14
Wed, Apr

Membangun Masjid dengan Manajemen Profesional

Peserta pengurus DKM se Kota Bekasi dalam acara pelatihan managemen Masjid

Wawasan
Typography
TIBYAN.ID - Ada sejumlah krisis yang menghantui masjid kita, yaitu krisis kepengurusan, keuangan, sarana dan program yang berorientasi pada hal hal yang bersifat ubudiyah seperti sholat, pendidikan, majlis ta'lim, penyiapan imam, khatib, yang belum tertangani dengan baik. 
 
Krisis lain Dewan Kemakmuran Masjid adalah pembinaan remaja masjid, dan krisis jama'ah. 
 
Pernyataan itu disampaikan ketua Baznas, kota Bekasi, Drs. H. Paray Said, MM, MBA, dihadapan 24 orang pengurus Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) se kota Bekasi, pada acara pelatihan manajemen masjid di hotel Merapi Merbabu, jl. Cut Mutia, Kota Bekasi, Selasa 8 Desember. 
 
Padahal kata Paray Said, jika merujuk pada Masjid Nabawi di Madinah, paling tidak ada sepuluh peranan masjid yang telah diemban masjid Nabawi, yaitu tempat shalat, zikir, komunikasi dan konsultasi ekonomi, budaya, sosial, pendidikan. 
 
Bahkan menurut ketua Yayasan Islamic Center KH. Noer Alie, ini, masjid juga berfungsi untuk tempat latihan perang, persiapan alat alat perang, tempat menahan tahanan perang, hingga tempat perdamaian dan pengadilan sengketa, bahkan tempat pengobatan. 
 
Sejalan dengan apa yang disampaikan Paray Said, aktivis jurnalis Drs. H. Amin Idris menilai masjid memiliki potensi yang besar untuk membangun kekuatan ummat. 
 
Amin Idris menggambarkan, jika di kota Bekasi ada 970 masjid ( data 2014), dengan jamaah rata rata 500 jamaah maka itu akan menjadi kekuatan yang sangat dahsyat kalau dikelola dengan manajemen yang baik. 
 
Bagaimana tidak menjadi kekuatan yang dahsyat kalau setiap jamaah menyerahkan infak, sodaqoh, zakatnya di Masjid secara taratur. Maka akan diperoleh kekuatan dana yang cukup besar. Belum lagi soal sumber daya manusia yang berhimpun di Masjid. Maka tak diragukan lagi kalau DKM menjadi kekuatan yang dahsyat. 
 
Yang jadi persoalan kata mantan wartawan harian Terbit ini, bagaimana membina jamaah sehingga potensi itu betul - betul bisa diberdayakan, tuturnya. 
 
Bagaimana membangun Masjid berbasis Zakat infak, sodakoh, padahal zakat, infak dan sodakoh menjadi sumber dana DKM yang potensial jika dimanage dengan baik. 
 
Bagaimana membangun jamaah berbasis Masjid padahal kita tahu jamaah adalah modal SDM, DKM belum memiliki data jamaahnya. Padahal akan sangat penting jika setiap DKM memiliki data jamaah. Tentu tidak sekedar nama, tapi sebaiknya dkm memiliki data status ekonomi, kompentensi/ keahlian setiap jamaah. 
 
Untuk itulah pentingnya manajemen masjid yang profesional, katanya mengingatkan
 
" Tentu masih banyak hal hal yang harus kita perbaiki untuk membangun masjid yang profesional pungkasnya. ## imran