24
Sun, Oct

In Memoriam KH Nur Muhammad Iskandar SQ: Selamat Jalan Abah

Foto: KH Noer Muhammad SQ, pengasuh Ponpes Assiddiqiyah. (Dok Instagram Ponpes Asshiddiyah)

Wawasan
Typography

TIBYAN.ID - Pondok Pesantren Ash-Shiddiqiyah masih berduka. Kiyainya, DR. KH.Nur Muhammad Iskandar SQ kemarin siang meninggal dunia. Secepat kilat berita duka itu menyusup ke jaringan media sosial setiap orang, dan berjuta ungkapan serta doa pun mengalir. Inilah kematian yang husnul khotimah.

Di dalam Alquran surah Ali Imran ayat 185 Alloh menjelaskan tentang kematian, yang artinya; Tiap-tiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung.

Saya yakin, duka di kalangan keluarga besar Pesantren Ash- Shiddiqiyah termasuk di kalangan umat Islam pada umumnya tetap dalam pemahaman bahwa kematian adalah hal biasa dan semua orang pasti memasukinya. Itu hak setiap orang. Termasuk Kyai Nur Iskandar.

Pasalnya, apa yang kita tinggal dari kematian itu ? Nah Kyai Nur Iskandar telah meninggalkan catatan perjalanan dengan hasil yang luar biasa. Selama sekitar 40 tahun berdiri, Ash-shiddiqiyah telah tumbuh di mana-mana. Di Kedoya, di Cengkareng, di Tanah Kusir, di Pluit, di Cianjur, di Bogor, di Lampung, di Palembang, di Medan, di Karawang dan di beberapa daerah lain.

Tidak salah kalau ada yang mengatakan Kyai Nur Iskandar memang tangan dingin dalam mendirikan pondok. Namun sebetulnya, keluarganya adalah kyai-kyai yang bergelut di pondok juga. Di Sumber Beras Banyuwangi, adalah tanah kelahirannya juga pondok yang didirikan ayahnya. Di Kediri juga ada pondok yang dibangun saudaranya.

Perkenalan saya dengan Kyai Nur Iskandar berlangsung lama. Sekitar tahun 1986 saat saya masih menjadi wartawan pemula di Harian Terbit saya sudah dapat penugasan ke Kiyai Nur. Chemisterinya ketemu, akhirnya banyak hal-hal serius urusan pondok, masyarakat, keluarga dan politik sering ada saya.

Bahkan Kyai memberikan kepercayaan kepada saya untuk menuliskan catatan perjalanan hidupnya membangun Ash-Shiddiqiyah. Buku yang merekam bagaimana seorang santri dari desa bisa menaklukkan Jakarta dengan sarung. Bagaimana Jakarta yang rakus tehadap modernitas dan peradaban hedon harus dikenalkan dengan peradaban nyantri dengan kitab kuningnya dan sarungannya. Dari interaksi ini saya menemukan banyak hamparan mutiara kebaikan.

Dari yang banyak itu, saya memilih dua hal saya yang saya tuangkan dalam tulisan ini;

Pertama; Tradisi memberi makan. Dari Kyai Nur saya menyaksikan bagaimana pimpinan pondok Ash-Shiddiqiyah ini tidak ingin ada orang perutnya lapar.

Maka siapa saja yang datang ke rumahnya, ya siapa saja, pasti sapaan pertamanya adalah menjabat tangannya dan menuntunnya ke ruang makan. Tamu serius, wartawan, walisantri, orang dari kampung, bahkan tukang koran atau pedagang asongan yang ada disekitar pondok, kalau dia datang, mengucap salam dan ketika ditanya mau apa dan mau ketemu siapa, pasti selanjutnya diajak makan.

Di rumah Kebon Jeruk, ruang tamunya memang besar. Tapi dibalik pintu ada meja makan yang selalu ready dengan makanan. Ada dua-tiga santri yang bertugas di sini. Jadi, tamu datang lalu ditarik ke meja makan. Bertahun-tahun semasa beliau sehat saya menyaksikan kebiasaan ini.

Termasuk jika kiyai tidak ada di rumah. Santri yang bertugas tetap menyambutnya, menanyakan maksudnya dan mempersilahkan makan, atau mempersilahkan masuk dan menyuguhkan minum. Kalau Kyai sedang tidak ada maka sang tamu sudah kenyang perutnya dan sudah hilang dahaganya. Setelah itu baru dikasih tau, kyai sedang di luar. Mau ditunggu atau mau tinggalkan pesan?

Kedua; amalan singkat tapi mudawwamah. Tanya kepada ribuan santri atau puluhan ribu alumninya, zikir apa yang paling teringat dari Kyai Nur di Pondok. Pasti jawabannya adalah Yasin Fadhilah. Sejak tahun 1986-an saat saya sering mondar-mandir ke Pondok ini, kalau malam jumat seluruh santri membaca surat Yasin Fadhilah dipimpin langsung Kyai Nur. Saat itu, semua acara Kyai, tamu Kyai dan apapun urusan Kyai tidak akan dilayani. Malam jumat adalah malam bersama Kyai dengan seluruh santrinya, membaca Yasin Fadhilah.

Zaenal Arifin, Pimred Radar Bekasi yang pernah lama nyantri di sini membenarkan amalan ini. Dia menambahkan, satu lagi kegemaran Kyai Nur adalah Sholawat Nariyah. Yasin Fadhilah dan Sholawat Nariyah adalah dua kegemaran Kyai Nur yang melekat bersama tumbuh dan berkembangnya ash-shiddiqiyah.

Berawal dari semangat baja dan nekat yang tidak tanggung-tanggung, Kyai Nur menaklukkan jakarta. Santri NU dengan tradisi sarungan memulai debut pengabdiannya di Masjid Al-Muhsinin di Pluit. Pondok yang dibangunnya berawal dari satu santri asal lampung. Anas Tahir, kader PPP yang kini menjadi anggota DPR RI adalah guru pertama-satu-satunya di Ash-Shiddiqiyah. Saat itu Anas masih meniadi mahasiswa di IAIN (kini UIN Jakarta). Kiyai Nur Istiqomah dan tidak mudah lelah. Maka Alloh buka kan jalannya, Ash-Shiddiqiyah pun telah “menggurita.”

Kini, sampailah pada satu keputusan Alloh, Kiyai Nur Muhammad Iskandar SQ dipanggil untuk beristirahat total. Abah, begitu panggilan manis keluarga besar Ash-Shiddiqiyah, memasuki tahap menikmati dari perjuangannya selama di dunia. Selamat jalan Kyai, surga yang Alloh janjikan insya Alloh menjadi tempatmu yang lebih tenang.

“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah (bahwa mereka itu) mati, karena (sebenarnya) mereka itu hidup tetapi engkau tidak menyadarinya.” (amin idris, penulis buku KH Nur Muhammad Iskandar SQ, Pergolakan Mendirikan Pondok Pesantren) #PondokPesantrenAsh- Shiddiqiyah #KHNurMuhammadIskandar