04
Tue, Aug

Menguji Jokowi Di Kursi Panas, Bisakah Bertahan

*Photo ini hanya ilustrasi

Wawasan
Typography

TIBYAN.ID - Oleh : Amin Idris

Setapak demi setapak, tahun politik 2024 semakin dekat. Karenanya dapur partai partai, tokoh tokoh serta para pengamat dan pemilik lembaga survey saat ini sedang sibuk sibuknya menyiapkan banyak proposal. Intinya mereka sedang bersiap ambil peran dalam momen lima tahunan suksesi pemimpin nasional.

Banyak yang memprediksi pilpres 2024 bakal seru.

Pertama, tradisi money politik masih belum bisa hilang. Ini sumber ketegangan sekaligus perusak tatanan demokrasi. Kedua polarisasi kekuatan lama antara “cebong” dan “kampret” masih melekat meskipun Prabowo sudah ada di dalam satu kandang kekuasaan dengan Jokowi. Ketiga figur yang muncul sebagai kekuatan unggulan utama bakal capres justeru adanya bukan di kelompok istana, yakni Anies Baswedan. Ini bakal lebih seru lagi.

Apalagi kalau narasinya menggunakan pertimbangan analisa terburuk, yakni tumbangnya pemerintahan ini sebelum 2024. Maka, semua “pemain” atau mereka yang “ingin terlibat dalam permainan” sudah pasti sedang ngebut persiapannya. Iya dong, dan itu wajar wajar saja. Hanya pemain yang siap yang bisa tenang memasuki gelanggang.

JOKOWI DAN SURPLUS KETIDAK PERCAYAAN PUBLIK

Mari kita lihat, sejak awal 2020, tepatnya tanggal 21 Januari, pengamat politik yang sekarang suaranya tidak lagi terdengar di Indonesia Lawyers Club (ILC), Rocky Gerung memberikan prediksi yang cukup mengejutkan. “Pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) tidak akan sampai 2024.

Menurut Rocky, Presiden Jokowi tengah mengalami surplus ketidakpercayaan publik seiring dengan terjadinya kontradiksi kebijakan dan inkonsistensi janji kampanye. Jika hal tersebut dibiarkan, alumnus filsafat Universitas Indonesia tersebut memprediksi akan terjadi demonstrasi dari mahasiswa, yang tentunya itu dapat menimbulkan gejolak politik.

Surplus ketidak percayaan publik seperti dikatakan Rocky Gerung itu makin kentara di masa penanggulangan Covid19 ini. Misalnya banyak kepala desa, bupati atau gubernur yang langsung menohok presiden. Entah mengenai janji pemberian bantuan logistik atau janji penangguhan pembayaran cicilan kredit.

Bahkan beberapa tokoh nasional rame rame melayangkan gugatan terhadap Perpu Penanggulangan Virus Corona ini. Tokoh tokoh oposisi seperti Amin Rais, Dien Syamsuddin, Rizal Ramly, Faisal Basri melayangkan gugatan mereka. Kalau benar pada pasca redanya Pandemi Covid19 ini akan terjadi gelombang protes besar dan serentak di berbagai kota, maka bisa dipastikan istana akan semakin repot.

Senada, Syahganda Nainggolan, pengamat politik dari Sabang Merauke Circle bahkan memprediksi waktu kejatuhannya lebih spesifik, yakni peristiwa pandemik Covid19 ini akan jadi momentum jatuhnya pemerintahan ini. Karena pandemik ini memporakporandakan sendi sendi ekonomi yang otomatis berimbas pada ekonomi Indonesia. Pasalnya ada ketergantungan yang begitu besar pada Tiongkok. Artinya, peristiwa buruk itu diprediksi oleh Syahganda Nainggolan terjadi antara lima enam atau tujuh bulan kedepan.

Rizal Ramly, juga punya pikiran sama. Menurutnya ada atau tidak ada pandemik ini sebetulnya ekonomi Indonesia sudah babak belur. Sehingga wabah korona menjadi alasan penyelamatan muka penguasa. Diantaranya melalui melahirkan perpu yang yang kini digugat oleh beberapa kelompok ke mahkamah yang oleh para penggugatnya disebut sebagai baju untuk menutupi babak belurnya kondisi keuangan negara saat ini..

Menurut Rizal Ramly, terdapat lima faktor penting di sektor ekonomi yang jika terjadi secara bersamaan dapat memicu tumbangnya Jokowi. Pertama indikator makro ekonomi yang merosot. Kedua daya beli yang menurun. Ketiga kasus Jiwasraya. Keempat ekonomi digital yang mengalami koreksi valuasi. Dan keenam terjadinya gagal panen para petani.

Dan dari sisi spiritual, Menteri Sekretarius Kabinet konon pernah melarang Jokowi berkunjung ke Solo. Khawatir akan bernasib sama dengan Gus Dur yang diimpeach sepulang mengunjungi Kediri. Ada mitos, presiden yang berkunjung ke Kediri akan berakhir masa jabatannya sebelum waktunya. Artinya, kalangan dalem bisa diduga memang sudah ketar ketir.

Namun ini adalah prediksi. Sebuah prediksi bisa benar bisa juga salah. Sekuat apapun dukungan keilmuannya, secanggih apapun analisisnya, prediksi terhadap masa depan tidak ada yang memastikan kebenarannya. Karena urusan setelah saat ini hanya milik Alloh. Jadi, cukup menjadi catatan kecil saja di memori otak kita.

PERTAMBAHAN 5 JUTA PENGANGGURAN BARU

Selain persoalan politik kekuasaan, sesungguhnya ada yang paling penting untuk dicermati, yakni kondisi pasca pandemi Covid19 ini. Seperti disampaikan oleh Febrio Kacaribu dalam video conference di kantornya (20/4) seperti dilaporkan D000etik Finance, akan lahir lima juta orang pengangguran baru.

Ini diprediksi dari terjadinya pertumbuhan ekonomi yang hanya di kisaran 2,5 persen. Asumsi ini adalah asumsi yang paling buruk. Namun bisa saja terjadi kemungkinan yang lebih buruk lagi dimana pertumbuhan akan ada di bawah nol persen alias mines.

Indonesia memang bukan satu satunya yang mengalami ini. Negara negara raksasa, khususnya America dan China juga mengalami kondisi yang jauh lebih parah. Saat ini China berusaha menjelaskan kepada publik bahwa di perusahaan perusahaan pemerintah sudah mulai beroperasi kembali.

Presiden Xi Jin Ping juga sudah mendeklare pancemic telah berakhir. Tapi faktanya, seperti dilaporkan IMF, geliat bangkitnya kembali industri di China masih belum menunjukkan tanda tandanya. Ini berkaitan dengan masalah pasokan, juga para pekerjanya masih belum berani memulai. Mereka masih lebih memilih diam di rumah meski hanya bisa belanja untuk kebutuhan makan saja.

Di Amerika masih lebih serem lagi. Sampai saat ini negeri Paman Sam ini masih belum menunjukkan tanda tanda mengakhiri kesedihan karena kematian akibat Covid19. Amerika masih sibuk mengurus pemakaman rakyatnya yang gugur, belum bisa bicara pertumbuhan ekonomi dulu.

Maka serangkaian persoalan ekonomi ini akan menjadi beban yang tidak main main bagi pemerintahan Jokowi pasca pandemik ini. Mau pinjam lagi ke China atau apakah China masih bisa membiaya proyek proyek di Indonesia yang udah teken kontrak? China sama, sedang memasuki masa sulit.

Riak riak ketidak percayaan yang dimulai dari para lurah, bupati sampai gubernur menjadi tandatanya apakah ini sebagai sebuah awal perlawanan tak sengaja dari dalam pemerintahan, atau hanya seperti yang dikatakan Rocky Gerung sebagai bagian dari defisit kepercayaan?

Dan, namanya juga politik, lawanpun kalau menguntungkan pasti jadi temen. Sebaliknya meskipun Jokowi, presiden yang diusungnya, kalau sudah digadang gadang bakal “nyungseb” pasti dengan mudah akan ditinggalkan. Mau contoh?

Nih di DPR RI, Arteria Dahlan dan Efendi Simbolon anggota DPR RI dari PDIP dengan lantang menyerang kebijakan Perpu yang dikeluarkan Presiden. Lah, presidennya kan dari partai dia, kok dia yang menyerangnya. Menurut para pengamat, PDI sedang bikin sekoci. Padahal Arteria dan Efendy bukan jajaran ring satu partai. Jadi bisa aja ocehannya bukan kehendak partainya.

Atau Mendagri Tito Karnavian yang belakangan makin menunjukkan sinyal sinyal kemesraan dengan Anies Baswedan. Atau Dato Sri Tahir, salah seorang anggota Dewan Pertimbangan Presiden yang memuji muji Anies dalam hal penanganan Banjir Jakarta.


Dato Sri Tahir merupakan pemilik Grup Mayapada. Pria kelahiran Surabaya, 26 Maret 1952 tersebut dikenal sebagai seorang filantropis. Tahir tercatat sebagai orang terkaya ke-4 di Indonesia tahun 2018. Dan dia dikenal dekat sekaligus orang yang paling banyak menjembatani urusan dengan para taipan. Bandul kekuasaan sedang bergoyang.

Bagaimanapun gelombang politik ini pasti menimbulkan dinamika. Suhu politik pasti memanas. Seperti dipesankan Abdullah Gymnastiar alias Aa Gym, hendaknya semua pihak menahan diri dari kemungkinan kemukinan terjadinya konflik. Jangan sampai kepentingan orang lain membuat kita jadi tercabik cabik, berantem dengan sesama saudara sendiri. Ini yang harus dihindari.(aminidris/dari berbagai sumber)