25
Fri, Sep

Damin Sada Jawara Bekasi Siap Lindungi Ulama

Wawasan
Typography
TIBYAN.ID, BEKASI - Damin Sada. Tubuhnya gempal, kekar tinggi, besar, dan melebihi rata rata orang Indonesia. Ia dikenal sebagai Jawara di Bekasi. Suaranya tegas dan berwibawa. 
 
Mantan Kepala desa Sri Jaya, Kecamatan Tambun Utara dua periode berturut turut ini menerima majalah Satu Umat di  salah satu ruangan yang sangat sederhana di Rumahnya  tak jauh dari kantor desa Sri Jaya, Rabu 19 Agustus. 
 
Meski kami diterima dalam ruangan yang sederhana tapi ada kesan mendalam karena di dalam ruangan itu terpampang foto berukuran besar yaitu seorang ulama kharismatik dan Pahlawan Nasional, siapa lagi kalau bukan KH. Noer Alie, tentu ada juga foto Damin Sada, dengan ukuran lebih kecil. Itu menandakan Damin Sada, orang yang peduli dengan ulama. Boleh saja ia dikenal sebagai jawara tetapi kedekatannya dengan ulama tak diragukan. Kami berbincang hangat ditemani kopi. 
 
Dalam perbincangan itu terungkap banyak hal tentang misteri yang menyangkut diri Damin Sada. 
 
Sebagai Jawara yang sangat disegani, tersimpan kemuliaan dan kebaikan pada dirinya yaitu ia kerap melindungi dan membela para ulama tanpa banyak koar koar. 
 
"Saya tak banyak tau soal agama, tapi meski demikian sekedar baca Qur'an, saya mah bisa. Tapi jangan coba coba ada orang yang menghina Islam dan  mengganggu ulama  darah saya bisa mendidih. Biasanya langsung saya paranin tanpa koar koar di Sosmed" Katanya dengan logat Bekasi. 
 
Pernah ada dosen yang sering menghina islam di sosial media. Saya paranin ke kampusnya yang beralamat di depok. Karena tak bisa langsung  bertemu dengan dosen itu saya titip suratnya ke Satpam. Dalam surat itu saya minta ketemu dengan dia dimana saja. G tau karena takut kami diminta bertemu di salah satu kantor keamanan di bilangan Jatinegara Jakarta Timur. 
 
Dalam pertemuan itu aku tanya apa maksud dia menghina islam. " Kalau ku gidik ( kupukul) kepalamu sampai bocor, paling saya ditahan berapa bulan atau berapa tahun. Bagi saya dipenjara tak ada masalah demi bela islam dan ulama. Si dosen itu ketakutan. Temannya yang ikut mendampingin  menyela katanya..dosen temannya rajin solat. Eh kau diam sanggahku kepada temannya aku engga tanya solatnya yang aku tanya mengapa dia menghina Islam. Kemudian si dosen minta maaf. Lalu saya jawab kalau kau mengulangi menghina Islam gua engga bicara kaya gini, gua cari lu sampai ketemu, dan itu terserah gua"  papar Damin menceritakan saat ia mendatangi orang yang menghina islam. 
 
Aku mah engga banyak hapal ayat dan hadis. Tapi saya berusaha mempraktekkan ayat dan hadis yang saya ketahui ujarnya. 
 
Salah satu hadis yang berulangkali ia sebut adalah " Sebaik baik manusia adalah orang yang bermanfaat untuk manusia. Maka saya selalu ingin berbuat baik kepada manusia semampu saya yaitu melindungi para ulama dan asatidz, tuturnya. 
 
Karena itu yang bisa daya lakukan. Aku tak banyak hapal  ayat dan hadis, tapi aku ingin mempraktekkan apa yang saya tau. Itu saja. 
 
Dulu pernah ribut antara preman dengan FPI ada juga ustadz yang dianiaya. Lalu ada preman Bekasi yang koar koar di sosmed makan paku segala. Langsung saya paranin ketua LSM itu di Bekasi dan cari anak yang koar koar ngancam ulama. Sudah ketemu mewek dan minta minta ampun. Jadi saya tak banyak pikir kalau menurut gua benar aku yakin ya gua lakonin.
 
Damin Sada tidak saja memiliki jiwa kesatria, tapi jiwa yang ikhlas berbuat dan menolong. 
 
Saya sempat kaget ketika sampai di rumahnya. Kalau dari segi kepopulerannya rumahnya sudah besar, dijaga anak buah. Tapi ternyata biasa biasa saja. " Saya mungkin bisa lebih kaya jika mau menuruti hawa nafsu. "Tapi untuk apa kaya tapi hina dimata orang"  katanya. (Imran Nasution)