawan, politikus, pendidik ummat dan mujahid dakwah.

Diantara tamu undangan terlihat duduk di depan Laode Masihu Kamaludin, ketua Panitia Peringatan Refleksi Seabad M. Natsir, Pemikiran dan Perjuangannya. Prof. Fahri Ali, dosen UIN Jakarta. H.Usama Hisyam Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Parmusi, dan Lukman Hakiem, penulis, buku, serta para undangan dan tak ketinggalan sejumlah wartawan, baik TV, Radio, media cetak dan Online.

Ada satu lagi tamu undangan. Tamu ini terasa istemewa. Ia adalah seorang ibu rumah tangga. Namun jika diperhatikan secara seksama ibu ini mengingatkan kita ke tokoh yang sedang menjadi perbincangan yaitu M. Natsir. Karena wajahnya mirip M. Natsir. Ia adalah ibu Aisyah putri M. Natsir.

" Cukupkan yang ada, jangan cari yang tidak ada. Pandai pandailah mensyukuri nikmat" Kalimat sederhana tapi sarat makna itu kata Laode Masihu Kamaluddin ia baca di suatu lukisan penghargaan yang diberikan oleh keluarga besar M. Natsir di penghujung bulan November 2008.

Setelah menerima penghargaan itu, ingatan saya menerawang ke masa lalu pada peristiwa saat M. Natsir dalam perjalanan pulang dari istana Presiden ke rumah jabatan Perdana Menteri di Jl. Pegangsaan ( sekarang jalan proklasi) No. 56 Jakarta dengan mengendarai sepeda ontel yang sederhana setelah mengembalikan mandatnya sebagai Perdana Menteri NKRI pertama di tahun 1950" Cerita Laode Masihu Kamaluddin.

Sementara Prof, Fahri Ali, memuji buku biografi Muhammad Natsir, yang ditulis Lukman Hakim. Menurutnya buku itu telah mengungkap banyak hal tentang Muhammad Natsir. " Ulasannya cukup luas. Bahkan dalam buku ini diangkat juga percakapan antara Bungkarno dengan M. Natsir." Kata Fachri Ali.

Boleh jadi Lukman Hakim, sudah berdarah darah menulis buku ini, lanjutnya berseloro.

Lebih lanjut, Fachri Ali memaparkan perjuangan M. Natsir saat menjabat sebagai ketua Fraksi di Konstituante. Natsir menyampaikan pidatonya yang kemudian diberi judul " Islam Sebagai Dasar Negara". Pidato itu ia sampaikan 13 November 1957.
Tak jauh beda dari Taufiq Ismail, Fahri Ali memuji kepiawaian M. Natsir berpolitik yang santun dan cerdik. Natsir sangat layak dinobatkan sebagai guru bangsa, negarawan dan pejuang. (imran nasution)