25
Fri, Sep

Masjid Nurul Islam Tempat Transit Musafir

Wawasan
Typography
TIBYAN.ID, BEKASI - Masjid Nurul Islam yang berada di jalan Ahmad Yani, komplek Islamic Center KH. Noer Alie, kota Bekasi, sering menjadi tempat transit para musafir. Baik yang ingin bermalam di Bekasi maupun yang hanya sekedar melepas lelah. 
 
Sebab, masjid Nurul Islam posisinya berada di jalur lintas utama yang menghubungkan Jakarta dengan kota kota lain baik Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Maka tak jarang para musafir yang ingin ke Jawa Barat, Tengah dan Timur kerap menggunakan masjid Nurul Islam sebagai tempat transit. 
 
Posisi yang strategis itu yang membuat masjid hidup. Oleh karena itu perlu inovasi untuk menjadikan masjid menjadi tempat yang nyaman tak hanya sekedar melaksanakan ibadah mahdoh, ibadah yang sunnah dan tempat menimba ilmu islam, tapi juga menjadi tempat transit yang ditunjang dengan fasilitas pendukung seperti restoran halal, rumah makan murah, dan penginapan syar'i. 
 
Betul disekitar masjid Nurul Islam ada fasilitas hotel dan restoran tapi akan lebih menarik jika kamar kamar yang dulu menjadi tempat menginap jamaah haji dijadikan sebagai penginapan syar'i. 
 
Dulu sebelum asrama haji difungsikan Islamic Centre dijadikan sebagai penginapan para calon haji sebelum diberangkatkan ke Mekkah. Nah asrama itu kini tak berfungsi maksimal. 
 
Untuk merevitalisasi masjid Nurul Islam saatnya dipertimbangkan untuk menjadikan eks asrama haji menjadi penginapan syar'i. 
 
Sangat tepat apa yang di ungkapkan Ketua DKM Nurul Islam, H. Abid Marzuki, saat berlangsung Rapat Kerja (Raker)  kamis 13 Agustus di aula KH Noer Alie, Islamic Center. 
 
"Saya ingin masjid ini tidak hanya sekedar tempat beribadah, tapi juga dapat berfungsi sebagai tempat kajian islam dan menjadi pusat syiar Islam" Tegasnya. 
 
Tentu menjadikan masjid sebagai tempat kajian islam dan pusat syiar Islam, perlu ada penguatan pada struktur pengurus DKM. Dibutuhkan personil yang visioner. Dan menjadikan masjid sebagai tempat yang mulia. Bangga sebagai marbot. Karena yang mereka kerjakan adalah memberikan pelayanan kepada umat. 
 
Ketika pangeran Arab Saudi bangga disebut sebagai khadamu haromain ( pelayan dua masjid suci yaitu Masjidil Haram dan Masjid Nabawi Madinatul Munawwaroh),  kita juga seharusnya bangga menjadi pelayan umat di masjid. Wabil khusus masjid Nurul Islam, papar Abid Marzuki memberi motivasi. 
 
Jikap sikap bangga menjadi pelayan umat dalam hal ini jemaah akan melahirkan etos kerja yang prima. Kita tak akan menemukan karpet yang berdebu, tidak ada wc yang bau, kita akan menemukan kamar mandi  yang bersih. Jika pelayanan baik maka jemaah juga tak akan segan segan untuk merogoh kantongnya untuk berinfak. Karena umat merasakan manfaat infaknya. 
 
Tapi kalau karpet berdebu, dan terlihat hitam, kotor, wc bau, kamar mandi jorok, Maka jamaah juga akan enggan merogoh kantongnya untuk berimfak di masjid. Sangat mungkin ia mencari masjid yang lain. 
 
Raker akan menyegarkan pengurus DKM dan menyusun program baru. Mudah-mudahan Raker bisa menjadi jembatan untuk revitalisasi masjid Nurul Islam. (Imran nasution)