25
Fri, Sep

Obrolan Senja di Buitenzorg Coffee (5) Kesaktian Sunan Kalijaga melumpuhkan Sabdo Palon

*Ilustrasi Sunan Kalijaga

Wawasan
Typography
Oleh: Amin Idris
 
TIBYAN.ID - Magrib menjelang. Sebagai kader Muhammadiyah, Mas Pono mengajak kami ke Musholla di lingkungan rumahnya. Dia mengimami. Dia pula memimpin doa. Tuhan, jadikanlah jiwa kami sebagai jiwa-jiwa yang tenang, tentrem.
 
Supono, orang yang saya panggil Mas Pono ini adalah pemerhati sejarah. Dia praktisi politik. Setiap kali bicara dengan saya, dia lebih memilih tema-tema sejarah, budaya, dan hal hal yang bersifat humanity. Sedikit-sedikit dia menyinggung perkara politk aktual di seputaran pekerjaannya.
 
Malam membayang-bayangi obrolan kami. Mas Pono masih bersemangat. Saya hafal betul ekspresinya. Sama seperti kala kami masih sama-sama di Kramat Pulo. Saat itu setiap kali nonton di Bioskop Rivoli, Mas Pono seperti berbusa ingin terus ngoceh tentang film India yang ditonton. Padahal, kami nonton sama sama kala itu.
 
“Kopi tidak jauh berbeda dengan film India,” katanya. Jangan pisahkan Film India dengan Kain Sari, jangan pula dipisah kopi dari pahit. Menambah gula pada kopi sama dengan membunuh citarasa. Ini adalah bentuk pengkhianatan yang tak termaafkan di kalangan penikmat kopi. Khususnya komunitas Buitenzorg Coffee ini.
 
Menaklukkan Kesaktian Sabdo Palon
 
Sabdo Palon mendampingi beberapa raja sebelumnya. Prabu Brawijaya V hanya salah satunya. Dan, di tangan Sabdo Palon, Prabu seakan tak berkutik. Keinginannya untuk memeluk Islam saja menjadi begitu sulit. 
 
Itulah pemimpin. Dia tidak sendirian. Ada orang di ring satu atau ring duanya yang selalu mempengaruhi keputusannya. Sama dengan presiden saat ini. Ia memutuskan sesuatu yang belum tentu sesuai suara hati kecilnya.
 
Pemimpin bisa saja dipengaruhi. Pemimpin boleh juga dibuat tergantung oleh orang sekelilingnya. Tapi pemimpin yang sebenarnya adalah yang jelas sikap kebijakan dan langkahnya, dan bisa mewarnai orang orang dekatnya. 
 
Pemimpin membentuk, bukan dibentuk. Pemimpin mempengaruhi bukan dipengaruhi. Hitam dibilang hitam. Pahit ya pahit, gak perlu dioplos supaya terasa manis. Karena di balik hitam dan pahit sesungguhnya ada kenikmatan yang hakiki. Ngopi mas …
 
Raden Fatah, putra selir Prabu Brawijaya V yang telah mendirikan kerajaan Demak terus mencari jalan. Bagaimana agar ayahandanya bisa bisa lolos dari cengeraman pengaruh penasehatnya, Sabdo Palon dan Naya Genggong. Bagaimana agar Prabu memeluk Islam. 
 
Teringat dia akan penasihat spiritual Keraton Demak Bintoro, Sunan Kalijogo. Raden Fatah yakin, Kalijogo bisa diandalkan menaklukkan kesaktian Sabdo Palon.
 
Menurut Mas Pono, mengutus Sunan Kalijaga tentu tidak ada beban psikologis yang mengganjal. Antara Sunan Kalijaga dengan Prabu Brawijaya V adalah kakek dan cucu.Sunan Kalijaga adalah menantu Sunan Ampel yang menikahi Dewi Khafshah, putri Sunan Ampel. 
 
Beradu Kesaktian
 
Sunan Kalijaga dengan penuh percaya diri masuk ke pesanggrahan Prabu Brawijaya di Gunung Lawu. Bukan hanya serem daerahnya, tapi ini memang angker, banyak dihuni makhluk halus yang dipasang untuk menjaga padepokan sang raja.
 
Dalam Serat Darmoghandhul disebutkan, untuk mengimbangi suasana padepokan yang penuh mistik Sunan Kalijaga berdakwah menggunakan bahasa yang penuh metafora, simbolis atau pelambang kepada Prabu Brawijaya V. Intinya Sunan Kalijaga memadukan syariat, tarekat, hakikat, makrifat dengan persenggamaan antara suami istri.
 
Persenggamaan yang dimaksud menurut tafsir Mas Pono adalah adalah simbol simbol seksual. Kita bisa bedah di lain waktu. Karena bagi para raja, seks bukan sekadar persenggamaan. Bagi Sunan Kalijaga bagaimana pula persenggamaan bisa menjadi bahasa dakwah.  
 
Sunan Kalijaga juga menerapkan ilmu karomah. Dengan karomah itu kedua penasihat Brawijaya V, Sabda Palon dan Naya Genggong yang terkenal sakti mandraguna dan dapat menggerakan prajurit siluman, menjadi tidak berdaya dihadapan Sunan Kalijaga. Dibikin lumpuh oleh ilmu Sunan Kalijaga.
 
"Ngger Kalijaga, sebelum aku memeluk Agama Islam, tolonglah potong rambutku ini, " kata Brawijaya kepada Sunan Kalijaga.
 
Melihat permintaan itu, Sunan Kalijaga masih memantapkan niat Raja Majapahit tersebut dengan berkata, " Wahai Gusti Prabu, jika Gusti Prabu meminta potong rambut, maka hendaknya berniat lahir dan batin akan mengucapkan kalimah syahadat yang berarti masuk Islam. Sebab, jika niat Gusti Prabu hanya lahirnya saja, tentu rambut Gusti Prabu tidak mempan saya potong," ujar Kalijaga.
 
Sunan Kalijaga paham betul, kakeknya ini seorang petapa yang sakti mandraguna. Tidak mungkin ia bisa memotong rambutnya kalau bukan karena jurus ikhlas yang membukanya. Ikhlas untuk memeluk Islam membuat benteng kesaktiannya menjadi longgar terbuka.
 
"Kamu masih belum percaya padaku, Ngger Said, percayalah aku benar-benar telah lahir dan batin berniat memeluk agama Islam, " ujar Prabu Brawijaya. Maka, Sunan Kalijaga pun berhasil memotong rambut Prabu.
 
Sunan Kalijaga membimbing Prabu Brawijaya V untuk mengucapkan kalimah syahadat. Dihadapan Sunan Kalijaga, Prabu Brawijaya V memeluk Islam. 
 
Saat itu dua penasehat spiritual Kerajaan, Sabda Palon dan Naya Genggong murka. Bak disamber petir di siang bolong, keduanya marah besar. Tapi ia hanya terbakar hati saja saja. Membara tanpa bisa terlihat apinya. Tak juga ada yang bisa diperbuat.
 
Keduanya hanya bisa tertunduk di depan Sunan Kalijaga. Kemudian keduanya pergi meninggalkan Prabu Brawijaya V dengan mengeluarkan kutukan bahwa mereka akan kembali menguasai tanah Jawa 500 tahun lagi. 
 
Itulah yang disebut janji Sabdo Palon. Bagi sebagian orang jawa janji itu bisa jadi masih berlaku. Dengan menyebut beberapa nama, Mas Pono mengaku tidak kaget kalau orang orang itu cenderung memusuhi Islam dari pucuk tertinggi kekuasaan. Ada janji leluhur yang belum terbayar. 
 
Tapi ketulusan dan keikhlasan Sunan Kalijaga telah membuktikan, bahwa jalan kebenaran selalu dimenangkan. Janji Sabdo Palon kini bergema menjadi tuntutan. Tapi jelas berbeda dengan Janji Jiwa, kopi keninian kegemaran anak-anak muda yang masih mendambakan mantannya. Hmmmmm (selesai)