23
Fri, Aug

Jamaah Haji Pulang ke Indonesia, Apa yang Harus Dilakukan?

Wawasan
Typography

Setelah melaksanakan serangkaian ibadah haji yang sangat menguras dana, tenaga, emosi, pikiran, tibalah saatnya untuk kembali ketanah air dengan sejuta kenangan meninggalkan tanah suci. 

Selama 40 hari meninggalkan Indonesia, keluarga, kerabat, urusan kantor, anak-anak, organisasi, kegiatan rutinitas, sosial kemayarakatan, bukan perkara mudah. 

Bahkan sementara keluar dari group WA, tidak pasang status di FB, twitter, instagram, semata-mata agar dapat fokus, konsentrasi untuk mengikuti ritual dan prosesi haji. Ibaratnya meninggalkan urusan dunia dan mengejar urusan beribadah untuk mengikuti perintah dan menjauhi laranganNya.

Di sela-sela melaksanakan rukun, wajib dan sunah haji, waktunya dimanfaatkan untuk bermunajat, berdzikir, berdoa, membaca Al Qur'an dan terjemahannya, sholat berjamaah di Masjidil Haram, Nabawi, yang pahalanya berlipat-lipat bukan hanya 27 kali, tetapi 100.000 kali dan 1.000 kali. Selain itu hari-hari diisi dengan hal-hal yang positif, instrospeksi, berserah diri, pasrah, ikhlas, bersyukur, dan menjaga sikap, perilaku. 

Selama tinggal di pemondokan, karena berkumpul selama 40 hari dapat memahami karakter, watak para jamaah satu regu, satu rombongan, yang berbeda-beda sehingga menambah wawasan dan pengalaman dalam pergaulan. 

Mewujudkan sinergi, kekompakan, kerukunan, saling menolong, gotong royong, rasa toleran, asal setiap jamaah dengan "sadar" melepaskan atribut (pangkat, jabatan, kedudukan, status sosial), dan menurunkan "rasa ego", superiornya.

Apalagi semua jamaah sudah merasakan memakai baju ihram yang sama warna putih bersih, sederhana, simple (tidak berjahit) bagi laki-laki, kain putih panjang. Tidak membawa mobil mewah dan sopir pribadinya, kekayaan, rumah, deposito, perhiasan, semua berbaur melakukan thawaf, sai, wukuf di Arafah, mabit di Musdalifah dan Mina, melempar jumrah dengan jalan kaki. 

Apa yang bisa disombongkan ketika jamaah hanya memakai kain selembar berwarna putih? Untuk jamaah perempuan juga memakai baju berwarna putih berjahit yang menutup auratnya kecuali muka dan telapak tangan. Tidak akan kelihatan kalaupun memakai perhiasan emas, berlian, permata, yang menyilaukan mata. Semua jamaah "merasa" mempunyai kedudukan yang sama dihadapan Allah, kecuali takwanya.

Ketika semua itu sudah dijalani dan dirasakan selama melaksanakan ibadah haji, mulai hari ini (Senin, 27 Agustus 2018) secara berangsur-angsur meninggalkan Arab Saudi menuju ke Indonesia. 

Namun menjelang persiapan pulang, di sela-sela sholat wajib dan sunat di masjidil Haram dan Nabawi sangat wajar bila naluri kemanusiaannya muncul untuk memikirkan keluarga, kerabat dengan membelikan oleh-oleh (makanan, souvenir, mainan). Sah dan wajar juga melakukan aksi menghabiskan riyal pun sering terjadi, dan saling tukar uang riyal dengan rupiah diantara sesama jamaah. 

Akibatnya barang bawaan over load, melebihi kapasitas yang telah ditentukan setiap jamaah 32 kg untuk bagasi dan 7 kg tas di kabin. Kalau sudah begini pihak maskapai dan bandara tidak dapat diajak kompromi, demi keselamatan penumpang, barang-barang itu harus dikurangi, dikirim dengan biaya sendiri, ditinggal atau dititipkan jamaah lain (kemungkinan sangat kecil). 

Orang Indonesia yang dikenal suka belanja, saat menunggu jadwal kepulangan ini menjadi berkah tersendiri bagi pedagang di sekitar Masjidil Haram dan Nabawi, dengan aksi jual obral barang-barang dagangannya supaya cepat habis.

Saat ini sebenarnya para jamaah haji tidak perlu kerepotan harus menambah biaya bagasi karena barang-barang untuk  oleh-oleh itu sudah tersedia di Indonesia. 

Di dekat pasar Tanah Abang menjadi grosir penjualan oleh-oleh haji asli dari Arab Saudi, dan di daerah-daerah sudah ada toko-toko yang menjual kurma, lipstik, pernah-pernik yang berciri khas Arab. 

Untuk air zam-zam sudah mendapat jatah tiap jamaah 5 (lima) liter, sehingga dilarang membawa air zam-zam sendiri. Ini perlu diperhatikan oleh para jamaah haji demi keselamatan penerbangan. 

Urusan barang bawaan para jamaah ini sejak dari berangkat sampai pulang masih saja menjadi persoalan yang selalu muncul. Padahal sudah disosialisasikan oleh para pembimbing haji, agar membawa barang sesuai aturan, sehingga proses di bandara dapat lancar, lancar sampai rumah sesuai jadwal.

Selain para jamaah pulang membawa oleh-oleh berupa barang, yang sering dilupakan adalah perubahan lahiriah dan batiniah secara signifikan setelah melaksanakan ibadah haji. Inilah yang  membedakan orang yang sudah berhaji dengan yang belum pernah memenuhi panggilan haji. 

Perubahan secara sosial kemanusiaan (lebih empati, simpati, dermawan) dengan lingkungannya. Kaki ini lebih ringan untuk melangkah sholat berjamaah di masjid terdekat selain memakmurkan masjid juga menjaga ketepatan waktu dalam menjalankan sholat wajib. 

Sikap, karakter, perilaku berubah, yang awalnya kasar, keras, egois, emosi meledak-ledak, menjadi lebih lembut, ramah, santun, menghargai, menghormati orang lain, menjaga hubungan baik antar manusia (horisontal), dan hubungan dengan Alloh SWT (vertikal).

Semakin banyak orang yang telah melaksanakan ibadah haji membuat lingkungan sosialnya semakin kondusif, bekerja semakin rajin, disiplin, jujur, amanah, taat dengan peraturan, taat pada pimpinan, dan menyebarkan "virus" kebaikan. 

Tutur katanya semakin menyejukkan hati orang yang mendengarnya karena penuh dengan nilai-nilai kehidupan, keagamaan, yang menyentuh hati nuraninya. Semestinya virus kebaikan selama menjalankan ibadah haji harus tetap melekat pada setiap jamaah haji dan ditularkan ke lingkungannya, mulai dari keluarga, kerabat, kantor, RT, RW, pedukuhan, desa/kelurahan, kabupaten/kota, propinsi, sampai Indonesia. 

Apalagi tahun politik yang suhunya semakin meningkat ini, para jamaah haji lebih bijaksana mensikapinya, untuk tidak menyebarkan ujaran kebencian, cerdas memilih dan memilah informasi sehat bukan hoaks, dan menghormati pilihan dalam berdemokrasi.

 

(Sumber : Detik.com)