25
Fri, Sep

Testimoni : “Kalau Kami Menang, Uda Yang Pertama Kami Bunuh”

Ilustrasi terkait pergerakan Partai Komunis Indonesia (PKI) [Foto: Istimewa]

Wawasan
Typography

TIBYAN.ID - Saat itu, usianya masih anak anak. Tapi sudah cukup untuk merekam peristiwa kekejaman orang orang PKI. Bagaimana Suman memaksa ayahnya dan mengancam akan membunuhnya. Masih teringat jelas, bagaimana ayahnya ketakutan saat mendengar kabar pembunuhan para jenderal.

“Saat itu, ayah menghilang ke hutan dan kami pun pasrah,” begitu cerita Imran Nasution tentang ayahnya dan kampungnya yang diteror orang orang PKI beberapa hari menjelang melurusnya peristiwa Gestapu PKI. Berikut testimoninya :

Sebulan menjelang terjadinya pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI), yang populer dengan Gerakan 30 September (G30S) PKI, yang orang orang lazim menyebut Gestok, rumah kami di kampung Pagaranbira, kecamatan Sosopan, Kabupaten Padanglawas, pemekaran dari kabupaten Tapanuli Selatan, sering didatangi ketua PKI di desa kami namanya Suman Nasution. Ketika itu saya baru berusia 8 tahun, Memori otak saya sudah dapat menyimpan dengan jelas apa yang terjadi jelang G30S PKI di kampung kami.

Masih segar dalam ingatan saya, Suman hampir setiap malam mendatangi rumah kami. Kebetulan saat itu abang saya sedang bisulan dan ayah selalu berjaga disamping abang. Momen itu dijadikan Suman untuk menekan ayah agar masuk anggota PKI. Ayah tetap bertahan untuk tidak masuk meski hanya beberapa kepala keluarga lagi yang tidak masuk. Ayah benar benar sangat tertekan atas ulah ketua PKI itu yang setiap malam mendatangi rumah kami kami.

Ada ancaman Suman kepada ayah yang masih terngiang ngiang di telingaku. “Kalau kami menang, yang pertama saya bunuh adalah uda” ancam Suman karena ayah masih tetap bersikukuh tidak mau masuk PKI. Lalu ayah menjawab, “tunggulah dulu anak saya pulang dari pesanteren, jika dia membolehkan saya masuk, saya akan masuk” jawab ayah. Sumanpun keluar men inggalkan ayah dalam keadaan ketakutan.

Pada setiap pekan sebenarnya abang pulang dari pondok di ‘Pesantren Paringgonan’ namanya. Jaraknya pesantren itu dari kampung kami sejauh 8 Km. Saya dengar ayah minta pendapat abang soal PKI. Abang lantas menjawab ‘jangan masuk ayah, itu partai yang tidak mengenal Tuhan.

Saat itu situasi semakin genting. Setiap hari pekan pemuda Rakyat latihan baris berbaris yang dilanjutkan latihan perang dengan menggunakan senjata buatan. Seperti biasanya sebelum latihan baris berbaris Pemuda Rakyat itu bernyanyi nyanyi di Balairung. Orang kampung kami menyebut Balerong. Kalau hari Ahad Balairung itu digunakan untuk jualan karena kalau hari Ahad ada pasar yang berlangsung sekali dalam sepekan.

Sebagai anak masih usia 8 tahun aku senang melihat Pemuda Rakyat latihan baris berbaris dan latihan perang. Tanpa mengetahui apa tujuan kegiatan itu, sementara ayah saya semakin hari semakin ketakutan. Bahkan ayah mulai jarang pulang ke rumah. Setiap rumah diwajibkan menggali lubang letter L di belakang rumah masing masing dan wajib menyediakan pasir di karung dan bambu betung 2 ruas berisi air. Semakin dekat dengan peristiwa PKI pemuda Rakyat semakin sering berkumpul dan bernyanyi nyanyi. Sebagian bait yang masih saya ingat adalah sebagai berikut:

Bulat semangat tekad kita

Barisan sukarelawan Indonesia

Bedil dan Cangkul siap bertempur

Siap tantangan kita lawan…pantang mundur

Ayoklah kawan barisan sukarelawan Indonesia......

Suatu hari lantai Balairung yang terbuat dari bambu itu roboh saking gembiranya mereka bernyanyi sambil lompat - lompat. Tak seorangpun yang berani menegor, termasuk kepala desa kami yang juga masih bertahan tak mau masuk PKI

Ketua PKI Suman, kebetulan membuka warung kopi, setiap pagi sebelum berangkat ke ladang bapak - bapak ngopi di warung Suman, kesempatan itu digunakannya untuk menggalangan kekuatan PKI. Ia punya radio merk Sinar. Saat itu kampung kami belum masuk TV. Satu satunya sumber informasi adalah radio.

Pada pagi 30 September 1965 itu, Ada siaran tentang pidato Kolonel Utung yang memberitakan telah terjadi Kup. Suman lalu membesarkan suara radio. Matanya membelalak. Beberapa orang yang tidak mau masuk PKI mulai ketakutan.

Ketika ayah saya mengetahui berita itu, ia buru buru berkemas lalu keluar rumah. Malam tiba ayah belum pulang. Mama mulai nangis karena sudah larut malam ayah belum pulang. Mama tidak tidur malam itu memikirkan keberadaan ayah. Paginya, saya, kaka, abang, bersama mama pergi ke sawah untuk nandur “mama berpesan agar kami tak boleh nakal nakal, saya lihat kakak menangis, abang menangis, mama menangis. Mungkin ayahmu tak pulang lagi kata mama sambil sesungukan. Aku benar benar tak mengerti apa yang terjadi.

Sepekan kemudian suasana berubah. Entah apa yang terjadi, pemuda rakyat di kampung kami ditangkapi. Suman melarikan diri, Sejak itu anggota buterpera (sekarang disebut Koramil) sering datang ke kampung kami untuk mengintai keberadaan ketua PKI Suman.

Peristiwa itu tentu tak ada artinya dalam sejarah. Secuilnya tak ada artinya dibandingkan dengan kekejaman PKI menangkap dan membunuh jenderal TNI yang kemudian dibuang dan dimasukkan dalam lubang ’buaya’ di kawasan Halim Perdanakusuma.

Apalagi setelah saya membaca buku ‘Banjir Darah Kisah Nyata Aksi PKI terhadap Kiai, Santri, kaum muslimin’ pada pemberontakan PKI di Madiun tahun 1948, yang ditulis Anab Afif dan Thowaf Zuharon. Buku ini menceritakan peristiwa mengerikan yang dilakukan oleh orang - orang PKI di Madiun. Seperti pembantaian kiai Imam Mursyid Muttaqin, pimpinan pondok pesanteren Sabilil Muttaqin, bersama ratusan santrinya di Takeran, mereka dibantai dengan kejinya. Peristiwa yang tidak kalah mengerikan yang membuat bulu kuduk merinding adalah pembantai di pabrik gula Rejo Sari, Gorang Gareng Magetan Jawa Timur. Betapa sadisnya anggota Front Demokrasi Rakyat (FDR/PKI) yang membantai Kiyai, ulama dan santri.

Ternyata kekejaman itu berlanjut tahun 1965. Tentu berbagai aksi dan agitasi PKI sering membuat masyarakat yang berseberangan dengan PKI akan sangat ketakutan, apalagi jika melihat kebelakang pemberontakan PKI Muso di Madiun tahun 1948. Mudah mudahan peristiwa kelam itu tak terulang lagi. Kita harus tetap waspada karena bahaya laten PKI yang setiap saat akan mengincar anda. ( Imran Nasution)