14
Wed, Apr

Dalam Pendidikan KH. Noer Alie Banyak Berkiblat Ke Muhammadiyah

Wawasan
Typography

TIBYAN.ID, Bekasi - Selama ini banyak masyarakat mengenali KH. Noer Alie sebagai Ulama, Pejuang yang gigih melawan penjajah Belanda, serta pendiri pesantren At Taqwa, di Ujung Harapan, ( dulu populer dengan Ujung Malang) Kecamatan Babelan Kabupaten Bekasi.

Ternyata Ulama Kharismatik penggagas berdirinya Islamic Center KH Noer Alie Bekasi, lebih dari anggapan seperti di atas.

Adalah Al Fathan, yang menguak sosok KH. Noer Alie yang memiliki ketokohan yang jarang dimiliki banyak ulama dan pejuang.

Hal itu terbongkar saat berlangsung bedah buku " Pemikiran Pendidikan KH. Noer Alie,"  di Literacy Coffee Kaliabang Tengah Bekasi Utara, Rabu 27 Januari 2021 kemarin.

Al Fathan menuturkan. Pasca perjuangan kemerdekaan, KH. Noer Alie lebih fokus pada pembangunan pendidikan dan dakwah lewat majelis ta’lim. Bagi beliau kata Fathan, sumber daya insani yang lahir dari satuan - satuan pendidikan  di lingkungan perguruan Attaqwa yang beliau dirikan melahirkan manusia - manusia yang benar - benar pintar, bertaqwa, terampil, yang diharapkan dapat mengisi kemerdekaan dan pembangunan bangsa ke depan.

Itu satu bukti, lanjut Fathan, kalau KH Noer Alie adalah tokoh yang multi aksi.

Untuk mengenali pemikiran KH. Noer Alie, kita harus berangkat dari dua dimensi  yaitu dimensi formal dan dimensi sosial.

Pancingan Fathan itu telah membangkitkan ghiroh alumni Attaqwa untuk lebih giat mensosialisasikan pemikiran KH. Noer Alie Kepada masyarakat.

Diskusi semakin menarik ketika Lukman Hakim alumni Attaqwa menimpali paparan Al Fathan. Menurut Lukman Hakim, salah jika orang berfikiran bahwa KH Noer Alie itu sekedar pejuang yang mendapat gelar pahlawan Nasional.

KH. Noer Alie, selain pejuang dan pahlawan Nasional, ia juga seorang ulama, pendidik, organisatoris, politisi dan berfikiran moderat, imbuh Lukman Hakim.

KH. Noer Alie itu lanjut Lukman Hakim, mengambil ilmu ke Muhammadiyah untuk mengelola pendidikan, itu sebabnya ia mendirikan sekolah di beberapa lokasi di Bekasi, sedang soal ubudiyah KH Noer Alie mengambil contoh ibadah dari NU. Sedang untuk berpolitik ia mengambil Masyumi, tokoh politik yang dikaguminya M. Natsir dan Kasman Singodimejo.

Sukses bedah buku itu tak terlepas dari peran Amin Idris sebagai penggagas, perencana dan pelaksana.

Mantan wartawan Terbit ini sengaja membangun Literacy Coffee untuk tempat ngopi sekaligus untuk tempat bedah buku, dan diskusi.

Dalam waktu dekat ini, di Literacy Coffee sudah diagendakan dua bedah buku. Yang pertama buku, KH. Nurul Anwar, kini sedang proses cetak. Yang kedua, jelang puasa akan dibedah buku " Orang Batak Berpuasa" Tulisan Baharuddin Aritonang, mantan anggota DPR dan BPK.

Banyak orang yang penasaran dengan buku orang batak berpuasa. Seperti apa sih puasa orang batak. Apa ada bedanya dengan puasa umat islam di luar orang batak. Kalau beda, apanya yang beda. Jangan jangan ada kebiasaan orang batak menyambut puasa yang tidak sama. Misalnya marpangir, atau munculnya panganan dari pohon pakkat. Kita tunggu. (Imran Nasution).